Dari Palembang Lewat Jakarta untuk Mengajar Bahasa Indonesia di Jerman | NEGERI ORANG: Kisah unik warga Indonesia di Jerman | DW | 25.12.2021

Kunjungi situs baru DW

Silakan kunjungi versi beta situs DW. Feedback Anda akan membantu kami untuk terus memperbaiki situs DW versi baru ini.

  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Negeri Orang

Dari Palembang Lewat Jakarta untuk Mengajar Bahasa Indonesia di Jerman

Andi Nurhaina awalnya tidak punya rencana dan cita-cita untuk mengajar, juga tidak punya cita-cita ke Jerman. Tapi dia sekarang sudah jadi dosen Bahasa Indonesia lebih dari 20 tahun.

Andi Nurhaina

Andi Nurhaina (tengah)

Andi Nurhaina kelahiran Palembang. Dia bercerita, seorang kakaknya menyebut diri mereka “Pugis Kesuma,” singkatan dari putri Bugis kelahiran Sumatra. Dia mengaku tidak berani menyebut diri orang Bugis karena merasa lebih mengenal kota Palembang. Selain itu, walaupun masih mengerti bahasa Bugis, mengingat sudah 20 tahun lebih tinggal di Jerman, dia tidak pernah memakai bahasa itu lagi. Sedangkan bahasa Palembang masih dia gunakan. 

Bagi Andi Nurhaina bagus sekali jika orang sejak kecil sudah terbiasa menggunakan beberapa bahasa. Sehingga begitu dewasa dan pindah ke kota atau negara lain, orang sudah terbiasa untuk tidak terpaku pada satu bahasa saja, dan lebih mudah menyesuaikan diri. Di lain pihak dia juga menyayangkan, bahwa dia tidak menguasai bahasa ibunya, yaitu bahasa Bugis, dan dengan demikian juga tidak dapat meneruskan bahasa ini kepada anak-anaknya.

Masa sekolah dari SD sampai SMA dia lewatkan di Palembang, setelah selesai SMA dia tidak tahu akan berkuliah apa. Sebetulnya dia ingin menjadi seniman karena dia senang menggambar, tetapi ketika teman-temannya semua ikut Sipenmaru (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru), dia ikut mendaftar. Berhubung sekedar mendaftar, dia tidak ingat lagi waktu itu memilih jurusan apa dan di universitas mana.

Hijrah ke Jakarta untuk berkuliah di IKIP

Ketika berjalan-jalan ke Jakarta mengunjungi kakaknya, kebetulan seorang tetangga melihat pengumuman penerimaan Sipenmaru, dan menunjukkan bagian koran yang memuat daftar penerima Sipenmaru kepada ayahnya. Ternyata dia diterima untuk berkuliah jurusan bahasa Jerman di IKIP Jakarta. “Ya sudah saya coba deh. Kalau enak saya teruskan, kalau engga ya saya kabur lagi ke Palembang,” kata Andi Nurhaina sambil tertawa.

Ternyata dia suka sehingga diteruskan sampai selesai. Kebetulan juga, Goethe-Institut punya kerja sama dengan IKIP Jakarta, sehingga mahasiswa IKIP bisa mengikuti kursus tanpa harus membayar. Dari Goethe-Insitut jugalah, dia mendapat beasiswa untuk kursus bahasa Jerman di Jerman, yaitu di kota München.

Ketika sedang mengikuti kursus bahasa Jerman, dia dihubungi oleh Goethe-Institut Jakarta, karena kebetulan ada penawaran pendidikan untuk jadi guru bahasa Jerman. Jadi setelah kembali dari Jerman, Andi Nurhaina langsung memulai pendidikan untuk jadi guru bahasa Jerman di Goethe-Institut Jakarta. Itu tahap pertamanya. Sedangkan tahap keduanya adalah pendidikan tentang Landeskunde atau wawasam kejermanan di kota München.

