Dapatkah Gaya Hidup Minimalis Bantu Selamatkan Bumi? | IPTEK: Laporan seputar sains dan teknologi dan lingkungan | DW | 07.01.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Lingkungan

Dapatkah Gaya Hidup Minimalis Bantu Selamatkan Bumi?

Menurut praktisi hidup minimalis, ruangan yang bersih dapat menjernihkan pikiran. Bisakah gerakan minimalis juga memulihkan kesehatan planet kita?

Jika semua orang di dunia ini hidup dengan cara yang sama seperti orang Jerman pada umumnya, kita akan membutuhkan nyaris tiga buah planet bumi. Namun jika bergaya hidup seperti orang Amerika, kita pun jadi butuh lima bumi untuk bisa hidup. Demikian menurut perhitungan Global Footprint Network.

Bagaimana jika orang mulai memilih hidup dengan memiliki lebih sedikit barang - dengan demikian juga berarti lebih sedikit bersikap konsumtif. Apakah cukup kita hidup dengan hanya satu bumi?

Di rumahnya, blogger dan podcaster gaya hidup minimalis Elisa Stangl tidak punya sofa atau bahkan tempat tidur. Dia, suaminya, dan anak perempuan mereka yang berusia 2 tahun tidur di atas tikar tatami Jepang di apartemen kecil mereka di daerah Jerman selatan. "Kami tidak punya banyak barang," katanya kepada DW.

Stangl mengadopsi gaya hidup minimalis sewaktu masih mahasiswa. Saat itu alasannya lebih terkait masalah keuangan daripada lingkungan. Namun setelah lulus dan berkeliling dunia, Stangl semakin yakin bahwa dirinya lebih baik hidup dengan hanya sedikit barang.

Sekarang, Stangl mengatakan motivasi utamanya adalah hidup dengan penuh kesadaran. Dengan punya lebih sedikit barang, berarti dia dan keluarganya bisa fokus pada hal yang penting. Mereka juga butuh lebih sedikit uang, dan karena itu bisa memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan hobi seperti berjalan kaki dan menjelajahi alam. Stangl juga percaya bahwa gaya hidup minimalis adalah salah satu cara ia bertanggung jawab terhadap lingkungan.

"Menjalani kehidupan yang penuh kesadaran tidak hanya terkait masalah individu," katanya. "Jika Anda tahu cara hidup dengan penuh kesadaran, maka Anda tahu bahwa Anda harus menghormati alam, karena Anda hidup dengan alam yang telah memberi sesuatu, maka Anda harus juga memberikan sesuatu (kepada alam)."

Hidup minimalis demi kepuasan pribadi

Dipopulerkan oleh ahli berbenah asal Jepang, Marie Kondo, beberapa tahun belakangan telah muncul gaya hidup minimalis yang bekaitan dengan ide untuk membuat hidup jadi lebih bermakna.

Namun sejumlah besar blog, vlog dan podcast yang mengusung gaya hidup minimalis lebih menitikberatkan pada keuntungan pribadi daripada keuntungan gaya hidup ini bagi lingkungan.

Baca juga: Inilah 8 Hal Yang Dilakukan Oleh Orang Yang Bahagia Setiap Harinya

Hal ini tercermin dalam penelitian oleh Duke University di Amerika Serikat (AS). "Biasanya, orang mengadopsi minimalis untuk kepentingan kesejahteraan psikologis mereka sendiri - untuk mengurangi stres dan menumbuhkan kejernihan mental, misalnya," kata ketua peneliti studi tersebut, Aimee Chabot, kepada DW.

Namun seiring waktu, motivasi para individu dalam mempraktikkan cara hidup minimalis lebih meluas dan merambah kepada hal di luar diri mereka seperti masalah lingkungan atau etika.

Sejauh ini Chabot dan timnya telah melakukan survei terhadap lebih dari 800 orang, kebanyakan dari mereka tinggal di AS.

"Hanya sekitar 10 persen dari responden mengatakan bahwa mengurangi dampak lingkungan adalah motivasi utama mereka untuk mempraktikkan gaya hidup minimalis. Namun sekitar 70 persen responden mengatakan dampak lingkungan juga menjadi salah satu alasan mereka melakukannya," katanya.

Konsumsi yang tidak berkelanjutan

Sebuah studi tahun 2015 menemukan bahwa lebih dari 60 persen emisi gas rumah kaca global disebabkan oleh konsumsi rumah tangga. Ini utamanya akibat kegiatan transportasi dan produksi makanan, juga produk-produk lain yang menghasilkan emisi karbon dalam proses produksinya.

Konsumsi rumah tangga tentu saja lebih tinggi jumlahnya di negara-negara kaya. Ketika ekonomi di seluruh dunia berkembang, konsumsi juga bertumbuh. Semakin banyak orang yang memiliki uang untuk dibelanjakan, semakin banyak barang yang mereka beli.

Wandern im Tessin (DW/C. Deicke)

Hal yang membuat manusia bahagia tidak melulu bersifat kebendaan dan konsumtif.

Akan tetapi kegiatan konsumtif ini tidak selalu membuat orang menjadi bahagia. Seperti yang ditunjukkan oleh penelitian, pendapatan yang lebih tinggi dan daya beli yang lebih besar hanya bisa meningkatkan kesejahteraan hingga batas tertentu.

Dan pada suatu titik, semakin banyak orang menjadi kecewa dengan masyarakat materialistis tempat mereka tinggal.

Baca juga: Tidak Bahagia dalam Keberuntungan Materi

Bahagia berarti hasilkan emisi rendah

Dalam buku yang terbit tahun 2014 berjudul Happier People Healthier Planet, akademisi Teresa Belton berpendapat bahwa faktor-faktor yang mendorong kesejahteraan manusia sebenarnya memiliki dampak yang sangat kecil terhadap lingkungan.

"Hal-hal yang menghasilkan dan melanggengkan kesejahteraan adalah segala hal yang saya sebut sebagai 'aset nonmaterial,'" ujar Belton kepada DW.

"Hubungan yang baik, kontak dengan alam. Menjadi kreatif, memiliki rasa menjadi bagian dari komunitas dan memiliki tujuan dan makna, secara aktif terlibat dalam kehidupan dan hal-hal lainnya, yang tidak - atau sangat sedikit - melibatkan konsumsi kebendaan."

Belton juga mewawancarai lebih dari 100 orang di Inggris yang telah memilih untuk hidup dengan cara lebih sedikit mengkonsumsi benda-benda. Berbeda dengan para peneliti Universitas Duke di AS, ia menemukan bahwa masalah lingkungan adalah motivasi paling umum yang menggerakkan orang.

"Jika kita sebagai individu dan masyarakat memprioritaskan kesejahteraan dengan berfokus pada hal-hal yang benar-benar mendukung kesejahteraan, alih-alih mencari keuntungan materi dan konsumsi material yang ujungnya adalah menghasilkan laba, dunia akan menjadi tempat yang jauh lebih baik dalam segala hal," ujar Belton.

(Ed.: ae/gtp)

Laporan Pilihan