Cina Antara Pertumbuhan dan Perubahan Iklim | Seri Uni Jerman | DW | 25.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Seri Uni Jerman

Cina Antara Pertumbuhan dan Perubahan Iklim

Cina sudah merasakan dampak perubahan iklim. Emisi karbondioksida secara keseluruhan sangat tinggi, tapi rata-rata per kapita masih termasuk rendah.

default

Tahun ini Cina sudah menggantikan posisi Amerika Serikat sebagai pencemar udara terbesar dunia. Wakil Direktur Institut Lingkungan di Universitas Beijing, Zou Ji menilai, ini hal biasa karena cepatnya pertumbuhan industri dan urbanisasi. Zou Ji selanjutnya menerangkan:

„Pada beberapa tahun terakhir sekitar 200 sampai 300 juta petani di Cina pindah ke kota sehubungan dengan pesatnya pertumbuhan industri. Tentu saja ini otomatis mengakibatkan pelonjakan penggunaan energi. Standar hidup yang lebih baik juga ikut meningkatkan penggunaan energi. Mereka perlu listrik lebih banyak, memutar pemanas ruangan lebih tinggi di musim dingin, dan di musim panas lebih sering menggunakan pendingin ruangan. Jadi penggunaan energi per kapita terus naik dari tahun ke tahun.“

Cina menutupi 70 persen kebutuhan energinya dari batubara. Hampir setiap minggu ada pembangkit tenaga listrik baru yang menggunakan batubara. Setiap pembangkit tenaga listrik batubara ini tiap tahun mengeluarkan emisi sekitar 30.000 ton karbondioksida. Selain itu, makin banyak warga Cina yang menggunakan mobil dan ini memperparah pencemaran udara. Di Beijing saat ini ada sekitar 2,5 juta kendaraan. Setiap hari sekitar 1000 mobil baru mendapat ijin beroperasi. Jumlah kendaraan per kapita masih termasuk rendah, menurut statistik sekitar 20 mobil per 1000 penduduk. Sebagai perbandingan, di Jerman ada 600 mobil per 1000 penduduk.

Secara keseluruhan, Cina punya kontribusi besar dalam pencemaran udara dan pemanasan bumi, tapi negara itu juga merasakan dampak perubahan iklim. Mantan Direktur Program Lingkungan PBB, Klaus Töpfer menerangkan, perubahan iklim akan punya dampak buruk bagi pertanian. Ancaman banjir makin besar, juga ancaman musim kering.

Tahun ini saja, karena kemarau panjang di kawasan Barat dan Barat Laut, sekitar 12 juta orang terancam kelangkaan air. Pemerintah Cina menyadari situasi kritis ini. Karena itu pemerintah berusaha membatasi penggunaan energi. Sampai tahun 2010, sektor ekonomi diharapkan mereduksi tingkat penggunaan energi sampai seperlimanya. Selain itu dilakukan program penghijauan besar besaran.

Cina sampai sekarang tetap menolak kesepakatan internasional untuk mereduksi emisi karbondikoksida. Cina menilai, negara-negara industri lah yang berkewajiban melakukan hal itu lebih dulu. Karena jika dilihat dari statistik pencemaran udara, emisi karbondioksida per kapita di Cina masih sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara industri. Emisi rata-rata karbondioksida per tahun seorang warga Cina sekitar 3,2 ton. Masih lebih rendah dari emisi rata-rata dunia untuk satu orang, yaitu sekitar 3,7 ton. Sedangkan di Amerika Serikat, emisi rata-rata per kapita adalah 20 ton per tahun.

Ahli Lingkungan Jerman Eric Heyman mengaku, sulit mengecam Cina dalam hal ini:

„Bagi saya sulit untuk mengecam Cina. Sebab saya hidup di negara ini dengan emisi rata-rata per kapita yang lima kali lebih tinggi daripada Cina. Dan di Jerman, tidak ada yang harus kelaparan, kita semua punya mobil, berlibur naik pesawat, dan punya standar hidup tinggi dibanding rata-rata penduduk Cina.”