Di antara pendidikan kedua tahap itu, dia sempat mengajar bahasa Jerman selama setahun di tingkat dasar atau Grundstufe. Saat itu, atasannya di bagian bahasa di Goethe Institut sudah mengatakan, akan menempatkan dia untuk mengajar di tingkat yang lebih tinggi, yaitu tingkat menengah atau Mittelstufe. Ketika itu dia panik. “Bahasa Jerman saya masih terbata-bata begini, disuruh mengajar di tingat menengah.“

Ia kemudian berniat melanjutkan kuliah satu semester di München setelah pendidikan tahap kedua selesai untuk memperbaiki kemampuan berbahasa Jermannya. Berhubung Goethe-Institut tidak menawarkan beasiswa untuk program di universitas, dia memutuskan untuk membiayai sendiri. Maka setelah selesai pendidikan, dia mulai berkuliah di jurusan sastra Jerman di Ludwig-Maximilians-Universität München.

Andi Nurhaina

Andi Nurhaina (tengah)

Berusaha membiayai sendiri kuliah di Jerman

Walaupun ayahnya menawarkan akan membiayai kuliahnya, Andi Nurhaina menolak karena ketika itu Indonesia sedang dilanda krisis moneter. Jadi dia bertekad membiayai sendiri kuliahnya dengan bekerja di kantor urusan kerja sama internasional di Universitas München. Kebetulan sekali atasannya ketika itu adalah penggemar Indonesia. Dialah yang memberitahukan kepada Andi Nurhaina tentang lowongan kerja sebagai pengajar Bahasa Indonesia di Fachhochschule Konstanz.

Ketika itu dia malas untuk melamar, karena berpikir setelah satu semester dia akan kembali ke Indonesia. Tapi atasannya ternyata tidak pantang mundur. “Setiap kali ketemu ditanya lagi. Ketemu lagi, ditanya lagi,“ tutur Andi Nurhaina. Si atasan berkeras, kalau melamar dia akan menambah pengalaman juga, apalagi kalau sampai dipanggil untuk wawancara. Jadi akhirnya dia melamar, dan ternyata dipanggil.  

Dalam prosesnya, dia diberi kesempatan mengajar selama 30 menit. Walaupun sudah tidak mengajar selama dua tahun, Andi Nurhaina merasa kembali menemukan kesenangannya dalam mengajar. Tapi baru 15 menit, dia sudah dipersilahkan untuk menyelesaikan pelajaran. Jadi dia berpikir, mungkin mereka tidak suka. Saat wawancara, hanya dua atau tiga pertanyaan yang diajukan relevan dengan urusan mengajar. “Pertanyaan lainnya: Sudah keliling Konstanz belum? Sudah ke pasar natal belum? Ini orang kalau sudah tidak berminat, ya sudah, suruh saja keluar. Supaya saya bisa jalan-jalan di pasar natal!“ Begitu pikirnya ketika itu.

Tapi ternyata dua hari kemudian dia dihubungi. Tepatnya pagi itu dia dibangunkan oleh dering telefon dari Konstanz. Ternyata setelah menit kesepuluh mengajar, para penguji sepakat bahwa dia terpilih untuk mengisi lowongan itu. “Anda dapat pekerjaan ini. Anda bersedia?“ Berhubung masih setengah tidur, dia tidak sempat berpikir, jadi setuju saja. Sehari kemudian surat penerimaan sampai. “Wah ternyata benar. Kemarin itu bukan mimpi.“ Begitu kata Andi Nurhaina ketika mengingat lagi pengalamannya. Jadi dia beralih dari mengajar bahasa Jeman menjadi pengajar Bahasa Indonesia. Itu perubahan dan tantangan besar bagi Andi Nurhaina.

