Cina Hendak Saingi Airbus dan Boeing | dunia | DW | 21.03.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Cina Hendak Saingi Airbus dan Boeing

Pemerintah Cina sudah memberikan lampu hijau bagi rencana ambisius untuk mengembangkan dan memproduksi pesawat penumpang berukuran besar.

Pesawat Shanghai Airline, dalam penerbangan langsung perdana jalur Cina-Taiwan, 29 Januari 2005

Pesawat Shanghai Airline, dalam penerbangan langsung perdana jalur Cina-Taiwan, 29 Januari 2005

Cina serius. Kalau rencana pembuatan pesawat penumpang untuk 150 orang itu dicanangkan oleh Dewan Negeri, boleh dikatakan itu sudah mirip dengan undang-undang. Demikian menurut para pengamat. Selama ini hanya grup perusahaan Airbus Eropa dan perusahaan Boeing Amerika Serikat saja yang berbagi pasaran pesawat penumpang berukuran besar. Apakah artinya Cina merupakan saingan serius? Achim Figgen, wartawan penerbangan mengemukakan: "Untuk seterusnya, sudah pasti. Sulit dibayangkan kalau Cina yang juga terjun di bidang industri lainnya, tidak mencobanya di sektor penerbangan."

Pasaran penerbangan Cina dalam tahun-tahun terakhir ini berkembang pesat. Tahun lalu jumlah penumpang meningkat 15 persen menjadi 160 juta. Perkembangan serupa itu tidak terjadi di negara lain mana pun. Sampai tahun 2010 maskapai penerbangan Cina hendak melipat-gandakan armada mereka menjadi 1.500 pesawat. Jadi tidak anehlah kalau Cina ingin mengembangkan sendiri pembuatan pesawat. Tetapi wartawan penerbangan, Achim Figgen, mengingatkan:"Kendala teknologi dalam pembuatan pesawat tentu lebih tinggi dari industri lainnya. Sudah banyak bangsa yang mencoba membuat pesawat terbang berukuran besar. Cina pun sudah mencoba untuk membuat pesawat 707. Dengan lisensi MD80/MD90, ternyata tidak terlalu sukses."

Selama ini Cina hanya mengembangkan satu jenis pesawat jet regional. Tipe ARJ-21 untuk 105 penumpang diperkirakan sudah hampir tuntas dan dua tahun lagi akan dipasarkan. Tetapi dari pesawat jet regional untuk keperluan sendiri sampai ke pesawat jarak jauh untuk pasaran dunia, jalan yang harus ditempuh masih sangat panjang. Bahkan untuk grup perusahaan berteknologi tinggi seperti Airbus saja, jalan itu sering tidak mulus seperti yang terlihat pada Airbus A380.

"Masih ada aspek lainnya. Yang tidak boleh dilupakan adalah pelayanan purna jual. Dan juga bukti kemampuan untuk terbang melampaui batas negara. Bukan hanya menyangkut produknya. Rusia misalnya juga banyak produk yang dapat digunakan, tetapi tidak diekspor ke luar negeri karena alasan-alasan tadi. Jadi sampai tahun 2020 pastilah beelum ada perubahan mendadak." Demikian dikemukakan selanjutnya oleh Achim Figgen.

Para pakar Cina memperkirakan, dalam waktu 13 tahun pesawat Cina sudah akan muncul di pasaran dunia. Tetapi menurut Achim Figgen: "Diperlukan kesabaran yang besar. Untuk mantap di bidang industri penerbangan, diperlukan pula dukungan pemerintah, yang di Cina pastilah tidak kurang. Di Brasil misalnya perhatian dipusatkan sepenuhnya selama bertahun-tahun untuk memantapkan diri sampai dianggap serius. Memang semua bisa, tapi butuh waktu."

Iklan