1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Bencana

Dilanda Wabah Malaria, Lombok Deklarasikan Darurat Kesehatan

17 September 2018

Pemerintah Kabupaten Lombok Barat mendeklarasikan situasi darurat setelah Malaria mewabah di tenda penampungan pengungsi dan menjangkiti lebih dari 130 orang. Kini pemerintah fokus pada tindak pencegahan.

https://p.dw.com/p/34yj7
Pengungsi gempa bumi di salah satu kamp penampungan di Lombok
Pengungsi gempa bumi di salah satu kamp penampungan di LombokFoto: picture-alliance/AA/A. Rudianto

Wabah Malaria merajalela di Lombok Barat dan menjangkiti sedikitnya 137 orang. Korban yang tertular juga mencakup perempuan hamil dan balita.

Penyakit yang ditularkan nyamuk ini terutama menyebar di tempat-tempat penampungan pengungsi, pasca gempa bumi yang meluluhlantakkan kawasan timur dan barat Lombok. Angka infeksi Malaria di Lombok saat ini mencapai dua kali lipat lebih tinggi ketimbang periode yang sama tahun lalu. Akibatnya pemerintah kabupaten Lombok Barat mendeklarasikan darurat kesehatan untuk wilayahnya.

Baca Juga:Bagaimana Atlet Lombok Berjuang Demi Kebahagiaan Korban Gempa 

Sejauh ini pemerintah lokal dan Kementerian Kesehatan telah mengambil langkah mencegah penyebaran Malaria dengan mengambil sampel darah, mendistribusikan jaring anti nyamuk dan mengasapi sejumlah titik penyebaran penyakit.

Salah satu kasus menimpa Amaq Aniyah, 65, yang didiagnosa mengidap malaria setelah merasa tidak sehat selama sepekan. Akibat gempa merubuhkan rumahnya awal Agustus silam, dia terpaksa tinggal di tenda penampungan. Relawan medis pun membagi-bagikan jala anti nyamuk kepada penghuni kamp seperti Amaq.

"Idealnya kami memberikan jala nyamuk kepada semua orang, tapi karena kami hanya punya beberapa jadi kami harus selektif," kata Farlin, relawan medis yang telah bertugas di Lombok sejak Agustus lalu. Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid, mengatakan pihaknya hanya memiliki 3.000 jala nyamuk, meski yang dibutuhkan melebihi 10.000 jala.

Dengan mendelarasikan darurat kesehatan, Kabupaten Lombok Barat berhak mendapat dukungan dana dari pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. Besarnya dana yang dibutuhkan untuk mencegah wabah merajalela ditaksir senilai 3,4 milyar Rupiah untuk tahap awal.

"Kemunculan wabah ini adalah sesuatu yang luar biasa," kata Rahman Sahnan Putra, Kepala Dinas Kesehatan Lombok Barat. Kondisi itu dibenarkan Marjito, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat. "Kami melakukan pengujian darah secara massal. Semua masyarakat diperiksa," ujarnya.

Baca Juga:Merekayasa Nyamuk Kebal Malaria 

Pemerintah mengatakan akan menanggulangi fenomena Malaria sebagai "wabah standar." Artinya korban yang terinfeksi akan dirawat dan lingkungan di sekitar tempat hidupnya akan disterilkan dari berbagai jenis nyamuk. Kondisi hidup korban yang tinggal di tenda dan tidak menikmati masa tenang atau pola tidur berkualitas membuat mereka rentan terhadap kemunculan wabah, kata Marjito.

"Ketika korban yang terinfeksi malaria lemah, maka di situ masalahnya muncul," katanya sembari menambahkan pemerintah telah memetakan area dengan wabah malaria agar bisa mempercepat proses distribusi jala nyamuk sebagai tindak pencegahan.

rzn/ap (afp,rtr)