Buku Mengenang Korban Tewas di Tembok Berlin | Jelajah Jerman | DW | 13.08.2009
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Jelajah Jerman

Buku Mengenang Korban Tewas di Tembok Berlin

Para pakar sejarah beranggapan, 136 orang kehilangan nyawa di Tembok Berlin, sejak dibangun tanggal 13 Agustus 1961 sampai keambrukannya November 1989. Biografi para korban diterbitkan sebagai buku.

"Ida Siekmann loncat dari apartemennya di tingkat tiga Jalan Bernauer nomor 48, dan tewas. Itu terjadi tanggal 22 Agustus 1961, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke 59. Tembok itu memisahkan dia dari adiknya yang tinggal hanya beberapa blok terpisah dan masuk wilayah Berlin Barat." Demikian pakar sejarah Hans-Hermann Hertle membacakan dari buku dokumentasi tentang para korban di Tembok Berlin.

Ida Siekmann merupakan salah seorang dari 136 korban tewas di Tembok Berlin, yang biografinya dikumpulkan oleh pakar sejarah Hans-Hermann Hertle dan rekan-rekannya. Selama bertahun-tahun mereka mengumpulkan data dan fakta, menghubungi anggota keluarga dan menyisir arsip dinas rahasia Jerman Timur 'Stasi', sampai dapat diterbitkan sebagai sebuah buku dokumentasi tentang para korban di Tembok Berlin.

Bagi mantan Menteri Kebudayaan Bernd Neumann, buku itu lebih dari sekedar kumpulan foto dan tulisan. Baginya: "Yang penting adalah memberikan nama dan wajah kepada para korban, dan dengan demikian mengembalikan martabat mereka. Biografi mereka menunjukkan, mekanisme yang dimiliki kediktaturan dan dampaknya. Inilah keistimewaannya."

Para pakar sejarah itu bertujuan menentang upaya menyelubungi keburukan negara Jerman Timur dan agar para korban tidak dilupakan. Demikian pendapat Professor Martin Sabrow, direktur Pusat Penelitian Sejarah di kota Potsdam. Di perbatasan antara Berlin Barat dan Berlin Timur terjadi perbuatan eksesif yang sangat memprihatinkan. Sabrow mengatakan: "Misalnya, serentetan tembakan dilepaskan terhadap orang-orang yang tidak berdaya, sedang sekarat berlumuran darah. Petugas masih meminta satu kalashnikov bila pistolnya sendiri tidak berguna lagi."

Tiap kisah pelarian berbeda satu sama lain. Masing-masing punya tregedi sendiri. Mayoritasnya terlibat konflik dengan rejim yang berkuasa, atau tidak tahan lagi hidup di Jerman Timur.

Tutur Hans Hermann Hertle: "Pasangan muda Christel dan Eckhard Wehage selama bertahun-tahun tidak berhasil memperoleh tempat kerja di kota yang sama, jangankan apartemen bersama. Tanggal 10 Maret 1970 mereka kemudian memutuskan untuk membajak sebuah pesawat dari bandara Berlin-Schönefeld agar terbang ke Hannover. Tetapi pilot pesawat mengunci diri di dalam cockpit dan mendaratkan kembali pesawatnya di Schönefeld. Pasangan muda itu kemudian bunuh diri di dalam pesawat."

Hasil yang paling menyedihkan dari penelitian itu adalah cara rejim penguasa menangani korban tewas dan keluarga mereka. Demikian ditandaskan Hertle selanjutnya. Bila ada warga yang ditembak mati saat mencoba melarikan diri, kepada keluarganya petugas stasi menyebutkan alasan yang mengada-ada, seperti 'kecelakaan lalu lintas' atau kecelakaan lainnya.

Surat keterangan kematian dipalsukan, atau kematian itu malah ditutup-tutupi. Menurut Hans-Hermann Hertle: "Sekurangnya dalam sebelas kasus, kematian seseorang tidak dikonfirmasi atau disangkal, dan nama korban tewas juga dirahasiakan walaupun pihak stasi mengetahuinya. Anggota keluarga tidak diperkenankan melihat jenazah korban. Sebaliknya mereka dipaksa menyetujui kremasi secara tertulis. Ada pula anggota keluarga yang menerima guci abu jenazah lewat pengiriman pos."

Tetapi tidak semua korban tewas dalam upaya melarikan diri. Banyak di antara mereka dieksekusi begitu saja, walau pun tidak berniat melarikan diri. Mereka tanpa sengaja terlalu mendekati daerah perbatasan, misalnya karena salah jalan. Di antara para korban juga terdapat anak-anak. Saat bermain di Berlin Barat mereka jatuh ke Sungai Spree dan tenggelam.

Masalahnya, sungai itu termasuk wilayah Jerman Timur dan tidak ada petugas penyelamat dari barat, boleh mendekatinya. Dalam buku itu didokumentasikan pula biografi dari delapan petugas perbatasan yang tewas ditembak pengungsi atau oleh rekan mereka sendiri.

Para pakar sejarah itu yakin, semua kasus kematian itu patut diikutkan dalam buku panduan yang dibuat, karena berkaitan langsung dengan rejim yang berkuasa di Jerman Timur. Tetapi mereka hanya meneliti kasus-kasus kematian di Tembok Berlin. Untuk berbagai kisah pelarian di sepanjang perbatasan antar-Jerman masih belum dilakukan penelitian, walaupun perbatasan itu sendiri sudah lenyap sejak 20 tahun.

Nina Werkhäuser / Dewi Gunawan-Ladener
Editor: Hendra Pasuhuk

Laporan Pilihan