Dunia Makin Canggih, Makin Marak Pula Aksi Pembajakan Produk | Sosial | DW | 01.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Dunia Makin Canggih, Makin Marak Pula Aksi Pembajakan Produk

Negara-negara di dunia memiliki hukum atas kasus kejahatan pembajakan hak cipta produk. Namun beberapa negara menerapkan aturan ini dengan tidak begitu ketat.

Pemusnahan sekitar sejuta pasang sepatu di Hamburg November 2006

Pemusnahan sekitar sejuta pasang sepatu di Hamburg November 2006

Peringkat tertinggi untuk kasus pembajakan produk diduduki oleh Cina. India, Brasil dan Indonesia juga tidak ketinggalan menjadi surga bagi aksi kejahatan ini. Negara yang memiliki hukum atau aturan yang baik untuk masalah pembajakan produk adalah Amerika Serikat, Inggris dan Jerman. Namun demikian masih dirasa sulit untuk dapat memberantas jenis kejahatan ini di beberapa bagian negara.

Sebuah kongres internasional melawan kejahatan pembajakan produk baru-baru ini digelar di Jenewa, Swiss. Kongres tersebut diselenggarakan oleh organisasi internasional yang mengurusi masalah pembajakan hak cipta, World Intelectual Property Organisation WIPO.

Tiga lemari pajangan dipamerkan di depan lobi ruang kongres internasional "Anti Pembajakan Produk“ di Jenewa. Di dalamnya dipenuhi tiruan barang-barang terkenal. Diantaranya coklat, yang benar-benar tidak ada bedanya dengan produk aslinya, wiski, kampas rem, telefon genggam lengkap dengan tulisan "Ini Barang Asli dan Bergaransi Penuh.“

Juga masih ada barang-barang lain yang sering juga ditiru: obat-obatan yang dijual lewat internet dan dapat mengakibatkan kematian, seperti misalnya obat kuat Viagra. Yang menarik disini adalah barang tersebut dikemas dengan tanda hologram yang menunjukan bahwa barang tersebut asli. Hologram itupun ternyata dipalsukan. Dan juga ada produk-produk lainnya yang biasa diperjualbelikan seperti pasta gigi, sikat gigi, shampoo, sabun dan lain-lain.”

Bahkan barang-barang bertemakan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan yang belum berlangsungpun, sudah dipalsukan. Demikian diungkapkan Christoph Zimmermann dari Organisasi Bea Cukai Dunia. Sebelum maraknya kasus pembajakan produk seperti sekarang ini, dulu yang dipalsukan biasanya hanya barang-barang mewah saja. Namun kini dengan kecanggihan teknologi untuk membajak produk, hampir semua barang bisa ditiru.

Sepanjang tahun 2006, telah dirazia sekiatr 75 juta produk palsu di perbatasan luar Uni Eropa. Sementara itu seperempat obat-obatan yang beredar di seluruh dunia, menurut badan Perserikatan Bangsa-bangsa yang mengurusi masalah kesehatan WHO, dipalsukan. Akibatnya bisa sangat berbahaya. Begitu dikatakan Wolfgang Starein dari organisasi internasional yang mengurusi masalah pembajakan hak cipta, World Intelectual Property Organisation WIPO.

"Pemalsuan produk banyak disepelekan, apalagi oleh para konsumen yang tidak merasakan akibatnya. Bisa jadi produk obat yang mereka konsumsi adalah produk obat palsu. Yah, seperti bermain rolet Rusia. Tapi secara umum ancaman bahaya semakin besar. Masyarakat senang sekali membeli produk tiruan karena mereka pikir lebih murah. Semuanya menjadi tidak lucu ketika orang-orang itu sadar pemalsuan produk dapat mengancam lapangan kerja mereka."

Surga pembajakan antara lain Cina dan Rusia. Saat ini pemerintah Jerman yang merasa dirugikan turut berusaha memberantas pemalsuan produk. Selain itu, Konferensi Tingkat Tinggi KTT G8 yang rencananya diselenggarakan di Heiligendamm, di bagian utara Jerman, rencananya juga akan mengangkat tema pembajakan produk dalam agenda pembicaraannya.