Dari Pocong hingga Durian, Siswa Jerman Diajak Kenali Indonesia | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 06.03.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

budaya indonesia

Dari Pocong hingga Durian, Siswa Jerman Diajak Kenali Indonesia

Lewat angklung, makanan khas nusantara serta game karya anak bangsa "DreadOut", lebih banyak lagi anak muda Jerman yang mengenal Indonesia.

Sekitar 210 siswa dan guru menyesaki ruang aula sekolah Europaschule OSZ Oder-Spree, Fürstenwalde, Jerman. Mereka berbondong di sana untuk kegiatan promosi budaya bertajuk "Indonesia erleben!” (Experience Indonesia!), yang disajikan oleh KBRI Berlin tanggal 1 Maret 2019.

Sesuai dengan usia audiens yang umumnya berkisar 15 - 18 tahun, informasi ragam budaya Indonesia dalam acara ini dibalut dengan gaya pop yang banyak digandrungi anak muda sekarang.

Salah satunya adalah dengan permainan komputer. Game bertema horor dengan judul "DreadOut” disimulasikan dalam acara itu. Permainan komputer buatan anak bangsa ini masuk nominasi penghargaan internasional untuk game indie SXSW Gamer's Voice Award 2018. Sontak informasi ini membuat para siswa kagum. Game horor ini ternyata telah banyak dimainkan oleh remaja Jerman. Mereka bahkan sudah kenal baik dengan figur kuntilanak, pocong dan sundel bolong yang ada dalam game tersebut.

"Sebuah kemasan yang sangat menarik dan mengesankan. Kami ingin sekali memberikan materi mengenai budaya negara-negara asing kepada para siswa. Ini penting untuk memperluas cakrawala dan cara berpikir mereka” tutur Joachim Schenk, Kepala Sekolah Europaschule.

Baca juga: Berlin Berkenalan dengan Warisan Budaya Jawa "Kisah-Kisah Panji"

Sementara Wakil Duta Besar RI untuk Jerman, Perry Pada, yang juga hadir pada kegiatan tersebut mengatakan, "Para millenials ini adalah pemimpin dan pengambil keputusan di masa mendatang. Apa yang mereka ketahui saat ini akan jadi memori yang terus tertanam dalam pikiran mereka beberapa puluh tahun ke depan. Merekalah tokoh masa depan yang akan melanjutkan hubungan dan kerja sama Indonesia-Jerman. Untuk itulah kita menjadikan ini sebagai sebuah strategi baru dalam kegiatan promosi budaya Indonesia di Jerman".

Baca juga: Christa Saloh Memperkenalkan Indonesia Melalui Bahasa

Tak hanya pada simulasi game horor, para siswa juga bersemangat pada sesi pertunjukan angklung dan workshop angklung interaktif. Pertunjukan yang dipandu oleh Tim Rumah Budaya Indonesia melibatkan para siswa dan guru. Selain memainkan bersama sejumlah lagu populer mereka juga diminta menebak judul lagu yang dimainkan.

Antusiasme tinggi

Promosi budaya Indonesia tak lengkap tanpa diikuti dengan sajian makanan. Beberapa snack dan buah-buahan asal Indonesia seperti rambutan, manggis dan durian disajikan. Aksi belah durian dan mencicipi durian menjadi puncak sekaligus penutup acara. Awalnya banyak yang kaget dengan aroma dan rasa buah durian yang tidak biasa, namun akhirnya durian dan makanan lainnya ludes disantap para peserta.

Kegiatan ini mendapat respon dan antusias yang sangat tinggi, bahkan di luar ekspektasi KBRI. Kegiatan yang awalnya hanya akan diikuti oleh 70 siswa, ternyata dihadiri oleh tiga kali lipat dari perkiraan. 100 set angklung yang telah disiapkan KBRI Berlin ternyata tidak mencukupi.

Europaschule OSZ Oder-Spree merupakan sekolah kejuruan terbesar di negara bagian Brandenburg, Jerman. Ada sekitar 3.250 siswa bersekolah di Europaschule. Sekolah ini memiliki kerja sama pertukaran pelajar dan joint-certification dengan sekolah-sekolah kejuruan sejenis di Polandia, Prancis, Italia, Rusia, Meksiko, Argentina dan Jepang.

Dari ajang ini Mr. Schenk menyampaikan ketertarikannya untuk bekerja sama dengan sekolah vokasi di Indonesia. "Kita bisa awali dengan kegiatan pertukaran pelajar dengan durasi satu tahun" tutup Mr. Schenk.

na/ml (KBRI Berlin)

Laporan Pilihan