Bocah Perempuan dengan Seragam Militer Dijadikan Martir oleh Presiden Turki | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 27.02.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Sosbud

Bocah Perempuan dengan Seragam Militer Dijadikan Martir oleh Presiden Turki

"Apa kamu ingin jadi martir?" Demikian Erdogan bertanya kepada bocah perempuan berusia 6 tahun dan berseragam tentara, yang tak henti menangis. Presiden Turki kini dituduh jadikan anak-anak alat propaganda.

Dalam sidang partainya, AKP di daerah Kahramanmaras di Anatolia, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memanggil seorang anak perempuan untuk naik ke atas panggung. Anak itu mengenakan seragam militer. "Apa kamu ingin jadi martir?" Tanya Erdogan kepada anak berusia enam tahun itu. Ketika anak itu mulai menangis, Erdogan menegur dengan kata-kata: "Tentara tidak menangis". Ia menambahkan juga, "Kalau kamu gugur, kami akan menyelubungi kamu dengan bendera".

Penampilan Erdogan dengan bocah itu menyulut hujan kritik dari netizen. Seorang dari mereka yang bernama @emilezolam menulis di Twitter, "negara bukan berdiri untuk membunuh anak-anak, melainkan untuk menjamin hidup baik bagi mereka".

Sementara @tuyocu mengkritik situasi yang terpaksa dihadapi anak-anak di Turki. "Pengantin anak-anak, jenasah anak-anak, eksploitasi anak-anak, martir anak-anak. Ini bukan negara, melainkan jebakan buat anak-anak."

@GaziCaglar juga berang karena anak-anak disalahgunakan untuk tujuan politik: "Ada banyak penyalahgunaan anak-anak. Salah satu yang paling menjijikkan adalah jika otokrat menggunakan anak-anak untuk show politiknya, dan orang tua memberikan izin. Ada sekelompok pemberi suara yang akan tercatat dalam sejarah sebagai pelindung penyalahgunaan anak-anak."

Baca juga: Aksi Protes Terhadap Erdogan Kembali Meluas di Turki

Pendukung Erdogan juga bisa berciut

Tapi pendukung Erdogan juga bisa menggunakan Twitter, dan melancarkan ciutan balasan. Misalnya @mrtdrs_79 yanmenulis: "Lihat tuh, para orang tolol. Rasa cinta bagi Recep Tayyip Erdogan tidak bisa dibeli hanya dengan pasta dan arang."

Sementara pemakai Twitter lain bernama @enesiovic mengajak semua netizen "Mari kita tutup bersama malam ini dengan memandang pria besar Recep Tayyip Erdogan."

Bocah sebagai alat propaganda di Turki

Tapi itu sebenarnya bukan contoh pertama penggunaan anak-anak sebagai alat propaganda. Sehari sebelumnya, televisi pemerintah TRT sudah menyiarkan lewat situsnya, rekaman video berisi pesan seorang anak laki-laki yang juga berusia sekitar enam tahun.

Dalam video, bocah bernama Isa mengatakan, "Ayah saya berjuang bersama rekan-rekannya dalam Pasukan Pembebasan Suriah melawan organisasi separatis PKK, bersama tentara Turki. Semoga Tuhan melindungi semua pejuang kita, dan melimpahkan kemenangan. Saya berterimakasih kepada presiden, yang bagi saya seperti kakek. Karena berkat Tuhan dan presidenlah, saya bisa bersekolah dan hidup dalam kedamaian. Semoga Tuhan memberkati presiden dan negara Turki".

Baca juga: Trauma Pengungsi Anak-Anak Dari Suriah

Video itu berakhir dengan gambar di mana sang bocah bersama seorang anak lainnya memandang foto ayahnya yang mengenakan seragam militer.

Pengacara Seda Akço Bilen, yang ahli dalam masalah hak anak-anak mengungkap sejumlah kesepakatan internasional yang sudah ditandatangani Turki. Menurut kesepakatanm anak-anak tidak boleh diikutsertakan dalam konflik bersenjata apapun. Jika perjanjian tidak ditepati, anak-anak menjadi korban terbesar perang, demikian Bilen.

Penulis: Melis Yüksel, Ceyda Nurtsch (ml/hp)

 

 

Laporan Pilihan