Boeing Tunda Rencana Hubungi Maskapai Ihwal B737 MAX | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 21.11.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Boeing

Boeing Tunda Rencana Hubungi Maskapai Ihwal B737 MAX

Boeing akan menghubungi maskapai secara terpisah agar bisa meluangkan waktu yang lebih banyak untuk pertanyaan teknis. Pakar penerbangan mengeritik Boeing karena dianggap tidak berkomunikasi dengan baik di saat kritis.

Boeing membatalkan panggilan konferensi dengan semua maskapai yang mengoperasikan pesawat B737 MAX. Raksasa dirgantara AS itu sebelumnya berniat berembuk dengan klien menyusul dugaan kerusakan teknis yang menyebabkan jatuhnya pesawat Lion Air JT610 di Indonesia.

Meski tidak menjelaskan langkahnya membatalkan panggilan konferensi, Boeing kini mengaku akan menghubungi maskapai secara terpisah agar bisa menyediakan waktu untuk menjawab berbagai pertanyaan secara komperhensif.

Saat ini sekitar 75 maskapai telah memesan pesawat berbadan sempit teranyar milik Boeing tersebut, 39 di antaranya sudah mengoperasikan sekitar 241 pesawat. Southwest Airlines, Flydubai dan Lion Air tercatat sebagai pemesan terbesar dengan total pemesanan lebih dari 800 pesawat. Boeing mengaku telah menerima 4.800 pemesanan.

Baca juga: Boeing Akan Berembuk Dengan Maskapai Terkait B737 MAX

Selain Lion, Garuda Indonesia adalah maskapai Indonesia lain yang tercatat memesan pesawat 737 MAX.

Boeing mengaku akan menghubungi tim teknis yang berurusan dengan B737 MAX di masing-masing maskapai. Agenda pembahasan pertama adalah menganalisa perbedaan pada sistem pengendali penerbangan antara MAX dengan model lawas B737 NG, menurut sejumlah sumber yang diberitahu mengenai rencana tersebut.

Sebelumnya para pilot di AS mengeluhkan mereka tidak diberitahu mengenai fitur anti-stall pada B737 MAX yang secara otomatis membuat pesawat menukik ke bawah jika sensor mengindikasikan potensi terjadinya stall, yakni kondisi ketika pesawat kehilangan kecepatan lantaran posisi hidung yang menengadah ke atas.

"Boeing selama ini selalu dan akan tetap berhubungan dengan konsumen kami. Kami tetap menjadwalkan pertemuan untuk berbagi informasi," kata jurubicara perusahaan, Chaz Bickers. Dia menolak menjawab kenapa rencana panggilan konferensi dibatalakan, namun memastikan rencana serupa sudah dijadwalkan untuk awal pekan depan.

Analis dari lembaga penelitian bisnis dan investasi CFRA, Jim Corridore, mengatakan pembatalan rencana panggilan konferensi menambah "citra buruk untuk perusahaan ketika mereka menghadapi kritik terkait masalah sensor yang bisa membuat pesawat menukik tak terkendali," kata dia. "Boeing harus berkomunikasi lebih baik dan lebih banyak, tidak lantas lebih sedikit."

Fitur bernama MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System) dikembangkan untuk melindungi pesawat dari fenomena stall. Namun jika sensor keliru membaca kecepatan udara, sistem tersebut bisa memaksa pesawat menukik meski dalam situasi penerbangan normal. Dalam hal ini pilot tidak lagi bisa mengendalikan pesawat, kecuali jika sistem tersebut dimatikan.

Baca juga: FAA Evaluasi Kemungkinan Cacat Desain pada Boeing 737 MAX

Hal ini lah yang dicurigai terjadi pada penerbangan Lion Air JT610 yang jatuh di lepas pantai Jakarta. Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sempat mengatakan pesawat B737 MAX milik Lion Air itu sudah berulangkali mengalami kerusakan sensor sehingga harus diganti.

Beberapa pekan sebelum peristiwa naas itu maskapai AS, Southwest Airlines, juga mengganti dua sensor bertipe sama yang digunakan pada JT610. Informasi mengenai penukaran sensor itu tertera dalam catatan perawatan maskapai yang diterima Wall Street Journal. WSJ melaporkan pesawat Southwest yang mengalami perawatan di luar rencana itu berjenis serupa dengan pesawat Lion Air JT610.

rzn/hp (ap, bloomberg, wsj, nytimes)

Tonton video 01:06

Lion Air JT610 Alami Kerusakan Speed Indicator