Dubes Arif Havas Oegroseno: Kerusuhan Pemilu Indonesia Hanya di Media Sosial | Fokus | DW | 19.04.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Pemilu 2019

Dubes Arif Havas Oegroseno: Kerusuhan Pemilu Indonesia Hanya di Media Sosial

Duta besar Indonesia untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno, menjadi tamu siaran DW News dan berbicara tentang Indonesia pascapemilu 2019, terutama mengenai konservatisme dalam politik di Indonesia.

Pemilu serentak yang digelar di Indonesia hari Rabu (17/04) menarik perhatian media di Jerman karena dalam satu hari, sebanyak 193 juta pemilih menentukan tak hanya presiden namun juga parlemen. Dinamika selama proses pemilu 2019 menarik perhatian warga Jerman. Meski hasil resmi perhitungan surat suara masih baru keluar bulan Mei, sejumlah lembaga hitung cepat mengindikasikan Presiden Joko Widodo yang unggul. Berikut rangkuman wawancara Arif Havas Oegroseno dengan DW News, Kamis (18/04).

Deutsche Welle (DW): Prabowo mengklaim kemenangannya dan para pendukungnya akan turun ke jalanan. Apakah Anda khawatir akan terjadi kerusuhan?

Arif Havas Oegroseno (KBRI Berlin)

Dubes Indonesia untuk Jerman Arif Havas Oegroseno

Arif Havas Oegroseno: Sebenarnya tidak. Ini pernah terjadi sebelumnya. Banyak omongan seperti ini, namun tidak terjadi apa-apa. Jika ia mau keliling Jakarta atau kemana pun, keadaan tetap tenang. Menurut saya perseteruan dan desas-desus ini kebanyakan hanya ada di grup Whatsapp atau media sosial seperti Twitter dan Facebook, tapi kenyataannya, praktik demokrasi ini sebenarnya berlangsung cukup meriah. Orang-orang mengenakan kostum superhero, pakaian adat, dan ada musik juga di bilik pemilihan. Jadi, kenyataannya benar berbeda.

Perhitungan sementara tampaknya menyatakan bahwa Joko Widodo unggul, dan dapat memberikan Jokowi kepemimpinan periode kedua. Apakah ini baik untuk Indonesia?

Menurut saya yang terpenting adalah mereka berhasil mengorganisir dan menyelenggarakan pemilu ini dengan baik. Ini pemilu yang paling kompleks di dunai. Pemilu satu hari ini memilih presiden, wakil presiden, partai politik, anggota legislatif, dan juga anggota parlemen. Itu semua terorganisir dengan baik dan menurut saya, karena pemerintah lima tahun mendatang harus meneruskan program-program sebelumnya, mereka akan lebih mudah untuk menyesuaikan diri.

Dulu Joko Widodo menjanjikan untuk menaikkan angka ekonomi sampai tujuh persen dan ia tidak mampu memenuhi target. Para petani merasa tidak ada kenaikan atas pendapatan mereka. Ada juga kritik yang mengatakan bahwa Joko Widodo belum melakukan cukup banyak hal untuk melindungi kelompok minoritas. Apa yang dapat kita harapkan di lima tahun mendatang menurut Anda?

Saya rasa lima tahun mendatang kita akan melihat banyak perkembangan sumber daya manusia, karena empat setengah tahun ini fokusnya adalah infrastruktur. Dan Anda harus bisa mengerti mengapa kami hanya dapat mencapai lima persen. Kami mencapai 5,1 persen di tengah krisis, ancaman perang, dan ketidakpastian yang ada di seluruh dunia. Jadi, sebenarnya kondisi kami sudah cukup baik dibanding keadaan perekonomian negara lain.

Tonton video 04:10

Wawancara DW News dengan Dubes Arif Havas Oegroseno

Saya ingin bertanya tentang peran agama Islam. Ada beberapa kekhawatiran atas kedua kandidat ini. Joko Widodo, dianggap sebagai sosok Islam moderat. Namun kedua kandidat mengincar dukungan kelompok Islam konservatif. Seberapa besar peran Islam konservatif di Indonesia?

Orang-orang lupa rentang waktu analisis ini. Mereka hanya melihat keadaan yang sekarang. Tahun 1955, Indonesia punya 17 partai politik berbasis Islam dan saat ini hanya ada 4. Angka pemilih partai politik berbasis Islam ini pun terus menurun. Tidak ada ideologi Islam dalam sistem politik Indonesia, kami menyebut ideologi kami nasionalisme—yang mungkin terdengar kurang baik di Eropa—sebut saja partai politik patriotisme atau sekuler. Lalu ada isu kepemimpinan; kami selama ini tidak pernah mempunyai sosok pemimpin dengan acuan Islam. Kemudian isu tentang pemberian layanan sosial yang dikerjakan lebih efektif oleh pemerintah. Dan juga tentang sejarah Indonesia dan keragaman budaya kami yang amat besar.

Tapi mengapa Prabowo membuat aliansi terhadap kaum Muslim garis keras? Dan mengapa Presiden Joko Widodo yang sendirinya adalah seorang Muslim moderat, memilih sosok ulama ternama sebagai rekannya?

Alasannya adalah media sosial. Kelompok minoritas mulai memasuki mainstream dan kelompok mayoritas biasanya diam. 

Isu ini menjadi penting, meskipun hanya di media sosial, yang di mana juga merupakan wadah dari negara demokrasi seperti Indonesia. Apakah kelompok mereka (Islam konservatif -Red) mempunyai agenda untuk berkuasa?

Jika ideologinya tidak ada, mereka akan sangat vokal. Tetapi saya tidak yakin mereka mampu untuk menyebarluaskan ideologi mereka ke politik internasional. Perhitungan sementara menunjukkan sebagian besar Muslim memberi dukungannya ke PDI-P, sebuah partai patriotisme sekuler yang didirikan oleh presiden pertama kami. Kedua tertinggi diduduki oleh Partai Golkar, yang juga merupakan sebuah partai sekuler. Partai sekuler benar-benar memimpin di Indonesia. (ck/vlz)

Interview dilakukan oleh Sumi Somaskanda dan Biresh Banerjee. 

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait