Diragukan Soal Deteksi, Kemenkes Jelaskan Sistem Contact Tracking Tangkal Corona | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 28.02.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

COVID-19

Diragukan Soal Deteksi, Kemenkes Jelaskan Sistem Contact Tracking Tangkal Corona

Kemenkes menjawab kekhawatiran global tentang tidak ditemukannya kasus positif COVID-19 di Indonesia. Kemenkes klaim lakukan pemeriksaan spesimen untuk mengecek COVID-19 dari 44 rumah sakit di 22 provinsi di Indonesia.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan hingga saat ini tidak ada kasus penderita COVID-19 di Indonesia. Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto, memberikan tanggapan terhadap permintaan global yang ingin agar Indonesia meningkatkan pendeteksian dan penanganan virus corona.

Menurut Yuri, segala langkah pendeteksian virus corona yang dikeluarkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah dilakukan oleh otoritas Indonesia sesuai prosedur.

Kepada DW Indonesia, ia mengatakan Kemenkes melakukan contact tracking atau pelacakan kontak terhadap semua orang yang masuk ke Indonesia dan berasal dari daerah positif virus corona.

‘’Manakala kita menduga adanya kasus, kita mengenalnya dengan ODP (Orang dalam Pemantauan),’’ ujar Yuri.

Bila ODP tersebut jatuh sakit di kemudian hari, maka Kemenkes memasukkannya dalam kategori Orang Dalam Pengawasan. Dalam konteks pengawasan, maka akan dilakukan pemeriksaan spesimen COVID-19.

‘’Sudah ada 134 yang kita periksa dan seluruhnya negatif, kalau kita lihat sebarannya dari spesimen yang dikirim dari 44 rumah sakit di 22 provinsi artinya bahwa kewaspadaan kita itu sudah seluruh Indonesia bukan hanya pada daerah-daerah tertentu,’’ sebutnya.

Lebih jauh, Yuri menyebut alasan mengapa Indonesia belum menemukan suspect corona. 

Menurutnya, terminologi yang dipakai untuk menyebut seseorang itu sebagai suspect adalah pasien dengan riwayat kontak positif, bukan orang yang berasal dari terduga daerah terjangkit.

Display Thermal Scanner di Bandara Soetta

Monitor suhu tubuh penumpang di Bandara Soekarno-Hatta

Pengawasan ketat bandara

Yuri memaparkan bagaimana sistem contact tracking yang dilakukan dalam rangka pencegahan penyebaran virus corona di Indonesia.

‘’Semisal ada orang entah itu WNI atau turis datang ke Soekarno-Hatta dan dia berasal katakanlah dari Cina, maka begitu sampai di bandara apabila terbukti dia demam dengan keluhan-keluhan mengarah ke sana, maka kita meminta imigrasi untuk mereka dikembalikan ke negaranya,’’ jelasnya.

Menurutnya, sudah ada 117 orang yang dikembalikan ke negara asal dan dilarang masuk ke Indonesia. Sedangkan orang yang memenuhi syarat masuk Indonesia akan diberikan Health Alert Card (HAC) atau Kartu Kewaspadaan Kesehatan. Penumpang akan ditanya tujuan kunjungannya selama di Indonesia.

‘‘Kalau misalnya dia katakan mau ke Bali dari Jakarta, maka kemudian HAC ini kita informasikan ke bandara di Bali. Karena penerbangan Jakarta-Bali itu kan domestik bukan internasional. Tetapi kita sudah memiliki manifes yang kita tandai,‘‘ jelasnya.

Yuri menegaskan semua penumpang diawasi, namun pengawasan paling ekstra dilakukan terhadap penumpang dari negara-negara yang confirmed positif virus corona dan kasusnya menjadi banyak di negara tersebut.

‘‘Memang (penumpang) dianggap tidak diawasi karena memang kita menginginkan semua nyaman, tapi thermal scanner kita dengan monitor yang di dalam itu akan mengawasi seluruhnya. Karena bukan scan saja tapi juga foto yang kita ambil, kita ambil infrared untuk mengukur suhu setelah itu foto sehingga kita bisa mendapatkan gambar wajah dari orang yang bersangkutan,’’ jelasnya kepada DW Indonesia.

Botol hand sanitizer di Bandara Soetta

Tiga botol hand sanitizer disediakan petugas untuk digunakan penumpang di Bandara Soetta

Pantauan langsung tim DW

Tim DW Indonesia, Caesarianda Kusumawati yang melakukan perjalanan dari Amsterdam menuju Jakarta, telah mendokumentasikan sistem pemeriksaan penumpang setibanya di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis (27/02).

‘‘Kalau di Asmterdam tidak ada (pemeriksaan berlebihan) benar-benar gitu saja. Sampai di bandara Soetta biasanya kan dikasih satu lembar bea cukai kali ini dikasih tambahan yang isinya Health Alert Card warna kuning, disuruh isi dalam kurun waktu 14 hari kita traveling kemana saja, setelah itu ditanya datang dari negara mana saja, nomor penerbangan, nomor seat terus ditanyain juga ada kolom kecil, kondisi kita sekarang ada batuk, demam, mual, sakit leher dan lain-lain,‘‘ jelas Caesa.

Caesa menyebut ada thermal monitor yang dipasang untuk menampilkan suhu tubuh penumpang, serta disediakan tiga hand sanitizer. Namun Caesa menyebut tidak dilakukan pemeriksaan menggunakan thermo gun atau alat yang ditembakkan ke dahi penumpang untuk mengukur suhu tubuh.

''Biasanya saya kalau terbang dari Amsterdam bisa lewat jalur Eropa karena punya residence permit (izin tinggal), tapi sekarang tidak boleh. Lagi ada examination jadi saya lewat jalur all passports,'' jelasnya.

Menurutnya tidak terasa pemeriksaan berlebihan, namun ia mengatakan semua petugas bandara memakai masker. Situasi penerbangan hingga bandara juga terasa sangat sepi.

''Ini mungin agak disiplin, kalau kertas bea cukai kita tidak isi kadang-kadang sama mereka di lolosin kalau kertas kuning ini semua disuruh isi dulu baru boleh lewat. Ada juga antrian padet karena orang tidak langsung isi di pesawat jadi ketahan di bawah harus isi dulu,'' jelasnya.

Sementara di negara tetangga seperti Singapura, dilansir dari laman resmi bandara Changi, Departemen Kesehatan Singapura (MOH) telah mengeluarkan travel advisory kepada penumpang yang tiba di Singapura. Mulai 1 Februari 2020, 11:59 malam, semua pengunjung baru dengan riwayat perjalanan ke daratan Cina dalam 14 hari terakhir tidak akan diizinkan masuk ke Singapura atau transit melalui Singapura. pkp/gtp