1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Cina Unggul Riset Global, Rivalitas AS Meluas ke Antariksa

2 Juli 2026

Beijing dilaporkan memimpin peringkat riset dunia dan memperluas ambisi antariksanya. Dengan kemajuan yang pesat ini, Cina akan jadi pesaing utama AS di panggung global.

https://p.dw.com/p/5GPzU
Bendera Cina dikibarkan di Bulan
Cina berencana membangun pangkalan permanen di Bulan sebagai batu loncatan menuju eksplorasi antariksaFoto: CNSA/Xinhua/picture alliance

Lai Kai-ying menjadi perempuan asal Cina pertama yang sampai ke luar angkasa. Saat ini, ia tengah bertugas di stasiun luar angkasa Tiangong bersama dua astronaut Cina lainnya. Di situ, ia mengelilingi Bumi 16 kali per hari.

Tiangong merupakan laboratorium mikrogravitasi yang digunakan untuk eksperimen ilmiah. Tempat tersebut dirancang untuk mengungkap potensi masa depan manusia di luar angkasa.

Persaingan di bidang penerbangan dan antariksa saat ini kembali diwarnai rivalitas ideologis. Hal ini serupa dengan perlombaan antariksa antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet pada abad ke-20. Bedanya, di abad ke-21, pesaing utama AS berganti menjadi Cina.

Badan Antariksa AS NASA berencana menghentikan operasional Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada 2032. Jika itu terjadi, Cina akan menjadi satu-satunya negara yang mengoperasikan stasiun luar angkasa berpenghuni secara permanen.

Cina pimpin riset teknologi tercanggih

Menurut Nature, penerbit jurnal ilmiah, sektor antariksa hanyalah salah satu dari banyak bidang yang menunjukkan keunggulan teknologi Cina.

Dalam indeks terbaru yang diterbitkannya, yang memuat peringkat institusi serta negara dan wilayah, Nature menempatkan Cina di posisi pertama, jauh di atas AS dan Jerman.

Sembilan dari sepuluh institusi riset teratas berasal dari Cina. Sementara itu, Universitas Harvard dari AS berada di peringkat ketiga, sedangkan organisasi riset terbesar di Jerman, Max Planck Society (MPG), menempati posisi ke-13. 

"Kini, menjadikan peringkat global sebagai acuan sudah tidak relevan. Universitas dan lembaga riset di Cina memimpin di banyak bidang," ujar juru bicara MPG Christina Beck.

Indeks Nature juga menunjukkan bahwa institusi riset Cina unggul dalam bidang biologi, kimia, fisika, dan berbagai ilmu terapan lainnya. Di sisi lain, Amerika Serikat masih memimpin di bidang ilmu kesehatan dan ilmu sosial.

Dua orang astronaut dan Lai Kai-ying (paling kiri) dalam sebuah konferensi pers menjelang peluncuran misi Shenzhou-23 menuju stasiun antariksa Tiangong
Lai Kai-ying merupakan astronaut pertama asal Hong KongFoto: Maxim Shemetov/REUTERS

Investasi jangka panjang jadi kunci

Direktur Manajemen Informasi di German Research Foundation (DFG), Richard Heidler, mengatakan kemajuan riset Cina berjalan konsisten selama dua dekade terakhir.

"Pada awal 2000-an, jumlah publikasi ilmiahnya meningkat pesat. Dalam satu dekade terakhir, analisis bibliometrik juga menunjukkan peningkatan dampak riset. Ini tercermin dari bertambahnya jumlah publikasi yang sering dikutip," kata Heidler.

Artinya, Cina tidak hanya mempublikasikan lebih banyak riset, tetapi juga semakin meningkatkan kualitas dan visibilitasnya. Menurut Beck, keberhasilan tersebut merupakan hasil proses pengembangan jangka panjang.

"Kuncinya adalah pendanaan yang berkelanjutan bagi institusi ilmiah dan universitas di Cina selama bertahun-tahun. Terutama melalui program pelatihan peneliti di tingkat internasional dan investasi besar pada infrastruktur riset berskala besar," ujarnya.

Pemerintah Cina sadar bahwa teknologi merupakan kunci kesuksesan. Hal tersebut tercermin dalam Rencana Lima Tahun ke-15 Cina untuk periode 2026–2030. Rancangan itu menargetkan penguatan kapasitas inovasi nasional.

Inti dari strategi Beijing adalah pengembangan "kekuatan produktif baru", yakni mesin pertumbuhan berbasis inovasi yang ditopang teknologi canggih dan transformasi industri.

Rencana tersebut juga berfokus pada sejumlah industri kunci masa depan, termasuk kecerdasan buatan, teknologi kuantum, fusi nuklir, bioteknologi dan ilmu hayati, antarmuka otak-komputer (teknologi yang memungkinkan otak berkomunikasi langsung dengan perangkat digital), serta eksplorasi laut dalam dan antariksa.

