Oxfam: 10 Orang Terkaya di Dunia Makin Kaya di Tengah Pandemi COVID-19 | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 18.01.2022

Kunjungi situs baru DW

Silakan kunjungi versi beta situs DW. Feedback Anda akan membantu kami untuk terus memperbaiki situs DW versi baru ini.

  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Wabah Corona

Oxfam: 10 Orang Terkaya di Dunia Makin Kaya di Tengah Pandemi COVID-19

Meningkatnya ketidaksetaraan "menghancurkan dunia kita," menurut badan amal anti-kemiskinan. Elon Musk, Jeff Bezos, Mark Zuckerberg, dan Bill Gates termasuk di antara orang-orang terkaya di dunia.

Elon Musk

Selain Jeff Bezos, Elon Musk termasuk ke dalam daftar 10 orang terkaya di dunia

10 orang terkaya di dunia menggandakan kekayaan mereka selama pandemi COVID-19 ketika kemiskinan dan ketidaksetaraan melonjak, sebuah studi Oxfam mengungkapkan pada Senin (17/01).

Badan amal yang berfokus pada memerangi kemiskinan global itu, mengatakan kekayaan 10 pria terkaya secara kolektif meroket dari $700 miliar menjadi $1,5 triliun, dengan laju sekitar $1,3 miliar per hari.

Sementara kekayaan miliarder dunia telah melonjak, orang-orang termiskin di dunia menghadapi keadaan yang bahkan lebih mengerikan.

"Lebih dari 160 juta orang diproyeksikan telah terjerumus ke dalam kemiskinan," menurut makalah "Ketidaksetaraan Membunuh," yang diterbitkan menjelang pertemuan Forum Ekonomi Dunia di Davos, yang pada tahun 2022 diadakan secara online karena pandemi masih berlangsung.

'Kekerasan ekonomi menghancurkan dunia'

Makalah Oxfam menyatakan bahwa meningkatnya ketidaksetaraan ekonomi, gender, dan ras, serta perbedaan yang ada di antara negara-negara "mencabik-cabik dunia kita."

"Ini bukan kebetulan, tetapi pilihan: 'kekerasan ekonomi' dilakukan ketika pilihan kebijakan struktural dibuat untuk orang-orang terkaya dan paling berkuasa. Ini menyebabkan kerugian langsung bagi kita semua, dan orang-orang termiskin, perempuan dan anak perempuan, dan rasisme. kelompok paling terdampak," penulis makalah melanjutkan.

"Tidak pernah begitu penting untuk mulai memperbaiki kesalahan dari ketidaksetaraan ini dengan merebut kembali kekuasaan elit dan kekayaan ekstrim termasuk melalui perpajakan - mendapatkan uang itu kembali ke ekonomi riil dan menyelamatkan banyak nyawa," kata Direktur Eksekutif Oxfam International Gabriela Bucher.

"Pandemi COVID-19 telah mengungkapkan secara terbuka motif keserakahan, dan peluang melalui cara politik dan ekonomi, di mana ketidaksetaraan ekstrem telah menjadi instrumen kekerasan ekonomi," tambah Bucher.

Zuckerberg dan Gates terus meraup kekayaan

Meskipun harga saham turun secara dramatis pada tahap awal pandemi virus corona, bank sentral dan pemerintah di seluruh dunia segera menerapkan paket stimulus, memberi mereka dorongan baru.

Selain itu, perusahaan teknologi seperti Amazon, Google, dan Facebook mengalami peningkatan laba yang besar karena semakin banyak orang yang bekerja dari rumah dan berbelanja online.

Penulis makalah menyerukan pembatasan kekayaan ekstrem melalui perpajakan progresif, langkah-langkah penghilang ketidaksetaraan yang terbukti, serta pergeseran kekuatan dalam ekonomi dan masyarakat.

Forbes mencatat 10 orang terkaya di dunia, yakni: pemilik Tesla dan SpaceX Elon Musk, Jeff Bezos dari Amazon, pendiri Google Larry Page dan Sergey Brin, Mark Zuckerberg dari Facebook, mantan CEO Microsoft Bill Gates dan Steve Ballmer, mantan CEO Oracle Larry Ellison, AS investor Warren Buffet dan kepala grup mewah Prancis LVMH, Bernard Arnault.

Masalah metodologi

Oxfam mendasarkan temuannya pada Credit Suisse Global Wealth Report dan Forbes Billionaires List. Studi Forbes menggunakan nilai aset individu termasuk properti, tanah, dan saham perusahaan dikurangi utang untuk melihat apa yang dimiliki orang. Bentuk pendapatan lain bukan bagian dari persamaan.

Metodologi ini juga digunakan oleh Oxfam ketika menentukan tingkat kemiskinan global. Metodologi ini mendapat kecaman di masa lalu, dengan beberapa kritikus berpendapat bahwa cara itu menciptakan definisi yang dipertanyakan tentang siapa yang miskin dan siapa yang tidak.

Salah satu argumen menyatakan bahwa sulit untuk mengelompokkan tingkat kemiskinan seorang siswa yang mungkin memiliki tingkat hutang pinjaman siswa yang tinggi dengan seorang petani berpenghasilan rendah di Cina.

ha/hp (AP, AFP, dpa, Reuters)

Laporan Pilihan