Bush Siap Hadir di KTT APEC | Fokus | DW | 16.11.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Bush Siap Hadir di KTT APEC

Setelah kegagalan dengan politik Iraknya, sekarang Bush mencoba mencari sukses di tempat lain, yakni di kawasan Asia-Pasifik.

Putin (kiri) sambut kedatangn Bush di Moskow

Putin (kiri) sambut kedatangn Bush di Moskow

Konferensi Tingkat Tinggi Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik APEC akhir pekan ini, ibaratnya digelar pada waktu yang tepat bagi Presiden AS George W. Bush, yakni setelah kekalahan Partai Republik dalam pemilu Kongres. Setelah mengakui gagal dengan politik Iraknya, sekarang Bush mencoba mencari sukses di tempat lain, yakni di kawasan Asia-Pasifik. Sebab, salah satu agenda utama KTT APEC tahun ini yang digelar di Vietnam adalah untuk menyetujui deklarasi Hanoi mengenai zona perdagangan bebas diantara 21 anggota APEC. Zona perdagangan ini merupakan usulan pemerintahan AS di bawah Bush.

Mengawali misi kunjungannya ke Asia, berkaitan dengan KTT APEC itu, hari Kamis (16/11) ini Bush tiba di Singapura. Sebelumnya Bush kembali menegaskan tujuan kunjungannya di kawasan Asia-Pacifik: “Isu yang akan saya bicarakan dengan mitra APEC adalah zona perdagangan bebas. Pesan yang akan saya sampaikan kepada mitra bisnis di sana adalah melakukan transaksi secara setara. Pasar kami terbuka untuk pengusaha negara mitra APEC. Dan saya juga berharap pasar APEC juga terbuka untuk pengusaha kami.“

Isu lain yang akan dibahas secara intensif dalam KTT APEC adalah keanggotaan Rusia dan Vietnam dalam Organisasi Perdagangan Dunia WTO. Sebelumnya pada saat transit mengisi bahan bakar di Moskow, Bush dan Presiden Rusia Vladimir Putin selama satu setengah jam juga membahas rencana penerimaan Rusia sebagai anggota WTO.

Bagi Vietnam, KTT APEC kali ini juga merupakan momentum bersejarah. Setelah berunding selama 12 tahun, akhirnya WTO menyetujui penerimaan Vietnam sebagai anggota yang ke 150. Dengan menjadi anggota WTO, berarti terbuka akses yang lebih baik ke pasar dunia. Namun sebagai timbal baliknya, Vietnam dalam waktu tujuh tahun mendatang juga harus menurunkan tarif bea dan cukai untuk produk luar negeri, dari saat ini sekitar 17 persen menjadi 14 persen. Selain itu, Vietnam tidak perlu lagi memperoleh kuota ekspor dari negara lain. Tapi dalam waktu bersamaan, produsen asing juga memiliki akses yang lebih baik ke pasar Vietnam. Sejumlah pakar ekonomi mengkhawatirkan, Vietnam belum siap menghadapi persaingan bebas semacam itu.

Disamping itu, kesepakatan normalisasi perdagangan dengan AS dari awal tahun ini, sesaat menjelang KTT APEC juga ditolak oleh Kongres AS. Menanggapi hal itu, jurubicara kementrian luar negeri Vietnam Le Dung mengatakan, pihaknya mengharapkan agar Kongres AS pada akhirnya juga menyetujui kesepakatan tersebut.

Le Dung mengatakan: “Sangat disayangkan, bahwa Kongres AS tidak menyetujui kesepakatan normalisasi perdagangan. Hal ini tentu saja tidak membela kepentingan rakyat kami, dan juga kepentingan pengusaha AS. Kami mengharapkan, Kongres pada akhirnya menyetujui kesepakatan tersebut.“

Bagi ekonomi Vietnam yang sedang booming, gagalnya kesepakatan dengan AS itu merupakan pukulan telak. Juga bagi Presiden Bush, penggagas utama kesepakatan tersebut, penolakan Kongres ibaratnya sebuah beban dalam kunjungannya ke Asia.