CIFOR: 1,6 Juta Hektare Lahan dan Hutan Indonesia Terbakar di Tahun 2019 | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 03.12.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Lingkungan

CIFOR: 1,6 Juta Hektare Lahan dan Hutan Indonesia Terbakar di Tahun 2019

Seluas 1,6 juta hektare lahan dan hutan di Indonesia terbakar sepanjang Januari hingga Oktober 2019, tulis Pusat Penelitian Kehutanan Internasional, CIFOR. Sebanyak 41 persen lahan yang terbakar adalah lahan gambut.

Sebagian besar lahan dan hutan yang terbakar adalah wilayah yang sebelumnya telah terdegradasi, sebagian lagi adalah lahan gambut yang menyimpan banyak karbon, demikian tulis laporan yang dirilis CIFOR, Senin (02/12).

Selama bertahun-tahun negara di Asia Tenggara telah menderita akibat asap yang disebabkan oleh kebakaran lahan dan hutan di Indonesia. Namun CIFOR mengatakan bahwa kebakaran tahun ini adalah yang terburuk sejak tahun 2015 yang membakar lahan dan hutan seluas 2,6 juta hektare.

Baca juga: Emisi Karbon Kebakaran Hutan di Indonesia Lebih Parah Dibanding Hutan Amazon

Pusat Penelitian Kehutanan Internasional yang berbasis di Jakarta ini mengatakan analisis citra satelit dari sepuluh bulan pertama tahun ini menunjukkan bahwa sebagian besar kebakaran terjadi di lahan-lahan yang sebelumnya telah digunduli.

Banyak terjadi di lahan terlantar

"Penilaian satelit kami memperkirakan bahwa ada 1,64 juta hektare lahan dan hutan terbakar antara 1 Januari dan 31 Oktober di tujuh provinsi di Indonesia. Ini termasuk 670.000 ha (41 persen) di lahan gambut. Temuan ini mengungkapkan bahwa skala kebakaran 2019 termasuk besar, sepadan dengan bencana kebakaran 2015 ketika itu 2,1 juta hektare di provinsi yang sama telah terbakar," demikian tulis laporan itu.

"Kami menemukan bahwa 76 persen pembakaran terjadi di lahan terlantar. Tanah itu sebelumnya adalah lahan hutan, tetapi siklus pembakaran yang berulang telah mengubahnya menjadi semak belukar terdegradasi yang tidak produktif," kata para ilmuwan CIFOR yang dipimpin oleh David Gaveau dalam sebuah pernyataan.

Laporan ini menyebutkan bahwa hanya tiga persen kebakaran terjadi di lahan pertanian kelapa sawit. Sedangkan kebakaran yang terjadi di kawasan hutan juga hanya 3 persen dari total keseluruhan area, berdasarkan laporan CIFOR.

"Kami memperkirakan bahwa hingga 60.000 hektare hutan telah terkena dampak kebakaran, terutama pada lahan gambut. Hutan rawa gambut yang terbakar ini mungkin tidak akan pernah pulih."

Baca juga: Bencana Asap Diakibatkan Praktik Buruk Korporasi

Kebakaran hutan telah menyebabkan kerusakan yang cukup serius pada habitat satwa liar. Kebakaran hutan di Provinsi Jambi utamanya terjadi di Kabupaten Muaro Jambi terutama di sekitar Taman Nasional Berback. Ini adalah habitat bagi harimau. Selain itu, terbakarnya ribuan hektare hutan di Ketapang juga dilaporkan mengganggu habitan orang utan.

Sementara itu data yang dirilis oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia (KemenLHK) menunjukkan luas total kebakaran hutan dan lahan jauh di bawah laporan CIFOR. Berdasarkan data KemenLHK,  total kebakaran lahan dan hutan tahun ini yaitu seluas 857.755 hektare. Data ini diperoleh berdasarkan analisis citra satelit landsat 8 OLI/TIRS bersama dengan data sebaran titik panas atau hotspot, serta laporan hasil cek lapangan dan laporan pemadaman yang dilaksanakan oleh satuan pemadam kebakaran hutan Manggala Agni.

ae/gtp (Reuters, Cifor, KemenLHK)

Laporan Pilihan