Diboikot dan Merugi, Ritel H&M Bertekad Raih Kembali Pasar Cina | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 31.03.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

perdagangan

Diboikot dan Merugi, Ritel H&M Bertekad Raih Kembali Pasar Cina

Selama ini, Cina menjadi pasar ketiga terbesar bagi H&M. Namun komentar ritel itu tahun lalu tentang dugaan kerja paksa di Xinjiang berujung boikot yang sangat merugikan.

Dua orang berjalan di depan toko Adidas dan H&M di Cina

Ilustrasi toko H&M di Cina

Raksasa merek pakaian asal Swedia H&M mengatakan, pihaknya akan melakukan "segalanya" guna mengatasi boikot di Cina yang dipicu oleh keputusannya untuk berhenti membeli kapas dari Xinjiang karena dugaan kerja paksa.

H&M dan merek fesyen terkenal lainnya mendapat kecaman di Cina, karena pernyataan yang menyuarakan keprihatinan tentang tuduhan pelanggaran ketenagakerjaan di ladang kapas di wilayah paling barat negara itu. Selama ini, selebritas dan perusahaan teknologi di Cina menjalin kemitraan dengan H&M, Nike, Adidas, Burberry, dan Calvin Klein. Namun empat perusahaan itu dilanda aksi boikot di Cina terkait isu etnis Uighur. H&M bahkan dihapus dari aplikasi belanja Cina.

Boikot ini menurunkan drastis omset penjualan H&M, yang melaporkan kerugian dalam neraca triwulanan. Pada periode Desember-Februari raksasa ritel Swedia itu mencatatkan kerugian sekitar 159 juta US Dolar (sekitar Rp 2,4 triliun). Selain boikot, pandemi juga memaksa banyak toko H&M tutup. H&M mengatakan, akan mendedikasikan diri untuk kembali meraih kepercayaan para konsumen di Cina.

Peritel mode terbesar kedua di dunia itu dikecam konsumen dan pejabat di Cina setelah pernyataan H&M yang dibuat pada tahun 2020 muncul kembali di media sosial. Dalam pernyataan itu, H&M mengungkapkan keprihatinan atas laporan "tuduhan kerja paksa" di wilayah barat Xinjiang, dan mengatakan tidak akan lagi mengambil kapas dari daerah itu.

Pendapatan H&M anjlok

Sebagai pasar penting, Cina adalah pasar terbesar ketiga H&M sebelum boikot. Negara itu memasok sekitar 6% pendapatan H&M, sekitar 10% toko H&M di seluruh dunia berada di Cina. 

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis bersamaan dengan laporan triwulan pada hari Rabu (31/03), H&M mengatakan bahwa komitmennya ke Cina tetap kuat dan didedikasikan untuk mendapatkan kembali kepercayaan para pelanggan, kolega, dan mitra bisnis di sana. Harga saham H&M ikut anjlok sebesar 2% di awal perdagangan pada hari yang sama.

"Kami bekerja sama dengan kolega kami di Cina untuk melakukan segala yang kami bisa untuk mengelola tantangan saat ini dan menemukan jalan ke depan,” tulis H&M dalam sebuah pernyataan. "Kami berdedikasi untuk mendapatkan kembali kepercayaan pelanggan, kolega, dan mitra bisnis kami di Cina.” Pernyataan terbaru itu tidak secara spesifik menyebutkan masalah Xinjiang. 

"Cina adalah pasar yang sangat penting bagi kami dan komitmen jangka panjang kami untuk negara itu tetap kuat," kata H&M, sekaligus menggarisbawahi bahwa merek busana itu telah hadir di Cina selama lebih dari 30 tahun.

"Kami ingin menjadi pembeli yang bertanggung jawab, di Cina dan di tempat lain, dan sekarang sedang membangun strategi berwawasan ke depan dan secara aktif mengerjakan langkah-langkah selanjutnya yang berkaitan dengan sumber material."

Antara HAM dan kepentingan ekonomi

Aktivis hak asasi manusia mengatakan lebih dari satu juta warga etnis Uighur dan sebagian besar etnis minoritas muslim lainnya ditahan di kamp-kamp interniran di Xinjiang, di mana mereka juga dipaksa bekerja di pabrik dan ladang kapas.

Para petani kapas di Xinjiang, Cina

Partai Komunis yang berkuasa di Cina sempat menyerukan boikot terhadap sejumlah merek pakaian dan sepatu karena komentar atas dugaan kerja paksa petani kapas di Xinjiang

Sementara analis RBC Capital Markets, Richard Chamberlain mengatakan; "Kami telah melihat merek-merek seperti Nike dan H&M mengatasi kontroversi serupa di masa lalu dan mempertahankan penjualan yang relatif kuat, namun dalam jangka pendek kami pikir H&M mungkin melihat dampak negatif pada penjualannya di pasar Cina yang besar dan berkembang. 

Selain perusahaan-perusahaan itu, tim Olimpiade Australia adalah yang terbaru terlibat dalam konflik terkait pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang. Pasalnya, negara itu baru saja mengungkapkan seragam untuk para atletnya di Olimpiade Tokyo yang akan datang yang bermerek ASICS. Perusahaan pembuat pakaian tersebut telah menghadapi berbagai kritik atas pemakaian kapas dari wilayah Xinjiang.

Wakil presiden panitia olimpiade pun mengatakan pihaknya telah diyakinkan bahwa tidak ada kapas yang berasal dari wilayah itu.

ae/as (Reuters, AFP)

Laporan Pilihan