1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Cina Akan Tingkatkan Pengawasan Bahan Pangan

Frank Hollmann24 September 2008

Setelah merebaknya skandal susu bubuk, pemerintah Cina berusaha untuk meredakan suasana, dengan janji melakukan pengawasan bahan pangan dengan lebih ketat lagi. Tetapi banyak orang meragukan hal itu.

https://p.dw.com/p/FO4C
Antrian panjang para orangtua yang ingin memeriksakan anak-anak mereka.Foto: picture-alliance/ dpa

Rumah sakit anak Ertong Yiyuan di Beijing penuh sesak. Susu bubuk tercemar menjadi topik pembicaraan utama, juga bagi para orangtua yang anak-anaknya tidak menjadi korban. Seorang ayah mengatakan:

"Anak saya sakit, jadi saya kebetulan ada di sini. Ya, saya melihat semua bayi yang jadi korban. Saya prihatin sekali. Ini bencana besar. Sebenarnya tidak boleh terjadi, bahwa ada makanan yang tidak diawasi, hanya karena mereknya terkenal."

Di Beijing saja, terdeteksi batu ginjal pada lebih dari seribu bayi, karena mereka diberi susu bubuk yang tercemar melamin. Seorang pria boleh dikatakan hampir berlari menggendong anak laki-lakinya. Istrinya bergegas di belakangnya. Mereka pun membeli produk susu merek Sanlu. Demikian dikatakannya sambil lewat. Sanlu adalah pabrik susu yang paling parah melakukan pencemaran. Seorang pria yang ada di dekatnya mengatakan:

"Saya jengkel sekali. Itu 'kan tidak boleh dilakukan. Bagaimana satu perusahaan berani menarik keuntungan dengan cara begitu? Tidak bisa 'kan? Ada pepatah Cina yang mengatakan, hal seperti itu bukan hanya menjengkelkan manusia, tetapi juga roh dan jiwa-jiwa di alam baka."

Seorang perempuan menambahkan:

"Orang-orang seperti itu tidak punya hati nurani."

Kemarahan yang sangat besar dapat dirasakan. Antrian panjang para orangtua yang resah, menunggu pemeriksaan USG pada anak-anak mereka, bukan hanya terlihat di Beijing. Di kota Nanjing seorang ibu menceritakan penderitaan bayi laki-lakinya sambil berulang kali menghapus air matanya. Mulai dari rumah sakit di desa tempat tinggalnya kini mereka sampai di sebuah klinik khusus. Ibu itu menuturkan:

"Mula-mula saya lihat ada darah dalam air kencingnya. Di rumah sakit di kampung saya, kata dokter, itu radang ginjal. Tapi keadaan anak saya semakin buruk, dia bahkan tidak bisa kencing. Menurut dokter, dia harus diinfus. Tapi semakin banyak cairan yang masuk, semakin parah keadaannya. Baru disini, lewat pemeriksaan USG terlihat ada tiga batu ginjal. Kata dokter anak saya bisa mati. Sekarang pun keadaannya masih kritis."

Di seluruh wilayah Cina para dokter berupaya menyelamatkan bayi-bayi yang jadi korban. Salah seorang dokter spesialis yang dihubungi di Beijing tidak menanggapi permintaan untuk wawancara. Jalan masuk ke rumah sakit anak itu, dijaga ketat dan tidak ada wartawan yang boleh masuk. Padahal, itu rumah sakit teladan, yang dikunjungi PM Wen Jiabao akhir pekan lalu untuk memperoleh informasi langsung. Sesudahnya dia minta maaf pada masyarakat Cina. Apa pendapat orang-orang yang sedang antri mengenai manajemen krisis yang dilakukan pemerintah Cina? Menurut seorang pria:

"Dulu terdengar adanya masalah dengan bahan pangan, tetapi tidak banyak. Sekarang itu diberitakan secara luas dan yang bertanggung jawab minta maaf. Skandal ini sangat mengejutkan. Saya harap pihak yang berwenang bekerja sama erat dengan media dan memberikan informasi dengan lebih baik pada masyarakat." (dgl)