Bisakah Obama Andalkan Eropa? | dunia | DW | 21.01.2013
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Bisakah Obama Andalkan Eropa?

Barack Obama dilantik untuk masa jabatan yang kedua, yang penuh dengan masalah urusan dalam negeri. Ia berharap bisa mengalihkan masalah internasional ke Uni Eropa. Tapi sanggupkah Eropa?

Apakah Uni Eropa bisa dan mampu mempertahankan Eropa yang liberal jika Rusia berpaling dari barat, Turki tidak bisa bergabung dengan Uni Eropa, dan sekeliling Eropa berada di ambang kehancuran?

Dan apakah Uni Eropa akan menjadi mitra yang dapat diandalkan Amerika selain negara lain di Eropa jika pemerintah di Washington kekurangan sumber dan keinginan untuk tetap menjadi polisi global dari dunia yang terus bergolak?    

Kedua pertanyaan ini mungkin akan menentukan agenda Eropa di masa jabatan yang kedua dari Presiden AS Barack Obama .

Masalah Dalam Negeri

Krisis keuangan membuat Amerika sadar akan keterbatasan kekuasaannya. Obama menyadari, bahwa peran negaranya berubah karena utang publik besar-besaran dan pengalaman pahit pasca perang Irak dan Afghanistan.

Krisis memaksa warga Amerika untuk lebih berfokus pada negaranya dan apa yang mereka lihat tidaklah positif. Jadi tidaklah heran, jika upaya sang presiden adalah reformasi bagi Amerika dan bukan transformasi dunia.

Butuh Mitra Kuat

Untuk mengulur waktu bagi Amerika, Obama perlu tahu seberapa efektif Uni Eropa sebagai kekuasaan regional dan ambisi Uni Eropa menjadi kekuasaan global.

Symbolbild Flaggen Europafahne und US-Flagge

AS akan lebih andalkan Eropa untuk atasi krisis global.

Kini cukup jelas, bahwa AS tidak punya sumber daya untuk meneruskan keterlibatannya di daerah konflik seperti Balkan atau Ukraina. Hubungan Obama dengan Rusia sudah jadi 'sejarah' dan Washington ingin mengalokasikan semua masalah Eropa ke Brussel.

Tapi bisakah Obama mengandalkan Uni Eropa untuk menangani Moskow? Bisakah Obama mengalihkan masalah seluruh Eropa ke sebuah perhimpunan yang tengah mengalami krisis terparahnya?

Banyak yang skeptis di Washington. Tapi Obama tidak punya banyak pilihan.

Kekhawatiran akan Inggris

Krisis Euro dan perpecahan Uni Eropa adalah kekhawatiran utama Gedung Putih pada  tahun 2012 lalu. Pada awal masa jabatannya yang kedua ini, Inggris yang menjadi fokus Obama. 

Tidak sulit untuk memprediksi, bahwa Uni Eropa tanpa Inggris akan semakin kecil dan tidak berarti. Jadi penolakan Inggris untuk terlibat dalam Uni Eropa hanya berarti masalah lebih besar bagi Washington. Pertanyaan logis berikutnya adalah : Apakah AS cukup berpengaruh untuk menahan Inggris agar tetap berada di Uni Eropa?

Tema-tema besar hampir tidak pernah ada lagi dalam hubungan bilateral Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Tidak Ada Strategi Besar

Perspektif wilayah perdagangan bebas adalah satu-satunya usulan besar yang masih dipertahankan. Ini tidak hanya menarik bagi komunitas bisnis, tetapi juga bagi mereka yang percaya kebangkitan dunia barat.

Apa yang bisa diharapkan warga Eropa dan Uni Eropa dari masa jabatan kedua Barack Obama? Sayangnya, tidak banyak.

Ivan Krastev, Centre for Liberal Strategies

Ivan Krastev

Presiden Obama tidak punya strategi jelas bagi Uni Eropa. Ia hanya memiliki kekhawatiran dan harapan. Keseimbangan antara ketakutan dan harapan yang akan menentukan kebijakannya dalam masa jabatannya yang kedua.

Analisa Ivan Krastev, pimpinan pusat strategi liberal di Sofia dan anggota dewan pendiri Dewan Eropa bagi Hubungan Internasional.