1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

100112 Tibet Selbstverbrennungen

10 Januari 2012

Gelombang aksi bakar diri warga Tibet di Cina berlanjut. Akhir pekan lalu, tiga biksu membakar diri sebagai protes terhadap politik Tibet yang dijalankan pemerintah Cina. Seorang diantaranya biksu berkedudukan tinggi.

https://p.dw.com/p/13gyd
Seorang warga Tibet membakar diri di New Delhi, November 2011Foto: dapd

Ini merupakan aksi bakar diri warga Tibet ke-15 kali sejak Maret tahun lalu. Biksu Nyage Sonamdrugyu membakar diri di depan kantor polisi di Darlag, provinsi Qinghai. Pemancar "Radio Free Asia" di Amerika melaporkan, Nyage sebelumnya menyebarkan selebaran bertuliskan, ia bukan mencari popularitas pribadi tetapi mati demi Tibet dan kebahagiaan rakyatnya.

Setelah tewasnya Nyage, terjadi kerusuhan di Darlag. Seorang jurubicara pemerintah eksil Tibet mengatakan, ratusan warga Tibet turun ke jalan mengusung sisa-sisa jasad Nyage. Sebaliknya KB resmi Cina Xinhua memberitakan, jenasah diserahkan kepada pihak keluarga dan dimakamkan sesuai adat setempat.

Gelombang aksi bakar diri di Tibet mendapat bobot baru dengan adanya insiden hari Minggu, kata Kai Müller, pemimpin "Kampanye Internasional untuk Tibet“ yang berpusat di Jerman.

Indien neuer Ministerpräsident der tibetischen Exilregierung Lobsang Sangay
Lobsang Sangay dan Dalai LamaFoto: AP

"Insiden itu istimewa dilihat dari berbagai aspek, karena menyangkut orang berkedudukan tinggi, seorang Rinpoche, warga Tibet yang mendapat gelar kehormatan sebagai guru Budha, atau Lama. Ia menduduki posisi istimewa dalam masyarakat di sana“, kata Müller.

Jawaban bagi kekuasaan

Sejak perlawanan rakyat Tibet awal tahun 2008, selalu muncul ketegangan antara warga Tibet dan aparat keamanan Cina. Salah satu tempat yang sering menyaksikannya adalah biara Kirti di kota Ngaba, provinsi Sichuan. Di sinilah terjadi aksi bakar diri pertama biksu Tibet, tahun 2009. Sejak 10 bulan terakhir 10 biksu dan biksuni membakar diri di sini, mendorong pemerintah Cina menutup akses masuk ke biara yang menampung 2.000 biksu tersebut. Sekitar 300 diantaranya, menurut kelompok eksil Tibet, dibawa aparat Cina ke tempat yang tidak diketahui. Beberapa masih belum kembali. Pemerintah Cina mengatakan, para biksu dan biksuni menjalani 'kampanye pendidikan patriotik'.

Bagi PM pemerintah eksil Tibet, Lobsang Sangay, gelombang aksi bakar diri menegaskan keputusasaan rakyat Tibet di Cina. Setiap orang biasanya memilih hidup, kata Sangay.

“Tetapi warga Tibet ini mengatakan, lebih baik mati daripada hidup. Hanya orang yang berada dalam situasi begitu sulit dan tragis yang akan memutuskan demikian. Membakar diri sendiri adalah jawaban bagi kekuasaan Cina di Tibet. politik Tibet yang dijalankan Cina keras dan tidak berfungsi", kata Sangay.

Tak dukung protes

Beijing menganggap pemerintah eksil Tibet dan Dalai Lama bertanggungjawab atas gelombang aksi bakar diri. Lobsang Sangay menolak. Ia melihat, alasan aksi bakar diri lebih pada politik Tibet yang dijalankan Cina.

“Saya sudah katakan, kami tidak mendukung aksi protes dan bakar diri di Tibet. Kami paham konsekuensi bila melakukan protes. Orang ditangkap, disiksa bahkan dihilangkan. Secara terbuka dan pribadi kami katakan, itu tidak baik. Kami juga katakan, hidup ini berharga“, kata Sangay.

Sementara itu aparat Cina mengumumkan kontrol ketat terhadap biara-biara Tibet. "Kampanye patriotik" bagi para biksu dan biksuni akan dilanjutkan.

Christoph Ricking/ Renata Permadi

Editor: Hendra Pasuhuk