DK PBB Versus Korea Utara | Fokus | DW | 06.07.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

DK PBB Versus Korea Utara

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa akan menghukum uji coba roket Korea Utara, tapi sementara ini belum berencana menjatuhkan sanksi.

Bendera Korea Utara yang berhias roket - hasil olah grafis

Bendera Korea Utara yang berhias roket - hasil olah grafis

Dalam sidangnya, kelima anggota tetap Dewan Keamanan belum sepakat akan bentuk hukuman bagi Korea Utara. Rusia dan Cina mengusulkan dikeluarkannya pernyataan, sementara tigabelas anggota lainnya meminta sebuah resolusi yang mengikat. Korea Utara bukanlah Iran, yang ingin terlibat krisis eskalasi dengan Washington di pantai Jepang ataupun memiliki potensi ancaman yang besar.

Sementara kekhawatiran Amerika Serikat masih terkendali setelah gagalnya uji coba roket jarak jauh Korea Utara, negara tetangganya Jepang merasa benar-benar terancam.

Oleh sebab itu Duta Besar Jepang untuk PBB Kenzi Oshima mengajukan sebuah teks resolusi, yang mengecam keras rangkaian uji coba. Dan juga mendesak Pyongyang untuk segera melakukan pembicaraan dengan Dewan Keamanan PBB, antara lain dengan Cina, Rusia dan Amerika Serikat.

Selain itu masyarakat internasional harus mencegah segala bentuk dukungan untuk program roket. Jepang sendiri menurut Oshima, setelah tindakan uji coba yang provokatif telah melangkah lebih jauh dengan menjatuhkan sanksi

Kenzi Oshima: „Larangan berlabuh bagi semua kapal Korea Utara di pelabuhan Jepang dan larangan masuk bagi semua wakil resmi Korea Utara.“

Meskipun demikian hukuman atau sanksi dengan suara bulat dari Dewan Keamanan merupakan kata-kata yang membuat Beijing dan Rusia tidak tenang. Duta Besar Rusia untuk PBB Vitaly Tschurkin, sejauh ini tidak tahu menahu soal sanksi tersebut dan juga tidak percaya akan mendengar sanksi itu.

Seandainya pun tema tersebut dibahas, Cina juga akan menyatakan tidak.

Meskipun demikian Beijing dan Moskow menunjukkan sikap resah dengan penembakan roket Korea Utara, yang puing-puingnya juga jatuh di kawasan Rusia. Demikian dikatakan Tschurkin.

Tapi sekarang kewajiban utama Dewan adalah bersikap tenang dan bijaksana.

Vitaly Tschurkin: „Kami harus tetap berpegang pada tujuan dan tidak terlalu cepat emosi.“

Rusia, Jepang dan Amerika Serikat sepakat: Korea Utara harus kembali melakukan pembicaraan dengan anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Tapi Duta Besar Rusia itu mengelak menyebutkan bentuk dialog yang jelas

Vitaly Tshurkin: „1998 dalam situasi serupa diberikan pernyataan pers dari Dewan Kepresidenan. Pernyataan presidial tampaknya lebih berpengaruh daripada sebuah resolusi“

Dan juga Cina ingin mengacu pada kasus tahun 1998 tersebut. Dulu, sebuah pernyataan cukup untuk menunda gerakan Korea Utara, sampai 4 Juli 2006.

Reaksi Dewan Keamanan memang cepat, keras dan pasti dijatuhkan, seperti yang diharapkan Duta Besar Jepang. Tapi apakah sampai besok hanya dikeluarkan resolusi ringan atau sebuah pernyataan, masih belum jelas. Yang pasti, tidak ada yang membela tindakan Korea Utara. Demikian dikatakan Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, John Bolton.