Documenta - internasional, monumental dan radikal | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 16.06.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Sosbud

Documenta - internasional, monumental dan radikal

documenta 12 berlangsung selama tiga bulan dari 16 Juni hingga 23 September. Ajang seni rupa berbagai aliran ini mengangkat wacana yang menjadi acuan dunia seni.

documenta 12 di Istana Wilhelmshöhe

documenta 12 di Istana Wilhelmshöhe

Apa itu pameran documenta? Roger Martin Buergel, kuratornya saat ini, mungkin akan menjawab, sebuah pameran besar. Namun sebenarnya yang ia persiapkan tidak semudah itu, karena biasanya pameran seni digagas secara khusus. Kadang kurator yang menentukan arah pameran itu, mencari kaitan dengan pameran yang sebelumnya atau pameran-pameran lain.

Seringkali, kurator dengan sangat sengaja mempersiapkan pamerannya agar berbeda dengan pameran lain. Hal ini tidak selalu karena si kurator berusaha menarik perhatian publik yang luas. Melainkan tergantung pada pandangannya mengenai seni. Meski begitu di documenta, baik pengunjung yang diharapkan datang maupun karya yang dipamerkan bersifat internasional. Oleh sebab itu, tidak aneh bila kuratornya berupaya mengangkat tema yang dinilai menggugah banyak orang.

Tahun 1955, Arnold Bode, seorang profesor seni rupa merancang sebuah pameran yang dapat menyorot lukisan-lukisan karya Picasso, Matisse, Cezanne dan berbagai pelukis Eropa lainnya.

Selama rejim Nazi berkuasa di Jerman, karya-karya mereka dilarang untuk dipamerkan. Pemerintahan Nazi hanya mengangkat seni yang dapat mempropaganda kehebatan dan ideologi kaumnya. Karenanya Bode menilai penting, bahwa karya-karya abstrak dan impresionis, yang termasuk dalam seni modern kembali bisa dipamerkan.

Arnold Bode memberi nama “documenta” pada pameran pertama yang diselenggarakan dalam rangka pameran kebun se-Jerman. Pakar kesenian Katrin Stengel menilai,

„Saya pikir waktu itu pun ia mengharapkan bahwa semuanya akan berhasil. Dan keberhasilan itu terlihat justru karena ada documenta ke dua yang menyusul, meskipun sebenarnya tidak ada orang yang percaya bahwa itu akan terjadi.“

Demikian Karin Stengel, pemimpin arsip documenta yang juga mempublikasi sejarah documenta, mencatat bahwa gagasan Arnold Bode dan sejarawan Werner Haftmann berhasil menarik 130 ribu pengunjung. Menurut Karin Stengel,

“Pemikiran Werner Haftmann itu penting, karena ketika itu -sesudah jaman perang- memang ada kepentingan untuk menjadikan lukisan-lukisan abstrak sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Di sini Haftman ingin menunjukan bahwa seni rupa adalah bahasa yang mendunia.”

Arnold Bode dan Werner Haftman, secara bergantian dan kadang bersama-sama bertindak sebagai kurator empat pameran documenta yang pertama. Sesudah itu kurator documenta dipilih setiap lima tahun sekali oleh dewan yang terdiri dari lima orang.

Documenta bukan saja terkenal karena karya-karya yang ditampilkan. Melainkan karena cara karya tersebut dipresentasikan. Di pameran-pameran yang berlangsung pada ditahun 50 dan 60-an, Arnold Bode menggunakan elemen-elemen dekorasi, seperti tirai, latar belakang warna-warni untuk memberikan nuansa khusus kepada karya-karya yang dipajang. Pengunjung dihadapkan dengan ruangan yang membangun atmosfir khusus untuk dialami.

Dalam sejarah documenta, kurator Harald Szeeman diingat sebagai orang yang memulai gagasan-gagasan besar yang berpijak pada gabungan teori seni, sosial dan politik. Tahun 1972, Harald Zeeman menyelenggarakan documenta ke lima dengan motto ”mempertanyakan realita – gambaran-gambaran aktual”. Sejak itu setiap documenta dirancang berdasarkan gagasan dan motto khusus. Karin Stengel menjelaskan:

„Dengan Harald Szeeman terjadi perubahan besar. Ia menunjukkan kesenian orang-orang yang sakit jiwa. Ia pamerkan satu seri judul utama harian Spiegel, poster-poster, benda-benda yang oleh banyak orang dianggap norak, pokoknya produk segala bidang yang sebelumnya tidak dianggap sebagai benda seni. Lalu ia menempatkannya sebagai karya yang setara dengan lukisan, yang tentunya pada masa itu hanya dihasilkan oleh seniman. Dan memang jadi heboh“

Pertanyaan yang diajukan oleh Szeeman di documenta ke lima itu, menohok publik dan juga banyak seniman yang sudah mapan. Di lain pihak, konsep Szeeman membuka peluang bagi pelaku seni lain.

