Cina Remehkan Prediksi Roketnya Jatuh Tanpa Kendali ke Bumi | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 08.05.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Antariksa

Cina Remehkan Prediksi Roketnya Jatuh Tanpa Kendali ke Bumi

Bagian besar dari roket milik Cina diperkirakan akan meluncur tanpa kendali memasuki atmosfer Bumi pada akhir pekan ini (08/05), namun Beijing berupaya meredam kekhawatiran dengan menyebut risiko kerusakan sangat kecil.

Roket Long March 5B meluncur dari Pulai Hainan, Cina

Roket Long March 5B meluncur dari Pulai Hainan, Cina, mengangkut modul Tianhe (29/04)

Roket Long-March 5B dilucurkan pada 29 Apil lalu untuk membawa modul pertama stasiun luar angkasa terbaru milik Cina ke orbit Bumi. Bagian utama roket seberat 18 ton disebutkan sedang melesat turun dan para ahli mengatakan sulit untuk memastikan secara tepat di mana dan kapan reentri puing-puing roket itu akan memasuki atmosfer Bumi.

Badan roket itu diperkirakan akan memasuki atmosfer bumi pada hari Sabtu sekitar pukul 23.00 GMT, demikian pernyatan Pentagon, dengan prediksi waktu kurang lebih 9 jam di antaranya. Itu sekitar pukul 06.00 WIB pada hari Minggu, 9 Mei 2021.

Pihak berwenang di Beijing menyakinkan bahwa sebagin besar komponen badan roket ini kemungkinan akan hancur saat akan kembali memasuki Bumi.  "Peluang untuk menyebabkan kerusakan… di daratan sangat kecil,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina Wang Wenbin, Jumat (07/05).

Prediksi lokasi mendaratnya roket milik Cina

Meski ada spekulasi mengenai di mana kemungkinan lokasi puing-puing roket akan mendarat, namun besar kemungkinan puing-puing yang tidak habis terbakar akan tercebur ke laut, mengingat 70 persen Bumi adalah air.

"Kami sangat berharap bahwa puing itu akan mendarat di tempat yang tidak akan mencelakai siapa pun,” kata Juru Bicara Pentagon Mike Howard.

Infografik roket aktif dari berbagai negara

Infografik roket aktif dari berbagai negara

Howard mengatakan Amerika Serikat sedang melacak badan roket, namun "titik masuk yang tepat ke atmosfer Bumi tidak dapat ditentukan sampai beberapa jam setelah puing memasuki Bumi.”

Menteri Pertahanan Lloyd Austin sebelumnya mengatakan bahwa militer AS tidak berencana untuk menembak jatuh puing tersebut, dan menyatakan bahwa Cina telah lalai membiarkan badan roket tersebut jatuh dari orbit.

"Mengingat ukuran objek tersebut, pasti akan ada potongan besar yang tersisa,” kata Florent Delefie, astronom di Observatorium Paris-PSL. "Kemungkinan puing-puing itu mendarat di daerah yang berpenghuni sangat kecil, peluangnya satu dari sejuta.”

Jonathan McDowell, seorang astrofisikawan di Pusat Astrofisika Harvard-Smithsonian, mengatakan bahwa meskipun kita tidak perlu terlalu khawatir, desain roket perlu dipikirkan ulang untuk menghentikan skenario seperti ini kembali terulang. "Ada peluang nyata terjadinya kerusakan terhadap apapun yang terkena dan di samping peluang timbulnya korban,” jelasnya.

"Memiliki satu ton pecahan logam yang meluncur ke Bumi dengan kecepatan ratusan kilometer per jam bukanlah praktik yang baik, dan Cina harus merancang ulang misi Long-March 5B untuk menghindari hal ini.”

Pada taun 2020, puing-puing dari roket Long March lainnya jatuh di desa-desa di Pantai Gading, dan menyebabkan kerusakan struktural, namun tidak ada korban jiwa ataupun yang terluka.

ts/yp (AFP)