1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Dokter Tanpa Batas Negara Rayakan Hari Jadi ke-40

20 Desember 2011

20 Desember 1971 para dokter dan jurnalis Perancis berkumpul di Paris mendirikan lembaga bantuan, Médecins sans frontières (MSF) atau Dokter Tanpa Batas Negara. Tahun ini MSF merayakan hari jadi ke-40.

https://p.dw.com/p/13VwY
Kantor perwakilan Dokter Tanpa Batas Negara di Khartoum, Sudan. (Foto: AP)
Kantor perwakilan Dokter Tanpa Batas Negara di Khartoum, Sudan.Foto: AP

Situasi aktual di wilayah barat Pantai Gading disoroti organisasi Dokter Lintas Batas atau MSF baru-baru ini dalam video singkat yang dimuat di laman internet mereka. Pemerintah Pantai Gading waktu itu meminta untuk pulang 300 ribu warganya yang mengungsi akibat kerusuhan awal tahun lalu. MSF memutuskan membuka kembali rumah sakit di dekat perbatasan dengan Liberia. Di daerah itu terdapat banyak orang yang menderita penyakit jiwa dan syarat. Demikian dijelaskan psikolog Jean-Pierre Kouadis yang bekerja untuk MSF.

"Kami menangani penderita depresi berat dan gangguan kecemasan, beberapa di antaranya parah. Karena sejumlah pasien mengalami krisis pertama yang terjadi 2002, dan tidak bisa mencernanya. Kerusuhan baru tahun 2010 dan 2011 membuat mereka kembali terguncang," kata Kouadis.

Bulan April lalu, para pekerja Dokter Lintas Batas menyelamatkan 99 orang di Misrata. Waktu itu berkecamuk perang antara kelompok perlawanan Libya dan pasukan pro Gaddafi.

Kegiatan lain MSF adalah perawatan pasien HIV/AIDS di Malawi. Dokter Lintas Batas memulai proyek HIV/AIDS di Malawi pada Agustus 2001. Ketika organisasi dokter itu didirikan tahun 1971, misi AIDS di Malawi masih belum ada, karena AIDS belum ditemukan. Organisasi itu memberikan bantuan terhadap bencana kelaparan di Biafra, Malawi. Waktu itu pun, istilah penugasan kemanusiaan masih belum umum. Istilah itu kemudian dipopulerkan oleh organisasi Dokter Lintas Batas atau MSF. Rony Brauman mulai bekerja untuk MSF tahun 1970an. Tahun 1982 hingga 1994 Brauman menjadi pemimpin organisasi Dokter Lintas Batas.

Ia menjelaskan, "Ketika saya datang ke MSF, organisasi ini masih sangat kecil. Berkantor di satu ruang seluas 40 meter persegi, sekretarisnya pun bekerja setengah hari. Waktu itu organisasi ini menyalurkan dokter dan perawat ke organisasi bantuan lainnya. Kami tidak punya dana untuk melaksanakan program sendiri. Awalnya kami seperti penyalur tenaga kerja kemanusiaan."

Pada tahun 1977 situasi berubah ketika organisasi itu mengelola kampanye besar pertamanya. Brosur pertamanya memperlihatkan anak yang memandang dengan tatapan tajam di balik jeruji ranjang. Di bawahnya tertulis, “Dokter Lintas Batas, di ruang tunggunya duduk dua juta pasien.“ Sejak itu mulailah mengalir masuk sumbangan, MSF akhirnya mendapatkan dana untuk melaksanakan programnya.

Rony Brauman memaparkan tujuan penting MSF untuk tetap mandiri dan tidak berpihak pada siapa pun. Katanya, "Bagi institusi kemanusiaan seperti MSF sangat penting untuk bersikap sama terhadap setiap pihak yang bertikai. Apakah itu pasukan helm biru, atau militer Barat. Apakah itu orang yang berbicara seperti organisasi non pemerintah, tentang kesetaraan gender, akses perawatan kesehatan untuk perempuan, perang melawan korupsi, pembangunan fasilitas sanitasi, dan seterusnya. Orang yang bermaksud baik. Tapi kami harus mengumpulkan energi dan mengatakan, kami tidak bertujuan untuk mengubah masyarakat Afghanistan. Tapi kami hadir untuk menyediakan layanan medis bagi mereka yang tidak punya akses. Siapa pun, apakah itu petani miskin, Taliban, atau prajurit Amerika atau Jerman."

Memperingati 40 tahun hari jadi Dokter Lintas Batas, organisasi itu meluncurkan buku berisi pengalaman mereka. Terdapat pula diskusi mengenai kompromi apa yang boleh diambil organisasi kemanusiaan ketika melakukan tugasnya.

Suzanne Krause/Luky Setyarini

Editor: Renata Permadi