Mengajar bahasa Jerman ternyata lebih mudah

Ketika ditanya, lebih susah mana, mengajar bahasa Jerman atau Bahasa Indonesia, dia mengatakan, seharusnya bahasa Jerman. Tapi kenyataannya tidak demikian, melainkan sebaliknya. “Karena kita belajar bahasa Jerman dari nol sampai ke tingkat lanjut,“ papar Andi Nurhaina dan menambahkan, “Jadi kita bisa menempatkan diri di posisi orang yang baru mulai belajar.“ Hal lain yang membuat mengajar bahasa Jerman mudah adalah, sumber untuk mengajar sangat banyak dan sudah mutakhir. Jumlah buku yang bisa dipakai juga puluhan. Sedangkan bahan untuk mengajar Bahasa Indonesia bagi penutur asing tidak banyak.

Namun demikian, Andi Nurhaina melihat perkembangan pembelajaran BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) yang cukup pesat pada 10 tahun terakhir. Di Jerman sendiri telah terbentuk APPBIPA (Afiliasi Pengajar dan Pegiat BIPA) cabang Jerman yang berusaha mengakomodasi kebutuhan para pengajar BIPA di Jerman dan di negara berbahasa Jerman lainnya, yaitu Swiss dan Austria. Di samping itu Badan Bahasa juga memfasilitasi dengan pengadaan bahan ajar daring yang dapat diakses di mana-mana.

Selain aspek bahan ajar tentu ada tantangan lain. “Mengajar mahasiswa Indonesia dengan mengajar mahasiswa Jerman tentu sangat berbeda,“ tutur Andi Nurhaina. Mahasiswa Indonesia bisa dibilang penurut. “Disuruh apa saja mau,“ katanya. Tapi menghadapi mahasiswa Jerman berbeda tantangannya. “Mereka kritis. Banyak bertanya. Kalau kita terlalu sensitif mungkin akan merasa, ngeri-ngeri sedap juga mengajar orang Jerman.“ Mereka sering bertanya, mengapa begini, mengapa begitu, kata Andi Nurhaina lebih jauh lagi.  

Andi Nurhaina mengajar di kelas

Andi Nurhaina mengajar di kelas

Selain itu, mahasiswa Jerman sering menanyakan kaidah. “Tapi saya tidak mau langsung memberikan kaidah. Karena kita belajar bahasa untuk berkomunikasi. Kalau sudah punya cukup banyak kosakata, baru kita lihat kaidahnya.“ Yaitu untuk menghindari supaya mereka tidak mencoba menggunakan kaidah pada tempat yang salah, demikian tutur Andi Nurhaina lebih lanjut.

Dalam mengajarkan bahasa Indonesia, dia juga berusaha mengajak mahasiswa Jerman untuk bernyanyi. Dalam hal itu, tentu mahasiswa Indonesia juga lebih antusias, kata Andi Nurhaina. Tapi dia tidak peduli, dan tetap terus berusaha memotivasi mahasiswanya untuk bernyanyi. “Saya senang bernyanyi, dan saya juga ingin agar mereka merasakan kesenangan saat bernyanyi.“ Untungnya sering berhasil! Andi Nurhaina bertutur bagaimana dia merasa sangat senang, jika mahasiswanya yang awalnya sangat serius akhirnya bersedia bernyanyi.

Akibat pandemi, tentu saja sekarang proses belajar-mengajar berjalan “online“ dan ini adalah tantangan besar, terutama dari segi komunikasi dengan para mahasiswa. Selain itu, komunikasi antar mahasiswa juga mengalami kendala besar. “Saya kasihan sekali dengan para mahasiswa. Terutama dengan yang memulai studi di masa pandemi. Mereka tidak pernah melihat kampus dari dalam.” 

