DZI - Lembaga Pemantau Dana Sumbangan di Jerman | Sosial | DW | 17.06.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

DZI - Lembaga Pemantau Dana Sumbangan di Jerman

Masyarakat Jerman rela merogoh kocek guna membantu korban bencana. Tapi, bagaimana menjamin dana sumbangan tidak disalah gunakan?

Puluhan lembaga bantuan Jerman salurkan dana bantuan ke Aceh dan Nias setelah bencana tsunami

Puluhan lembaga bantuan Jerman salurkan dana bantuan ke Aceh dan Nias setelah bencana tsunami

Saat bencana tsunami di Aceh dan Sumatera Utara misalnya, masyarakat Jerman rela mengocek kantong memberi sumbangan. Perhatian warga Jerman terhadap penggunaan dana yang disumbangkannya sangat besar.

Di Jerman ada sejumlah organisasi yang mengevaluasi keabsahan organisasi bantuan. Institut Jerman untuk Urusan Sosial, DZI adalah salah satu diantaranya yang diakui secara internasional. DZI adengan kantor pusat di Berlin adalah lembaga nirlaba independen. Lembaga inisudah berdiri sejak 1893.

Selain memberikan informasi mengenai organisasi bantuan yang dapat dipercaya, DZI memeriksa ornop dan LSM yang bergerak di bidang sosial dan bantuan kemanusiaan. Organisasi bantuan secara sukarela bisa mendaftarkan diri di DZI untuk mendapat pada yang disebut "stempel kelayakan". Predikat ini diberikan DZI setelah melakukan verifikasi atas berbagai kriteria. Masyarakat setiap saat bisa meminta informasi dari DZI tentang kelayakan organisasi bantuan.

Persyaratan untuk mendapat verifikasi dari DZI cukup banyak. Antara lain, penggunaan dana sumbangan secara ekonomis dan hati-hati sesuai kegiatan proyek yang ditetapkan saat meminta sumbangan, pengelolaan dana yang transparan, pemeriksaan data dan bukti pengeluaran oleh auditor independen, penyampaian laporan kegiatan kepada pemberi sumbangan dan permintaan dana sumbangan yang jelas. Selain itu, organisasi itu harus menghargai martabat korban bencana.

Stempel kelayakan DZI sebelumnya hanya diberikan kepada organisasi yang bergerak di bidang bantuan bencana kemanusian. Namun sejak 2004, DZI juga memberikan keterangan mengenai organisasi Lingkungan Hidup. Di Jerman DZI juga memberikan konsultasi untuk pemberi dana sumbangan, yang termasuk informasi tentang organisasi serta tips bagaimana menyumbang dengan aman. Materi cetak dan bantuan penelitian juga tersedia dalam pusat data dan perpustakaan mereka. Agar pemberi dana sumbangan lebih jeli lagi, DZI menyebarkan informasi aktual lewat majalah mengenai pekerjaan sosial “Soziale Arbeit”.

Beberapa waktu lalu, di Indonesia muncul berita tentang dugaan penyalahgunaan dana bantuan untuk Aceh. Salah satu organisasi Jerman yang dituduh melakukan manipulasi bantuan adalah Förder und Interessengemeinschaft Indonesia, atau FIG Indonesia. Ternyata, FIG tidak tercantum dalam daftar DZI sebagai organisasi bantuan yang telah menerima stempel keabsahan. Berkaitan dengan bantuan tsunami ke Aceh dan Sumatera Utara, DZI mencatat 22 organisasi yang mendapat verifikasi.

Berita kontraversial tentang kasus FIG meluas di Jerman setelah organisasi „Ein Herz für Kinder“, organisasi bantuan yang berafiliasi dengan surat kabar populer BILD Zeitung, mengajukan gugatan terhadap FIG ke pengadilan.

Martin Kiessel, wartawan Jermanyang pertama memberitakan tentang kasus FIG menerangkan, proyek-proyek FIG patut diragukan.

Martin Kiessel: „Laporan ini berkaitan dengan organisasi nirlaba, FIG Indonesia. Organisasi menerima 2,2 juta Euro dana sumbangan tsunami untuk membangun rumah, sekolah kapal dan sistem saluran air bersih di Indonesia. Para ahli di lokasi menyatakan bahwa sebagian proyek FIG tidak dikelola dengan baik. Arsitek Swiss, Peter Hedrich membuat dokumentasi foto proyek bangunan FIG yang sangat buruk kwalitasnya. Hal sama dilaporkan organisasi untuk pembangunan desa dan pertanian mengenai kapal-kapal yang dibuat oleh FIG.“

Kiessel sendiri mengaku berusaha beberapa kali mewawancarai ketua organisasi FIG, Yves Dantin, namun gagal. Yang terbongkar adalah bahwa Yves Dantin, yang tercatat sebagai ketua FIG, sebenarnya bernama Juergen Biesenbach. Sejak usahanya tahun 1981, Biesenbach mencatatkan diri ke kantor sosial sebagai orang yang tidak bernafkah dan menerima bantuan sosial dari pemerintah Jerman.

Marianne Klute, anggota LSM Jerman Watch Indonesia! sempat mengunjungi pulau Weh. Ia melakukan pemantauan rpoyek FIG bekerjasama dengan LSM Indonesia GERAK (Gerakan Anti Korupsi) yang selama ini memantau penggunaan dana sumbangan internasional di Aceh.

Marianne Klute: „Saya sendiri ada kesempatan untuk memantau proyek-proyek di Pulau Weh. Waktu itu GERAK serta pihak donor mau memantau status proyek itu dan saya ikut. Menurut investigasi GERAK, ada manipulasi data, ada juga manipulasi dana.“

Watch Indonesia! mulai mengikuti perkembangan kasus FIG setelah dihubungi oleh GERAK.

Setelah bencana tsunami, harian Jerman BILD Zeitung bersama stasiun televisi Jerman ZDF, menggalang dana untuk korban bencana di Asia Tenggara. Dana yang terkumpul dibagikan kepada organisasi bantuan seperti Palang Merah Jerman, Welthungerhilfe, Caritas, Unicef dan Ein Herz für Kinder. Dengan dana itu ornop „Ein Herz für Kinder“ mendanai 29 proyek, salah satunya dikelola oleh FIG.

Proyek yang diajukan oleh FIG adalah untuk melakukan rekonstruksi di Pulau Weh. Proposal dari FIG itu diterima karena mendapat lampu hijau dari Inwent, lembaga yang ditunjuk pemerintah Jerman untuk mempertemukan organisasi pemberi dana dan organisasi pelaksana proyek di lapangan.

Namun Desember 2005, "Ein Herz für Kinder" menerima informasi bahwa FIG tidak menggunakan dana sesuai kesepakatan. Informasi itu mendorong sekelompok donor untuk memantau langsung ke lapangan.