Bom Bunuh Diri Kembali Guncang Srilanka | Fokus | DW | 16.10.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Bom Bunuh Diri Kembali Guncang Srilanka

Inilah serangan bom bunuh diri paling spektakuler dalam sejarah konflik Srilanka.

Bangkai truk yang diledakkan di Dambulla, 150 km dari Colombo

Bangkai truk yang diledakkan di Dambulla, 150 km dari Colombo

Hampir seratus prajurit angkatan laut Sri Lanka tewas, ketika sebuah truk yang penuh berisikan bahan peledak menabrakan diri ke arah iring-iringan kendaraan mereka. Setidaknya 150 orang lain terluka, termasuk warga sipil. Pemerintah Srilanka langsung menuding kelompok Macan Pembebasan Tamil Eelam, LTTE, sebagai pelaku serangan maut hari Senin itu. Kelompok pemberontak Macan Tamil sendiri tidak membantah tudingan itu, kendati tidak membenarkannya. Malah juru bicara Macan Tamil mengatakan, aksi itu merupakan tindakan yang sah dan bisa dibenarkan, karena militer Srilanka telah melancarkan serangan ke sasaran-sasaran sipil Tamil.

Serangan ini makin memanaskan situasi Srilanka, dan makin menyuramkan prospek perdamaian negeri pulai itu. Sebelumnya, hari Rabu lalu gerilyawan Macan Tamil melancarkan serangan yang menewaskan 129 tentara dan melukai 300 lainnya. Juru bicara Misi pemantau perdamaian PBB di Srilanka, SLMM, Thorfinnur Omarsson buru-buru menyampaikan harapannya bahwa perundingan damai yang dijadualkan berlangsung di Jenewa bulan depan tetap bisa berlangsung. Kendati dengan tegas pula ia menggambarkan peristiwa itu sebagai suatu serangan brutal.

Disebutkan Omarsson: "Kami telah mendesak kedua belah pihak untuk menghentikan kekerasan secepatnya. Kekerasan makin meningkat selama beberapa bulan ini. Dan sekarang ini keadaannya benar-benar parah. Penghentian kekerasan tak bisa ditunda lagi. Sangatlah penting bagi kedua belah pihak untuk menghadiri perundingan nanti dengan semangat positif. Sekarang, kita harus menunggu dan menyaksikan apa yang akan terjadi. Semoga semuanya berjalan sebaik-baiknya."

Sejauh ini, sebetulnya baru pemerintah Srilanka yang sudah memastikan kesediaan hadir dalam perundingan Jenewa, 28-29 Oktober ini. Gerilyawan Macan Tamil menyatakan baru akan mengambil keputusan tentang ikut atau tidaknya mereka, Kamis mendatang. Yakni sesudah mereka bertemu dengan Jon Hanssen-Bauer, utusan pemerintah Norwegia.

Pemerintah Norwegia adalah pemain utama dalam misi untuk mencari solusi damai bagi konflik berdarah Srilanka yang sudah berusia 3 dekade. Sudah lebih dari 60 ribu jiwa melayang, sejak gerilyawan Macan Tamil melancarkan gerakan bersenjata untuk mendirikan negara senduiri di utara Srilangka, karena menganggap suku Tamil yang Hindu didiskriminasi oleh mayoritas suku Sinhala yang Budha.

Upaya mencari jalan damai bagi konflik ini menunjukan harapan, ketika pada tahun 2002 kedua belah pihak menyepakati gencatan senjata. Tetapi kesepakatan itu terus menerus dilanggar. Perdamaian yang lebih langgeng diharapkan bisa dilahirkan melalui perundingan intensif, yang mestinya mulai berlangsung di Jenewa April lalu, namun duitunda hingga akhir bulan ini. Namun serangan hari Senin dicemaskan menyuramkan prospek perundingan itu. Kembali juru bicara pemantau perdamaian PBB di Srilanka, Thorfinnur Omarsson:

"Merupakan hal yang sangat penting, bahwa proses perdamaian berlangsung sebagaimana direncanakan. Bahkan mestinya bulan April lalu. Saat itu pembicaraan damai dibatalkan dan sejak itu kekerasan terus meningkat. Jadi penting sekali bahwa semua pihak kembali ke meja perundingan dan bekerja mewujudkan perdamaian".

Serangan hari Senin terarah kepada 15 bis yang mengangkut rombongan prajurit angkatan laut Srilanka yang tengah cuti. Pemerintah segera melakukan serangan balasan dengan mengerahkan pesawat-pesawat tempur untuk menggempur posisi-posisi Macan Tamil di Utara negeri itu. Namun sialnya, sebuah pesawat tempur mereka jatuh sesaat setelah lepas landas.