Rivalitas politik batasi kerja sama

Cina dan Amerika Serikat juga bersaing ketat dalam perlombaan kembali ke Bulan.  Rivalitas tersebut muncul seiring dengan rencana Cina yang menargetkan misi berawak ke Bulan pada 2030.

Sementara itu, kemampuan NASA untuk menjalankan misi Artemis yang menargetkan pendaratan di dekat kutub selatan Bulan pada 2028 masih belum pasti. Program pendaratan Bulan dan pengembangan pakaian antariksa generasi baru mereka dilaporkan mengalami keterlambatan.

Di saat yang sama, Cina juga berencana membangun pangkalan permanen di Bulan sebagai batu loncatan menuju eksplorasi ruang angkasa yang lebih jauh.

Cina jadi satu-satunya negara yang berhasil membawa pulang sampel batuan dari sisi jauh Bulan. Saat ini, sampel tersebut diteliti sebagai potensi material pembangunan pangkalan di Bulan.

Siapa Menang Perlombaan di Angkasa?

'Hambatan politik'

Melalui Amandemen Wolf (2011), NASA dilarang bekerja sama dengan badan antariksa Cina. Kebijakan ini mencerminkan kuatnya rivalitas geopolitik dan ideologi antara kedua negara.

Badan Antariksa Eropa (ESA) juga telah mengurangi kerja sama dengan Beijing, meskipun para astronaut Eropa sempat belajar bahasa Mandarin dan melakukan latihan bersama dengan para taikonaut, sebutan untuk astronaut Cina.

Kementerian Riset, Teknologi, dan Antariksa Jerman pun membatasi kerja sama di bidang-bidang yang berpotensi bersinggungan dengan kepentingan militer.

"Hal ini berlaku untuk kerja sama pada bidang yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan sipil maupun militer (dual-use), atau kerja sama kecerdasan buatan yang berpotensi disalahgunakan untuk pengawasan dan pelanggaran HAM," bunyi pernyataan Kementerian Riset, Teknologi, dan Antariksa Jerman dalam situsnya.

Sejumlah negara Eropa kini semakin memandang Cina sebagai pesaing. Karena itu, manfaat dan risiko dalam kerja sama ilmiah perlu dipertimbangkan dengan cermat.

"Kami ingin tetap mempertahankan kerja sama di bidang penelitian, yang tidak menimbulkan kekhawatiran terkait risiko dual-use," kata Beck.

Teleskop radio FAST di Cina
Pembangunan teleskop radio FAST di Cina memakan waktu lima tahunFoto: Ou Dongqu/Xinhua News Agency/picture alliance

Salah satu contohnya adalah penggunaan Five-hundred-meter Aperture Spherical Radio Telescope (FAST) di Provinsi Guizhou, Cina. Teknologi ini memiliki diameter 500 meter atau sekitar lima kali panjang lapangan sepak bola.

"Kolaborasi ini memberi kami akses pada infrastruktur yang unik," ujar Beck.

Pandangan serupa disampaikan Ingrid Krüssmann dari Sino-German Center for Research Promotion (SGC).

"DFG ingin memberikan kepastian bagi para peneliti di Jerman agar proyek kolaborasi yang berkualitas dengan mitra di Cina tetap bisa berlangsung," katanya.

Kerja sama tetap berlanjut dengan kehati-hatian

Beck mengatakan bahwa lembaga-lembaga penelitian Jerman menghadapi tantangan yang semakin besar dalam kerja sama dengan mitra-mitra dari Cina akibat perkembangan politik di Beijing, meningkatnya ketegangan geopolitik, dan yang terpenting, keterkaitan yang erat antara penelitian sipil dan militer.

Oleh karena itu Max Planck Society berupaya membentuk kerja samanya dengan mitra-mitra di Cina secara “terinformasi, bertanggung jawab, dan strategis," tambahnya.

Sementara itu, Beijing terus memperluas diplomasi luar negerinya melalui teknologi.

Setelah Lai Kai‑ying menyelesaikan misinya di stasiun luar angkasa Tiangong, Beijing akan menjadi tuan rumah bagi astronaut asing pertamanya, yang diperkirakan akan menjalani masa tinggal singkat di orbit mulai Oktober 2026.

Dua kandidat astronaut asal Pakistan kini tengah menjalani pelatihan. Salah satu dari mereka akan dipilih untuk mengikuti misi tersebut.

Langkah ini menunjukkan bahwa aliansi geopolitik kini merambah ke luar angkasa dan Cina melibatkan negara-negara mitra dalam ekspansi program antariksanya.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi dari bahasa Inggris oleh Felicia Salvina

Editor: Muhammad Hanafi