Bush: Mustahil Nol Bom Bunuh DIri | Fokus | DW | 15.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Bush: Mustahil Nol Bom Bunuh DIri

Di hadapan para wartawan, presiden Amerika George Bush berupaya mempertahankan kebijakan mengenai Irak dan Iran.

default

"Saya akui sepenuhnya, kita memang tidak akan mampu menghentikan semua pembom bunuh diri. Saya tahu itu."

Demikian kata presiden George Bush di Gedung Putih. Kendati begitu, lanjut Bush,

"Setidaknya kita bisa bertindak untuk mengamankan Bagdad, membantu rakyat Irak mengamankan ibu kotanya sehingga rakyat merasakan kehidupan yang wajar".

Bukan kebetulan, jumpa pers pertama tahun 2007 ini dilakukan berbarengan dimulainya sidang parlemen yang didominasi partai Demokrat, untuk membahas strategi baru Bush di Irak dan rancangan anggaran pertahanan milyaran dolar yang diajukan Bush.

Bush mengatakan, kekacauan dan kekerasan yang dilancarkan secara sistematis oleh para teroris di Irak dilakukan untuk membuat rakyat Amerika merasa ngeri dan putus asa.

"Kekerasan masih akan terus terjadi. Sebagaimana kita lihat di berita televisi. Teroris akan terus mengirim bom mobil ke pasar-pasar yang ramai. Kaum teroris itu akan terus membunuh orang-orang tak berdosa, perempuan dan anak.anak, demi mencapai tujuan mereka. Yakni menciutkan nyali rakyat Irak, menyulut kekerasan antar golongan, dan mengurungkan niat kita membantu pemerintah Irak melakukan tugas mereka."

Secara khusus Bush juga menyinggung keterlibatan Iran dalam sejumlah serangan bom milisi Irak yang menewaskan ratusan prajurit Amerika. Brigade Al Quds, sebuah satuan khusus dalam Garda Revolusi Iran, disebutkan memasok senjata dan bahan peledak kepada para milisi Irak. George Bush:

"Saya tidak bisa mengatakannya lebih jelas lagi. Ada senjata-senjata di Irak yang dipasok oleh Brigade Al Quds. Tetapi apakah presiden Ahmadinejad yang memerintahkan Brigade Al Quds untuk melakukannya, saya tidak tahu."

Jumpa pers presiden Bush dilakukan beberapa hari pula sesudah disiarkannya wawancara presiden Iran Mahmud Ahmadinejad dengan saluran televisi Amerika ABC. Dalam wawancara itu Ahmadinejad menolak menjawab langsung pertanyaan tentang pasokan senjata Iran, dan sebaliknya menyalahkan Amerika sebagai biang kekacauan di Irak. Ahmadinejad juga menolak menanggapi bukti-bukti yang diajukan Amerika mengenai pasokan senjata Iran ke Irak.

Komentar Ahmadinejad ini banyak ditanyakan wartawan dalam jumpa pers George Bush. Dan salah satu jawaban Bush:

"Apakah pemerintah Iran tahu atau tidak, yang jelas senjata Iran terbukti dipasok ke Irak. Namun justru itumasalahnya, mana yang lebih buruk: pemerintah Iran mengetahuinya atau tidak mengetahuinya?"

Bush terang-terangan mengecam niat para politikus Partai Demokrat yang berusaha menjegal keputusannya mengirim tambahan 21.500 pasukan ke Irak. Dikatakan Bush, ia berharap para politikus Demokrat tidak berupaya mengubah resolusi tidak mengikat itu menjadi mengikat, sehingga membuat para prajurit tidak bisa melaksanakan tugas yang diinstruksikan. Disebutkan, seandainya rakyat dan para politikus menganggap situasi Bagdad begitu buruk sekarang ini, bayangkan jika Amerika memutuskan membatalkan niat membantu upaya pemulihan keamanan. Tujuan dasar dari strategi baru di Irak, disebutkan Bush adalah agar:

"Irak akan menjadi suatu masyarakat yang relatif aman. Saya katakan relatif aman, karena jika berharap terjadinya angka serangan bom mobil menjadi nol, itu suatu hal yang mustahil terjadi."