1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Sosial

Pergi Ke Jerman Untuk Belajar Pertanian

Arti Ekawati
23 Juli 2018

Apa yang membuat Standy Christianto asal Purwokerto, Jawa Tengah meninggalkan kota kecilnya untuk melanjutkan kuliah master pertanian di Universitas Bonn, Jerman?

https://p.dw.com/p/31pbn
Bonn - Indonesischer Student in Deutschland (DW)
Foto: DW/A. Ekawati

Perbedaan cara pandang antara Jerman dan Indonesia mengenai pertanian menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Standy saat berkuliah di Jerman. Saat ini Standy, 29 tahun, sedang menempuh program master di Institute of Crop and Science Resource Conservation di Universitas Bonn. Mengapa berkuliah pertanian hingga jauh ke Jerman dan apa saja yang Standy rindukan dari kampung halamannya? Berikut kisah Standy seperti dituturkannya kepada DW.

DW: Mengapa ingin kuliah jurusan pertanian di Jerman?

Standy Christianto: Saya tertarik dengan jurusan ini karena awalnya saya bekerja di NGO (organisasi nonpemerintah) dan saya melihat bahwa pemerintah Jerman sangat memberikan perhatian terhadap pertanian berkelanjutan di Indonesia, dan saya berharap bisa menjadi jembatan antara pemerintah Indonesia dan Jerman.

Manfaat dari penelitian kamu di Jerman untuk masyarakat Indonesia nantinya apa?

Tesis saya berjudul "integrasi analisis sistem agroforestri di Indonesia". Jadi dengan ini kita bisa menghitung risiko keuntungan dan kerugian secara ekonomis dan ekologis jika kita ingin membuka lahan sebagai sumber pendapatan bagi masyarakat. Contoh aplikasinya bisa dilihat mulai dari hal-hal sederhana seperti petani hutan di Jawa ingin membuka hutan untuk diambil kayu-kayunya untuk membuat furnitur atau untuk perusahaan di Sumatera yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit misalnya, jadi bisa dihitung aspek ekologis dan sosialnya.

Apa ada perbedaan belajar di Jerman dengan Indonesia?

Sebenarnya dalam sisi keilmuan sama, semua ilmu pertanian sama di seluruh dunia. Hanya kalau dari jurusan saya yang berbeda adalah pola pikirnya. Kalau di Indonesia, pertanian tujuannya adalah bagaimana agar bisa memberi makan rakyat sebanyak-banyaknya dari hasil pertanian itu. Sedangkan di Jerman, yang ditegaskan adalah bagaimana supaya anak-cucu dan generasi mendatang juga tetap bisa menikmati hasil pertanian. 
Selain itu, mahasiswa di sini diberi ruang untuk aktivitas akademis dan nonakademis. Jadi Sabtu dan Minggu mahasiswa diberikan kebebasan untuk beraktualisasi di bidang non akademis, seperti bekerja paruh waktu, berorganisasi dan berlibur.

Selama tinggal di Jerman untuk kuliah, apa suka dan duka yang paling sering kamu alami?

Dukanya di Bonn tidak ada restoran Indonesia jadi saya gak bisa makan makanan Indonesia. Biasanya kangen sama masakan rumah. Kalau di sini kan harus belanja sendiri, masak sendiri dan saya tidak punya kemampuan masak yang baik. Terus saya kangen keluarga. Kalau pun telepon sering terkendala perbedaan waktu, misalnya di sini masih siang di sang di sana sudah pada tidur. Kalaupun nelepon pagi-pagi waktu rumah, mereka sedang sibuk-sibuknya. Tapi sukanya, di sini saya banyak waktu untuk aktualisasi diri. Saya senang bermain musik. Setiap minggu berlatih angklung di wilayah Sankt Augustin. Selain itu saya juga suka sekali mengunjungi Kebun Raya di Bonn.

Tips bagi kawan-kawan yang ingin juga kuliah di Jerman seperti kamu?

Saya berkuliah di sini melalui jalur beasiswa LPDP. Bagi teman-teman yang ingin berkuliah master atau doktoral di Jerman melalui jalur beasiswa, kalian harus sudah punya letter of admission, yaitu tanda bukti bahwa kalian sudah diterima di tempat kuliah yang kalian inginkan. Dan informasi untuk bisa diterima di universitas di Jerman ada semua di Internet.

Apa rencana kamu setelah lulus?

Saya pasti pulang ke Indonesia. Saya sadar akan banyak tantangan sekembalinya ke Indonesia. Salah satu contohnya yaitu bagaimana caranya agar dapat mengaplikasikan ilmu di Indonesia sesuai dengan aspek sosial dan budaya masyarakat petani Indonesia. Ini jelas tantangan yang besar karena sistem pertanian dan pengelolaan hutan di Jerman berbeda, tapi kita harus bisa menerjemahkan ilmu yang kita miliki agar sesuai dengan budaya setempat. (as/ts)

*Simak serial khusus #DWKampus mengenai warga Indonesia yang menuntut ilmu di Jerman dan Eropa di kanal Youtube DW Indonesia . Kisah putra-putri bangsa di perantauan kami hadirkan untuk menginspirasi Anda.