“Sebelumnya fotorealisme itu gaya melukis yang terpandang. Jadi sangat menarik ketika dalam documenta 5, ia menunjukan seni minimalis, seni pertunjukan, seni video dan seluruh bentuk seni yang baru itu kepada publik. Bila kita membaca reaksi media, yang tertangkap di situ adalah bahwa documenta ke lima merupakan skandal bagi banyak orang.”

Seperti hampir semua kurator lainnya, Harald Szeeman hanya mengembangkan satu pameran documenta. Sementara kurator documenta 6, Manfred Schneckenburger sempat dua kali terpilih untuk posisi itu. Ia mengangkat karya-karya foto, film dan video dalam documenta ke-6 dan k- 8. Disamping lelang karya seni yang berlangsung di documenta, juga aksi-aksi membuat publik deg-degan.

Tahun 1979 seniman Jerman, Joseph Beuys memompa madu ke dalam ruangan Museum Fridericianum, yang digunakan untuk pameran documenta 6. Sedangkan Walter der Maria membor lubang sedalam 100 meter di tanah, menyebutnya “kilometer bumi” dan menuangkan tembaga ke dalamnya. Pendapat yang gencar dipromosi adalah bahwa seni harus bisa berekspresi dalam ruang yang luas.

Karakter happening muncul di documenta pada tahun 1992, ketika Jan Hoet menjadi kurator. Waktu itu documenta memamerkan karya-karya di alam terbuka. Namun kritik terhadap documenta juga meningkat, banyak pakar seni yang menilai pameran di masa Jan Hoet terlalu populis, dan mendesak agar unsur teoritis dikembalikan. Meski begitu, direktur documenta Bernd Leifeld justru menilai pameran tersebut sebagai sukses besar. Pasalnya pengunjung yang datang membludak. Buat dia, jumlah pengunjung sangat penting bagi kas pemasukan documenta. Pada documenta lalu jumlah pengunjung mencapai 650 ribu orang. Bernd Leifeld,

“Sebagai institusi, documenta berbeda dengan pameran seni lainnya, karena ada unsur event dan unsur teoritis yang amat kuat. Hal itu juga yang menunjang pamor documenta sebagai tolok ukur dunia kesenian. Yakni karena menjadi forum bagi intelektual kesenian, di pihak lain tetap merupakan acara heboh untuk peminat seni rupa. Dalam mempersiapkan documenta kedua unsur inilah yang amat perlu diperhatikan dan selama ini terlihat bahwa documenta memang pameran sangat berhasil, karena selalu menarik banyak pengunjung. Target saya untuk documenta ini, supaya pengunjungnya lebih banyak dari tahun lalu, dan itu akan menunjukan adanya peningkatan”

Demikian Bernd Leifeld. Sekarang ini documenta bak perusahaan saja. Omsetnya mencapai jutaan dolar. documenta ke-12 diperkirakan akan memutar sekitar 19 juta Euro. Separuh dari jumlah itu harus didanai dari karcis masuk dan sumbangan sponsor.

Menghadapi globalisasi ini, seni kembali mengambil posisi politis. Sejak documenta ke-10 yang dikurasi oleh Katherine David, satu-satunya kurator perempuan untuk documenta selama ini, pameran documenta kembali menjejak pada tema-tema yang lebih global.

Pamornya sebagai pameran internasional kian menguat, dengan disorotnya karya seniman dari Afrika dan Latin Amerika. Namun yang paling membedakan documenta dengan pameran seni rupa besar yang lainnya adalah gagasan para kurator yang seringnya masih terkait dengan ide awal Arnold Bodes ini. Bernd Leifeld,

“Saya melihat bahwa para tokoh kesenian memandang tinggi institusi documenta, dan ini merupakan salah satu hal yang di masa depan akan memperkuat institusi ini.”