Dunia Prihatin Eskalasi di Timur Tengah | Fokus | DW | 14.07.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Dunia Prihatin Eskalasi di Timur Tengah

Kofi Annan mengirim tim juru runding ke Timur Tengah. Sementara AS memveto resolusi PBB yang mengecam aksi Israel di Gaza.

Desa Bazuriyeh, Lebanon, setelah serangan udara Israel.

Desa Bazuriyeh, Lebanon, setelah serangan udara Israel.

Masyarakat internasional prihatin dan sebagian melontarkan kritik tajam atas meruncingnya krisis di Timur Tengah. Dewan Kepresidenan UE, hari Kamis mengecam aksi militer Israel di Lebanon sebagai jawaban yang tak sepadan terhadap serangan milisi Hisbollah. Sebaliknya Presiden AS George W bush menekankan hal itu merupakan hak Israel untuk membela diri. Namun Bush memperingatkan tindakan-tindakan yang dapat membahayakan pemerintah Lebanon. Sabtu besok (15/07) Sekjen PBB Kofi Annan akan mengirimkan delegasi perantara tingkat tinggi ke Timur Tengah. Mereka akan melakukan segala yang mungkin dilakukan untuk meredakan konflik.

Meruncingnya situasi di Timur tengah, membuat seluruh alarm bahaya di markas besar PBB di New York berbunyi kencang. Sekjen Kofi Annan mengirim tiga pegawai PBB terdekatnya sebagai juru runding ke Timur Tengah, menyusul seruan yang dramatis namun hingga kini tidak membuahkan hasil.

Ketiga orang itu adalah penasihat politik Annan Vijay Nambiar, utusan PBB untuk Timur Tengah Alvaro de Soto dan Terje Roed Larsen, utusan khusus untuk Suriah dan Lebanon. Tim penengah itu akan singgah dulu di Kairo untuk bertemu para Mentri Luar Negeri Liga Arab, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Israel. Sementara itu, AS menggagalkan resolusi PBB terhadap Israel. Pemungutan suara untuk menyetujui resolusi tersebut, diveto Amerika. Resolusi itu diajukan oleh Qatar mewakili negara-negara Arab yang mengecam penyerbuan militer Israel ke gaza selama 2 minggu dan mendesak agar segera menghentikannya. Hasil suara bagi draft resolusi tersebut 10 banding 1. Satu yang menolak itu adalah AS dan 4 memilih abstain, yaitu Inggris, Denmark, Peru dan Slovakia. Duta Besar AS di PBB John Bolton mengatakan: "Kami sudah katakan sebelumnya, bahwa kami tidak melihat manfaat apapun dari resolusi atau tindakan lain dari dewan, menyangkut situasi di Gaza".

Veto itu merupakan yang pertamakali dilakukan Bolton sejak bertugas di markas besar PBB sebagai wakil Washington, hampir setahun lalu. Menjelaskan soal veto itu, Bolton menegaskan pembelaan AS terhadap aksi militer Israel di Lebanon. Ia mengatakan, Israel bereaksi atas serangan teror dan melakukan pembelaan diri.

Resolusi itu sendiri menuntut pembebasan tanpa syarat dari tentara Israel yang disandera sebelumnya, juga penarikan segera tentara israel dari gaza dan pembebasan puluhan pejabat pemerintahan Palestina yang ditahan Israel.

Pengamat Palestina di PBB Riyad Mansour berargumen, DK PBB semestinya melihat aksi militer di Gaza sebagai hal yang terpisah dari krisis di sepanjang perbatasan Israel-Lebanon. Krisis itu muncul ketika gerilyawan Hisbullah menangkap 2 tentara Israel. Israel membalas dengan gelombang serangan militer ke Lebanon yang menewaskan puluhan warga sipil. Sementara Hisbullah menembakkan 80-an roket ke sekitar 20 kota di Utara Israel. Situasi di kawasan itu semakin panas.