Dua Tahun Kematian Munir | Fokus | DW | 08.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Dua Tahun Kematian Munir

Sejak awal, misteri di balik kematiannya yang tidak wajar menyiratkan adanya persengkongkolan.

Masih diragukan, apakah Pollycarpus pelaku tungal pembunuh Munir.

Masih diragukan, apakah Pollycarpus pelaku tungal pembunuh Munir.

Belakang ini, nama Munir kembali diteriakkan dalam berbagai acara yang menandai dua tahun meninggalnya pejuang hak asasi manusia itu. Munir tewas dalam pesawat Garuda dalam penerbangan dari Jakarta ke Amsterdam, 7 September 2004. Dalam jenasah peraih penghargaan The Right Livelihood, yang disebut sebagai Nobel alternativ itu, ditemukan kandungan racun arsenik.

Dua tahun telah berlalu dan pertanyaan intinya tetap tak terjawab: siapakah yang sesungguhnya membunuh Munir? Barangkali, formulasi pertanyaan yang lebih tepat adalah, mengapa begitu sulit mengungkap kasus pembunuhan Munir? Anggota Tim Pemantau Kasus Munir dari DPR, Trimedya Panjaitan mengatakan,

"Kendalanya kan sebetulnya sangat klasik menurut saya. Penyidik selalu mengatakan, Munir meninggal di Belanda, sehingga pola TKP sulit. Kemudian nama-nama dari data-data komunikasi Pollycarpus yang bisa sampai ke tangan polisi dianggap kurang kuat untuk mengungkap kasus ini lebih besar lagi."

Salah satu temuan penting Tim Pencari Fakta Kasus Munir adalah, adanya komunikasi lewat telepon berkali-kali antara Pollycarpus dengan Muhdi PR, mantan Deputi V Badan Intelejen Negara. Namun, entah kenapa, pemeriksaan terhadap Muhdi dihentikan. Pollycarpus diganjar 14 tahun penjara. Tapi hampir tidak ada yang percaya, pilot Garuda yang dituduh meracun Munir itu merupakan pelaku tunggal. Menurut Trimedya Panjaitan, mandeknya pengungkapan kasus pembunuhan Munir bermuara pada kurangnya niat politk pemerintah. Padahal setahun lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri berjanji kepada Suciwati, istri Munir, akan mengerahkan segala upaya untuk mengungkap pembunuhan Munir.

Suciwati: "Begitu diketahui ini pembunhan politik, presiden langsung memberikan janji itu. Ia mengatakn, ini adalah sejarah baru untuk membuktikan bahwasannya bangsa ini berubah atau tidak. Itu yang kita dengar sebagai janji seorang presiden."

Menurut Suciwati yang Kamis (08/09) kemarin menemui Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Komisaris Jenderal Makbul Padmanagara, pihak kepolisian berdalih, upaya penyidikan selama ini tidak dapat berjalan maksimal karena tidak ada saksi yang bersedia memberikan keterangan.

Sehari sebelumnya, Suciwati dan sejumlah pengacara melayangkan gugatan terhadap PT Garuda Indonesia yang dianggap tak mampu melindungi kliennya, dalam kasus ini adalah Munir. Juni lalu, Suciwati mengkampanyekan pengungkapan kasus kematian suaminya ke sejumlah negara Eropa, Australia dan Amerika Serikat. Ia memang bertekad akan terus memperjuangkan pengungkapan kasus pembunuhan terhadap suaminya, walaupun jalan yang dilalui panjang dan berliku.

Suciwati: "Saya pikir, semua orang pasti di satu titik tertentu akan merasa lelah, capek, itu pasti. Tapi semangat yang terus menerus saya ingat dari almarhum, bahwasannya kita tidak boleh menyerah untuk menentang ketidakadilan. Inspirasi yang selama ini saya terima itu, tidak mengenal putus asa, untuk terus menerus memperjuangkan ini. dan saya juga belajar dari banyak keluarga korban, bagaiman mencari keadilan itu memang sangat-sangat mahal, sangat-sangat panjang. Pasti itu."