Bom Mengguncang Parlemen Irak | Fokus | DW | 12.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Bom Mengguncang Parlemen Irak

Bom bunuh diri kembali mengguncang Baghdad. Kali ini serangan terjadi Kamis kemarin di kompleks kantor pemerintahan yang selalu dijaga ketat sejak satu setengah tahun lalu.

Helikopter AS terbang di atas Kawasan Hijau Baghdad

Helikopter AS terbang di atas Kawasan Hijau Baghdad

Dalam ledakan itu sedikitnya delapan orang tewas dan sekitar 20 lainnya luka-luka. Juru bicara militer Amerika Serikat William Caldwell dengan cepat menuding Al Kaida sebagai dalang ledakan tersebut.

Pelaku meledakkan bom yang melingkari tubuhnya seperti ikat pinggang ketika berada di kantin kantor parlemen Irak. Saksi mata yang terluka parah mengatakan bahwa sesaat sebelum bom itu meledak, dirinya mendengar kalimat Allahu Akbar. Darah dan potongan tubuh pelaku serta korban berserakan di penjuru ruangan kantin itu. Saat kejadian tersebut menurut seorang aparat keamanan gedung parlemen dijaga ketat karena para wakil rakyat sedang rapat. Seorang anggota parlemen dari fraksi suni terbesar Front Dialog Nasional Mohammed Awad dan seorang lagi dari dari fraksi Uni Islam Kurdistan dilaporkan tewas. Sementara itu dua anggota parlemen dari Koalisi Irak Bersatu milik kelompok Syiah dan lima anggota legislatif dari kelompok Suni mengalami luka-luka.

Perdana Menteri Irak Nuri Al Maliki yang tengah berkunjung ke Korea Selatan menyebut peristiwa tersebut sebagai kejahatan yang keji. Lebih lanjut Al Maliki mengatakan pelaku serangan itu tepat disebut teroris yang ingin menggagalkan proses demokratisasi di Irak.

Presiden Amerika Serikat George W. Bush tak kalah geram. Ia mengatakan:

„Saya mengutuk keras serangan itu. Kejadian ini mengingatkan kita akan musuh yang tega membom orang tak bersalah di tempat yang merupakan simbol adanya demokrasi.“

Serangan di gedung parlemen Irak seperti tamparan keras bagi pemerintahan Bush yang baru saja melaksanakan strategi barunya yang banyak diperdebatkan.

“Kami tahu terdapat masalah keamanan di Baghdad dan untuk itulah presiden Amerika Serikat telah menyusun strategi baru yang dilaksanakan Jenderal Petraeus dan petinggi militer lainnya. Tapi strategi ini baru saja dimulai dan tidak ada yang memperkirakan adanya aksi balasan dari teroris untuk meruntuhkan kemajuan keamanan yang kami upayakan.”

Seorang pejabat keamanan mengatakan ada indikasi bahwa pelaku bom bunuh diri adalah pengawal salah satu anggota legislatif. Pihak kepolisian Irak kini tengah memeriksa manajer kantin yang baru dipekerjakan sebulan yang lalu dan juga seorang personil dapur.

Kawasan Hijau, sebutan kawasan kantor pemerintahan Irak, perwakilan Amerika Serikat dan kedutaan besar beberapa negara adalah wilayah yang dijaga ketat. Setiap orang yang mengunjungi kawasan tersebut harus melewati setidaknya enam pos pemeriksaan dan beberapa detektor logam. Tapi kelompok pemberontak dan milisi ternyata mampu mengarahkan senjata roket dan mortir dari luar tembok Kawasan Hijau. Sebulan yang lalu petugas keamanan menemukan dua jaket berisi bahan peledak tergeletak di dalam Kawasan Hijau. Dan belum lama dua warga Amerika Serikat tewas dalam serangan mortir ke Kawasan Hijau, tak jauh dari lokasi Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon yang tengah mengadakan konferensi pers dengan Perdana Menteri Al Maliki.

Beberapa jam sebelum insiden bom di gedung parlemen, pelaku bom bunuh diri meledakkan sebuah truk yang tengah melintas jembatan Sungai Tigris di Baghdad. Kejadian itu menghancurkan jembatan dan menewaskan sepuluh orang.