Bisnis Piala Dunia | dunia | DW | 16.05.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Bisnis Piala Dunia

Para pebisnis dan terutama para sponsor Piala Dunia 2006 pun berharap dapat meraup keuntungan besar sebelum dan selama perhelatan sepak bola terbesar sejagat ini.

Logo Allianz di stadion München harus diturunkan karena Allianz bukan sponsor Piala Dunia

Logo Allianz di stadion München harus diturunkan karena Allianz bukan sponsor Piala Dunia

Tiga minggu menjelang Piala Dunia 2006 di Jerman, para sponsor makin gencar mempromosikan produk mereka. Diantara ke-15 sponsor resmi untuk pesta sepak bola terbesar dunia terdapat sejumlah merek dagang terkenal seperti Coca Cola, produsen peralatan olah raga Adidas dan McDonalds. Selain itu, enam perusahaan Jerman terpilih sebagai mitra FIFA dalam penyelenggaraan Piala Dunia kali ini, misalnya perusahaan kereta api Jerman "Deutsche Bahn" dan Postbank, bank jawatan pos Jerman.

Hak Eksklusif Sponsor

Hanya para sponsor dan mitra nasional inilah yang berhak menggunakan istilah resmi "FIFA Weltmeisterschaft 2006" atau Piala Dunia FIIFA 2006. Perusahaan yang nekat memanfaatkan demam Piala Dunia untuk mengiklankan produk mereka, terancam denda tinggi, kata Andreas Herren, juru bicara Organisasi Sepak Bola Dunia FIFA.

Sponsor resmi Piala Dunia 2006 masing-masing membayar 45 juta Euro atau sekitar 560 miliar Rupiah untuk hak eksklusif pengunaan trademark FIFA dalam promosi produk mereka di seluruh dunia. Perusahaan yang keluar sebagai pememang dalam persaingan ketat untuk mendapat paket sponsor resmi Piala Dunia 2006 sudah ditentukan tiga tahun lalu. Sementara, para mitra nasional Jerman yang membayar 13 juta Euro atau 160 miliar Rupiah, hanya berhak menggunakan istilah Piala Dunia dalam iklan dalam negeri.

Akan Didenda Tinggi

Menurut juru bicara FIFA Andreas Herren, perusahaan internasional dan Jerman yang berminat menjadi sponsor Piala Dunia tak hanya membayar untuk hak penggunaan trademark FIFA. Mereka juga menyumbangkan Know-How dan layanan jasa yang terjamin oleh nama baik para sponsor. Misalnya, oleh sponsor internasional seperti penerbangan Emirates dan perusahaan telekomunikasi Jerman Deutsche Telekom.

Lalu, bagaimana dengan perusahaan yang mau memajukan bisnis mereka dengan mengatas-namakan ajang sepak bola FIFA? Mereka harus membayar mahal. Saat Piala Dunia 2002, FIFA berhasil mengungkap 1.900 kasus pembajakan di 88 negara. Sekitar 3,2 juta produk palsu ditahan di seluruh dunia. Untuk tahun ini, produk yang menggunakan istilah "Fußball-Weltmeisterschaft 2006" atau “Piala Dunia 2006“ dilindungi secara khusus. Ini juga berlaku bagi singkatan “WM 2006“. Perusahaan yang melanggar hak paten merek dagang ini terancam denda tinggi. Demikian dijelaskan Martin Chakraborty, pakar hak paten kantor pengacara Lovells di Düsseldorf.

Menonton Tanpa Baju?

Ini tak hanya berlaku bagi pebisnis yang menjual kaos bajakan. Pihak penanggung jawab stadion pun dapat menuntut hak ekslusif mereka selama pertandingan Piala Dunia berlangsung. Penjaga pintu stadion dapat meminta penonton yang mengenakan kaos berlogo bajakan untuk menutupi atau bahkan menanggalkan pakaiannya. Penonton yang menolak bisa dilarang masuk stadion, kata Martin Chakraborty. Tapi Chakraborty juga menambahkan:

Pada akhirnya hak pribadi dan kebebasan pengunjung stadion lebih penting. Penonton bebas memilih pakaian yang mau dikenakan dan kebebasan tersebut tidak dapat dibatasi penanggung jawab stadion.”

FIFA vs AOL

Ketatnya pengawasan FIFA atas hak paten selama Piala Dunia sempat berujung sengketa antar penanggung jawab stadion AOL-Arena di Hamburg. Pasalnya, perusahaan perangkat lunak AOL menggunakan istilah Piala Dunia dalam iklan mereka yang menyebutkan “AOL-Arena, stadion penyelenggara WM 2006”. Padahal, AOL bukan sponsor resmi Piala Dunia. Menurut FIFA, AOL tak berhak menggunakan ajang sepak bola terbesar dunia untuk mengiklankan namanya. Bahkan, FIFA mengancam akan membatalkan semua pertandingan yang seharusnya diselenggarakan di stadion Hamburg. Sikap yang berlebihan menurut pakar hukum Martin Chakraborty.

Kompromi

Lain lagi kasus produsen bir Amerika “Anheuser Busch” yang juga merupakan sponsor resmi Piala Dunia. Perusahaan yang terkenal karena bir “Budweiser“ atau “Bud“ tidak dapat menggunakan nama tersebut di Jerman. Namanya terlalu mirip dengan merek bir Jerman “Bitburger“ atau “Bit“ yang dilindungi hak paten. Kedua perusahaan minuman itu akhirnya menyepakati jalan tengah. Perusahaan Amerika “Anheuser Busch“ mendapat izin mempromosikan “Bud“ di Jerman. Sebagai gantinya, bir Jerman “Bit“ boleh dijual di stadion-stadion selama pertandingan Piala Dunia berlangsung.

Satu lagi sengketa yang berhasil diselesaikan dengan damai. Namun, FIFA tak selalu menemukan penyelesaian yang ideal. Dalam masalah transpor selama Piala Dunia misalnya. Hyundai, produsen mobil yang namanya tercantum di jajaran sponsor resmi, tidak mengekspor bis ke Eropa. Dan perusahaan otomotif Korea itu tak berencana untuk membuat pengecualian selama Piala Dunia. Alhasil, selama Piala Dunia para pemain akan menumpang bis Mercedes, yang bintang segitiga dalam lingkarannya ditutupi logo Hyundai.

Iklan