Dari Mana Asal Tren “Maaf, Sekadar Mengingatkan?” | KOLOM: Bersama berdialog untuk mencapai pemahaman | DW | 09.03.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

kolom

Dari Mana Asal Tren “Maaf, Sekadar Mengingatkan?”

Pasti Anda sering baca kalimat ini di kolom komentar sosial media: “Maaf, sekadar mengingatkan”. Bagaimana kita melacak tradisi perilaku yang banyak ditimpakan pada kaum perempuan ini? Simak kritikan Kalis Mardiasih.

Seorang teman saya mengunggah foto-foto pernikahan. Di kolom komentar, seseorang yang tidak ia kenal mengomentari model pakaian pernikahannya yang menurut orang tersebut tidak bisa disebut pakaian pengantin muslimah. Di akhir komentar, tentu saja ia menambahkan jurus pamungkas: "Maaf, sekadar mengingatkan.”

Mengherankan. Foto pernikahan yang harusnya penuh dengankomentar bahagia dan doa positif, kok sempat-sempatnya dibikin kisruh dengan komentar nasihat yang tak pada tempatnya seperti itu.

Salmafina Sunan, seorang selebgram yang sempat ramai karena memutuskan untuk melepas jilbabnya, sempat menulis pernyataan yang menggelitik,”kalau mau unfollow silakan. Tidak usah pakai afwan-afwan tapi ujungnya nyakitin hati orang lain.” Ya, ia memilih untuk kehilangan follower, dibanding mesti membaca komentar-komentar yang memakai atribut maaf, namun sebenarnya menyakiti hatinya.

Fenomena ini tentu saja cukup menganggu. Etika pribadi seseorang bersumber dari nilai kebenaran yang ia yakini bisa jadi berbeda dengan orang lainnya. Akan tetapi, oleh kelompok muslim agresif yang menganggap klaim kebenarannya adalah yang paling benar, kemudian ingin mencoba masuk ke dalam wilayah pribadi orang lain.

Penulis: Kalis Mardiasih

Penulis: Kalis Mardiasih

Analisisnya tentu adalah kombinasi dari segala persoalan yang telah kita bahas pada bab-bab awal. Kemanusiaan perempuan lalu hanya didefinisikan dari pakaian yang melekat pada tubuhnya saja. Muslimah yang sudah berkerudung, kerudungnya kurang panjang. Muslimah yang kerudungnya sudah panjang, diingatkan memakai gamis model tertentu dan kaus kakinya.

Rupa-rupanya, para pengingat ini adalah penjual pakaian dengan model tertentu tersebut. Mereka memakai judgement syar'i hingga menentukan satu-satunya model pakaian perempuan yang benar menurut Islam sesuai dengan produk-produk yang mereka jual. Padahal, Al Qur'an bukanlah kitab mode.

Saya tidak akan pernah bisa lupa dengan kejadian bom Surabaya pada Mei 2018. Seorang istri dan seorang Ibu percaya bahwa mengikuti suami dan mengajak anak-anaknya yang bahkan masih balita untuk menjadi martir teror akan berbuah surga. Ketika mengambil data untuk sebuah penelitian bersama Wahid Foundation, seorang ibu bertutur, ia mengizinkan anaknya mengaji di mana saja dengan alasan karena lebih baik mengaji daripada berteman dengan orang-orang yang melakukan maksiat. Tapi, ia sama sekali tidak paham bahwa model pengajian yang diikuti anaknya adalah pengajian yang mengajarkan sikap keberagamaan yang ekslusif dan ekstrem.

Seharusnya, tren sekadar mengingatkan ditradisikan untuk mencegah perempuan-perempuan yang telah kehilangan kemandirian berpikir dan daya kritisnya.

Bagaimana kita melacak tradisi perilaku "maaf, sekadar mengingatkan ini?”

Pertama, ada sebuah tradisi baru yang dibangun oleh kelompok muslim agresif. Mereka membangun wacana masyarakat muslim mereka sebagai pihak yang tidak disenangi oleh kelompok lain, yang oleh karenanya harus selalu melindungi diri sambil tetap berekspansi dakwah. Di dunia digital, kelompok ini didoktrin bahwa gawai yang ada di tangan mereka adalah pengganti senjata saat perang. Ada anggapan bahwa posting dan komentar mereka bagaikan peluru-peluru perang, namun bernilai pahala. Sehingga, aktivitas mengomentari unggahan orang lain berarti sama dengan mengambil peran membela agama.

Bayangkan saja, seseorang bisa saja mengetik komentar sambil duduk di toilet atau tidur-tiduran di kamar tanpa pengorbanan dan tenaga yang berarti, tanpa persyaratan apa pun, namun ia telah merasa memproduksi pahala. Tentu saja laku semacam ini banyak peminatnya.

Kedua, jebakan istilah "wanita berkarir surga”. Hampir semua buku tentang muslimah di deretan rak kategori agama di toko buku memiliki narasi yang sejenis, yakni wanita berkarir surga dan wanita yang dimuliakan Allah. Tapi, apakah makna substantif dari istilah tersebut tepat? Ternyata tidak.

