″Bundeswehr″ Amankan Afghanistan | Fokus | DW | 31.05.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

"Bundeswehr" Amankan Afghanistan

Pasca kerusuhan di Kabul akibat sentimen anti-Amerika, pasukan perdamaian internasional (ISAF) tetap berpatroli. Mulai Kamis (1/6), ISAF berada di bawah komando tentara Jerman "Bundeswehr".

Patroli Bundeswehr di Kabul

Patroli "Bundeswehr" di Kabul

Tentara Jerman bergerak melakukan patroli. Dengan jip militer, 4 jam lamanya mereka menelusuri jalan dan melintasi perbukitan tandus. Bukit itu terletak di selatan kamp baru tentara Jerman Bundeswehr di Masar i Syarif. Bukit itu strategis karena ketinggiannya, dan dari sanalah bahaya bisa mengancam. Di lokasi yang tak lagi memungkinkan jip militer itu bergerak, para tentara terpaksa turun. Mereka melanjutkan patroli dengan berjalan kaki, lengkap dengan rompi pelindung, senjata dan teropong.

Tugas yang memeras keringat, karena matahari bersinar terik dan temperatur musim panas mencapai 50°C. Seorang anggota patroli mengawasi semua gerakan, dari titik tertinggi bukit itu. Bukan hanya gerakan, tetapi juga perubahan di kawasan tersebut. Posisi yang disiapkan untuk roket misalnya, juga bisa terlihat dari posisi itu, maka langkah pengamanan bisa segera diambil.

Ada alasan mengapa patroli semacam itu digelar. Wilayah utara Afganistan memang jauh lebih stabil daripada propinsi-propinsi di selatan yang tak tenang. Namun bukan berarti sepi dari bahaya. Secara berkala terjadi serangan bom, yang juga diarahkan pada pasukan penjaga perdamaian ISAF, dan tentara Jerman.

Ditambah lagi dengan konflik antarkelompok milisi yang bersaing, kriminalitas dan sengketa keluarga. Taliban lebih sedikit muncul daripada di selatan, namun di wilayah utara ini mereka beraksi dalam kelompok-kelompok kecil. Komandan pasukan Jerman Jendral Markus Kneip menerangkan situasinya.

Markus Kneip: "Jelas tidak tenang dan tidak stabil. Tapi tidak ada bahaya besar yang menghadang pasukan Jerman. Yang ada adalah sengketa antara suku yang tidak selalu diarahkan kepada kami."

Disamping kelompok milisi dan kriminal, mafia obat bius merupakan bahaya potensial bagi tentara Jerman, Bundeswehr. Provinsi-provinsi di utara termasuk pusat produksi opium. Dewasa ini, aparat keamanan Afganistan gencar menghancurkan ladang opium di berbagai tempat. Itu bisa mengakibatkan ketegangan, juga ketika pasukan pelindung interansional ISAF tidak terlibat secara langsung.

Para petani opium di utara Afganistan sadar, mereka melanggar hukum dan UU. Namun mereka tidak menentang para tentara asing yang berdiri di pihak hukum. Ini ditegaskan Abdul Hamid, seorang tuan tanah di kawasan itu. Reaksi positif juga datang dari Mesjid Biru di pusat Masar-i-Syarif. Tentara Jerman memang tidak boleh meninjau ke dalam mesjid tersebut, tetapi orang-orang di sekitarnya menyambut peran tentara Jerman di kawasan itu.

Mereka mengatakan, orang asing sudah banyak membantu rakyat Afghanistan. Mereka mendukung 100 persen penempatan tentara Nato dan Jerman di kawasan itu.

Sambutan positif di kalangan sebagian besar masyarakat adalah nilai tambah yang sangat berarti bagi misi tentara Jerman. Komandan Markus Kneip mengingatkan, serangan tak boleh ditanggapi secara berlebihan. Pihaknya harus waspada namun tak boleh kehilagan kontak dengan rakyat setempat. Setiap serangan bisa berakibat orang menarik diri, lalu menutup diri dan tak mampu menajalankan tugas yang sesungguhnya. Tugas dengan perspektif jangka panjang, kata sang Jendral yang memperkirakan sekitar 10 tahun.