Bursa Pencalonan Sekjen PBB Mulai Marak | Fokus | DW | 02.10.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Bursa Pencalonan Sekjen PBB Mulai Marak

Pemilihan sekretaris jenderal PBB memasuki tahap yang menentukan pada hari Senin ini (02/10).

Sekjen PBB Kofi Annan

Sekjen PBB Kofi Annan

Untuk pertama kalinya, kartu suara dari kelima anggota tetap Dewan Keamanan PBB diberi warna. Maksudnya, jika sebuah kartu berwarna yang menyatakan „tidak“ dikeluarkan, maka ini berarti penolakan mutlak bagi kandidat sekjen PBB.

Penolakan tetap berlaku tanpa memperhatikan berapa banyak suara „Ya“ atau setuju dikantongi oleh kandidat. Dari para kandidat tidak ditemukan calon yang meyakinkan bagi para pemilih. PBB dia-diam mengharapkan munculnya seorang kandidat konsensus yang meyakinkan, sama seperti Kofi Annan pada saat pemilihannya.

Shashi Tharoor gelagatnya akan menghadiri pameran buku internasional „Frankfurter Buchmesse“ sebagai pengarang terkemuka India dan Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, tetapi bukan sebagai pengganti Kofi Annan, Sekjen PBB saat ini. Karena Senin ini, anggota Dewan Keamanan PBB akan menentukan siapa yang punya peluang dihadapan kelima negara pemegang hak veto. Duta besar Rusia untuk PBB, Tshurkin, mengatakan bahwa para kandidat pada umumnya memiliki kualifikasi yang diminta.

Tshurkin: „Saya mengatakan: ‚Anda dapat menjadi presiden Badan Sepak Bola Dunia FIFA jika anda menginginkannya’. Mereka dapat melamar untuk semua pekerjaan. Mempertanyakan kemampuan mereka, setidaknya dari kebanyakan calon-calon tersebut, adalah absurd."

Tharoor yang mengenal PBB dari dalam, menjanjikan reformasi organisasi dunia itu. Tetapi hanya sedikit yang mempercayai hal itu, terutama pemegang hak veto Amerika Serikat. Dengan tiga suara menentang, Tharoor mengajukan diri sebagai kandidat. Hari Senin waktu setempat di New York, dia akan mengetahui apakah dia mempunyai peluang.

Calon yang hingga kini menduduki tempat ketiga dalam perebutan kursi sekjen PBB adalah Presiden Latvia Nyonya Vike Freiberga. Sebagai satu-satunya calon perempuan dia sudah dapat memastikan bahwa salah satu dari keenam suara yang menentangnya berasal dari Moskow.

Tshurkin: „Sikap warga Latvia terhadap Perang Dunia II sangat aneh. Mereka lebih berada di pihak yang membela NAZI ketimbang di pihak yang berjuang menentangnya.“

Duta Besar Rusia untuk PBB, Witali Tshurkin berpendapat bahwa ada pelanggaran hak asasi manusia di Latvia, tetapi ini bukan merupakan persyaratan untuk mempertimbangkan pencalonan sebagai sekjen PBB.

Calon yang menduduki tempat teratas adalah Menteri Luar Negeri Korea Selatan Ban Ki-Moon. Menurut para diplomat barat, Ban Ki-Moon masih harus banyak belajar. Namun, tampaknya dia adalah kandidat yang paling bisa diterima dan hingga kini hanya ada satu suara yang menentangnya dalam dewan tertinggi PBB. Meskipun demikian, kandidat Asia tersebut masih belum terpilih sebagai sekjen, demikian kata juru bicara Amerika Serikat Ben Chang:

Chang: „Terus terang saja, jika saya mencalonkan diri dan punya 13 suara setuju, apakah saya bisa tidur nyenyak? Itu tidak pasti.“

Satu suara menentang bisa berasal dari kelima pemegang hak veto. Yang dicurigai adalah China. Duta Besar China untuk PBB Wang mengomentari hal ini dengan diplomatis:

Wang: „Kalau dia mendapatkan 15 suara, ini merupakan petanda yang baik.“

Itu memang benar, tetapi tak seorang pun di badan yang beranggotakan 15 negara tersebut, termasuk Rusia, memperkirakan hal itu. Perserikatan Bangsa-Bangsa sangat mengharapkan agar masalah ini tidak menjadi lebih rumit, namun pengganti Kofi Annan yang dianggap meyakinkan, belum juga ditemukan.

Masa jabatan Annan sebagai sekjen PBB berakhir tanggal 31 Desember mendatang. Annan sendiri pada waktu itu baru terpilih secara tidak terduga sekitar tiga minggu sebelum masa jabatan pendahulunya Buthros Ghali, berakhir.