Cuma Pengungsi Burundi Lama Yang Diterima AS | Fokus | DW | 20.10.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Cuma Pengungsi Burundi Lama Yang Diterima AS

Sebuah kabar baik bertiup dari Amerika Serikat, Kamis (19/10) kemarin. Negeri Paman Sam itu secara resmi menyatakan bersedia untuk menampung lebih dari 10.000 pengungsi Burundi yang kini masih menghuni berbagai kamp pengungsian di Tanzania.

Pengungsi Burundi

Pengungsi Burundi

Dalam wawancara khusus dengan radio ini, Steven Corliss, kepala perwakilan badan PBB untuk urusan pengungsi, UNHCR, mengatakan, sebenarnya pengiriman pengungsi Burundi ke berbagai negara lain dilakukan setiap tahun. Antara lain ke Kanada, Australia, Swedia, Norwegia, Belanda dan lain-lain.

Yang berbeda sekarang ini adalah, Amerika bersedia menerima pengungsi dalam jumlah yang sangat besar. Dan ini dikhususkan bagi mereka yang telah meninggalkan Burundi lebih dari tiga puluh tahun lalu dan telah berpindah-pindah tempat pengungsian dari satu negara ke negara lain di Afrika.

Steven Corliss menjelaskan, sekarang ini, di wilayah Tanzania yang berbatasan dengan Burundi, terdapat ratusan ribu pengungsi. Sekitar 170.000 pengungsi ditampung di kamp-kamp pengungsi UNHCR.

Sementara sekitar 200.000 lainnya sudah berhasil kembali ke negaranya melalui program pemukiman kembali UNHCR. Di luar itu, masih terdapat sekitar 200.000 lainnya di luar penanganan langsung UNHCR, karena mereka cukup mampu hidup secara mandiri.

Para pengungsi meninggalkan negara kecil di Afrika Barat itu dalam beberapa gelombang pengungsian. Pengungsian besar-besaran sudah terjadi lebih dari 30 tahun lalu.

Saat itu, menyusul kerusuhan etnis tahun 1972, sekitar 10.000 rakyat Burundi menyeberangi perbatasan untuk menyelamatkan diri. Saat itu, terjadi pembantaian etnis yang dilakukan oleh suku Tutsi yang minoritas namun berkuasa, terhadap suku Huttu yang mayoritas.

Gelombang pengungsian terbesar terjadi tahun 1990an, tatkala terjadi perang saudara yang mulai meletus tahun 1993, dan baru berakhir tahun lalu. Perang itu dipicu terbunuhnya presiden pertama dari suku Huttu, yang terpilih secara demokratis.

Peristiwa itu diikuti oleh serangkaian pembunuhan politik lainnya, yang melibatkan kekerasan antar suku. Ini diperparah oleh situasi di negeri tetangga, Rwanda, yang juga dilanda pembantaian etnis yang sama-sama melibatkan suku Huttu dan Tutsi.

Mereka yang akan ditampung Amerika adalah yang menjadi bagian dari gelombang pengungsian tahun 1970an. Sebagian di antara mereka sudah tak punya saudara dan tak punya apapaun lagi di Burundi. Bahkan anak-anaknya lahir di lokasi pengungsian, belum pernah menginjak tanah asalnya. Seperti digambarkan Steven Collis dari UNHCR.

Steven Corliss menjelaskan, program ini akan dimulai tahun depan, dan akan makan waktu beberapa tahun. Amerika sebenarnya bersedia menampung pengungsi dalam jumlah yang lebih besar lagi, hingga 13.500 orang.

Tetapi angka pastinya belum jelas. Amerika juga membuka kemungkinan untuk memberikan kewarganegaraan kepada sebagian dari pengungsi yang mereka tampung. Di luar yang ditampung Amerika, UNHCR mengusahakan kepulangan para pengungsi itu ke kampung halaman masing-masing di Burundi. ***