Saya ambilkan sebuah bab "Ciri-Ciri Wanita Penghuni Surga” yang saya ambil dari sebuah buku yang berjudul seputar muslimah dan surga berikut: Beriman dan Bertakwa Kepada Allah Swt, Berbakti Kepada Kedua Orangtua, Taat dan Menghormati Suami, Menjadi Ibu yang Baik Bagi Anak-anak, Gemar Melakukan Ibadah, Menjaga Kehormatan dan Menutup Aurat, Pandai Menjaga Lisan, dan Selalu Melakukan Zikir.

Para pengarang buku kemuslimahan itu selalu menyajikan hadist perihal perempuan yang akan menjadi penghuni neraka paling banyak serta tafsir ayat-ayat lain yang memiliki kesan menakuti perempuan. Ada bab khusus berjudul "Sosok Wanita Penghuni Neraka” yang berisi gambaran pedihnya siksa neraka, penyebab utama wanita masuk neraka dan tiga wanita yang diancam masuk neraka.”

Surga muslimah oleh banyak buku yang beredar, sepertinya sederhana namun sekaligus terlampau imajinatif dan memprihatinkan. Padahal dalam realitas keseharian, perempuan membangun surganya dan surga orang lain di bumi lewat daya kreasi dan hasil kerjanya yang bermanfaat untuk orang banyak.

Jumlah ulama yang tampil di televisi dan youtube yang membicarakan tafsir ayat perempuan sesuai realitas zamannya memang amat minim atau bahkan hampir tidak ada. Ulama laki-laki lebih banyak mengomentari pakaian perempuan, menstruasi perempuan, terkadang mengampanyekan poligami, sampai mengutuki rahim perempuan. Sehingga, pemikiran alternatif tidak menjadi mainstream di linimasa.

Tdak mengkhususkan pada laki-laki semata, dan tidak pula menafikkan perempuan

Di dalam Al Qur'an, asal-usul kemanusiaan laki-laki dan perempuan adalah sama. Sebab, semua ayat yang berbicara mengenai model-model penciptaan manusia dalam proses reproduksi secara umum, tidak mengkhususkan pada laki-laki semata, dan tidak pula menafikkan perempuan. Baik model penciptaan dari unsur air, tanah, maupun model yang sekarang kasat mata, yaitu penciptaan melalui reproduksi biologis. Dari pernyataan-pernyataan eksplisit ayat tersebut, juga bisa dinyatakan bahwa perempuan sama sekali tidak tercipta, atau bersumber dari laki-laki. Ayat-ayat ini dengan makna-maknanya yang muhkam (kokoh) dan qath'iy (jelas) seharusnya menjadi dasar bagi seluruh ayat mengenai penciptaan manusia.

Tujuan penciptaan manusia, laki-laki maupun perempuan adalah menjadi hamba Allah (Q.S Adz Dzariyat: 56) dan menjadi khalifah fil ardl atau wakil Tuhan di Bumi (QS Al Baqarah: 30). Dalam dua ayat tersebut, Allah Swt menyapa perempuan maupun laki-laki. Untuk menjalankan fungsi kekhalifahan itu Allah mengajarkan kepada manusia ilmu pengetahuan. Dalam rangka menjadi wakil Tuhan yang bertugas menjaga kebaikan-kebaikan di atas muka bumi ini, perempuan boleh menjadi pemimpin, perempuan boleh memaksimalkan segala potensi tubuh, pikiran dan kreativitasnya untuk pekerjaan-pekerjaan kemanusiaan yang menghadirkan kemaslahatan bagi alam dan sekitarnya.

Kembali kepada tren sekadar mengingatkan, poin ketiga yang banyak disebut adalah fenomena hijrahers alias festivalisasi hijrah yang akhir-akhir ini mengemuka di ruang publik. Sebagian bala hijrah biasanya mengaku menemukan hidayah (petunjuk kebenaran) yang menuntun mereka kepada keimanan setelah di fase sebelumnya melakukan banyak dosa. Sebagian opinion leader Hijrah biasanya gemar berbagi kisah kehidupan mereka yang gelap di masa lalu dengan penuh penyesalan. Akan tetapi, hal inilah yang kemudian juga memicu tren "maaf sekadar mengingatkan”. Sebab mereka merasa telah lebih berpengalaman dalam memproduksi dosa atau hal-hal yang dilarang agama, kelompok ini jadi agresif untuk mengingatkan orang lain agar tidak melakukan hal yang sama dengan mereka. Ini bukan berarti bilang bahwa geng hijrah ini buruk loh, tapi kan memang lebih baik jika setelah menyadari ilmunya kurang, ya nggak ujug-ujug lalu mengingatkan orang lain.

Gitu deh. Kebanyakan orang terlalu bersemangat menyimak ayat "sampaikanlah walau satu ayat”, akhirnya, yang dia pahami bener-bener jadi cuma satu ayat aja, deh.

@mardiasih adalah penulis opini lepas dan penerjemah. Bergiat sebagai riset dan tim media Jaringan nasional Gusdurian Indonesia.

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWnesia adalah sepenuhnya opini penulis dan menjadi tanggung jawab penulis.

*Ingin ikut berdiskusi? Silakan tuliskan komentar Anda di bawah ini

 

Laporan Pilihan