Selain itu, sebetulnya di dalam program studi di HTWG Konstanz tercakup studi selama setahun di Asia Tenggara. Dan itu adalah bagian studi yang sudah ditunggu-tunggu oleh semua mahasiswa. “Banyak mahasiswa yang kembali dari Asia Tenggara, dari Indonesia mengatakan, ini adalah tahun terbaik mereka.“ Dan pengalaman itu tidak bisa dirasakan oleh para mahasiswa selama pandemi. “Saya bisa merasakan frustasi mereka.“

Tantangan mengajar di masa pandemi

Dia bercerita, kesulitan mengajar secara daring adalah, mahasiswa yang merasa sungkan untuk menyalakan kamera. Walaupun akhirnya, setelah dipaksa secara halus mereka semua mau mengaktifkan kamera. Selain itu, proses berkuliah dari rumah juga mudah terganggu karena orang bisa teralih perhatiannya dengan mengecek ponsel dan melihat hal-hal lainnya di komputer. “Mereka akan lebih mudah mencerna pelajaran, jika situasinya dibuat nyaman. Dan itulah yang sulit jika kuliah secara online.“ begitu dijelaskan oleh Andi Nurhaina. Supaya mahasiswa tetap berkonsentrasi, dia menggunakan permainan dan berbagai aplikasi dalam pelajaran.

Tapi proses mengajar lewat komputer seperti lazimnya di zaman pandemi juga punya keuntungan. Misalnya, dia bisa menjenguk kelas dosen lain, serta mengikuti berbagai kegiatan informatif seperti Temu BIPA Daring yang diadakan oleh APPBIPA cabang Jerman. Dengan cara itu para pengajar bisa saling mendapatkan masukan serta trik mengajar yang belum digunakan sebelumnya. Sebaliknya, dosen lain juga bisa datang menjenguk proses kuliah di kelasnya. Ke depannya, hal ini akan semakin dia giatkan. “Dulu saya merasa seperti anak hilang, mengajar sendirian,“ kata Andi Nurhaina. Mereka juga membahas Bersama kesulitan teknis, atau kesulitan lainnya, seperti bagaimana cara menggunakan bahan ajar berupa buku untuk pengajaran di kelas daring.

Belajar menghargai hal-hal kecil

Tantangan lain yang dihadapi oleh Andi Nurhaina adalah mengatur dan membagi waktu antara pekerjaan, kehidupan bersama keluarga, sosialisasi dengan teman dan kolega, serta kegiatan organisasi. Ditambah lagi dengan kegiatan representatif yang berhubungan dengan Indonesia di kota Konstanz. Membagi waktu untuk semua kegiatan dan tetap bisa menikmati semuanya merupakan tantangan besar bagi dia.

Di Jerman dia kerap merindukan sinar matahari, karena di Jerman langit kerap tertutup awan, apalagi saat musim dingin. Orang juga tampak serius dan sibuk dengan diri sendiri. “Tapi oleh sebab itu, jika melihat orang lain tersenyum kepada saya rasanya berbunga-bunga.“ Sementara di Indonesia, tersenyum kepada orang lain, walaupun yang tidak kita kenal, sudah biasa saja. Jadi di Jerman, dia belajar menghargai hal-hal kecil.

Sebaliknya, Andi Nurhaina bercerita, dulu ketika di Indonesia, jika dia memegang sebuah apel, dia segera merasa senang. “Wah pokoknya segar, juicy, saya senang.” Sedangkan di Jerman, jika dia memang sebuah apel, dia mulai berpikir, “Apakah ini organik? Dan jika apel itu ternyata organik, saya akan berpikir, loh kok dibungkusnya pakai plastik?! Terus dari mana? Loh kok diimpor dari jauh?“ Dia mengaku, “Saya tidak tahu, apakah kalau saya tetap di Indonesia saya akan berpikir sekritis itu.“ Dampaknya bagi lingkungan tentu besar, juga terhadap orang lain. Jejak karbonnya nanti bagaimana? Plastiknya dibuang ke mana? Dan lain-lain, dan lain-lain. Itu juga hal lain yang baginya seperti pengetahuan baru yang dia dapat di Jerman. Ternyata tidak semudah itu merasa bahagia dan menikmati sesuatu, kalau kita juga memikirkan dampaknya. (ml/hp)