1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Aksi protes menuntut keringanan utang bagi negara-negara miskin di Kementerian Keuangan Jerman di Berlin
Aksi protes menuntut keringanan utang bagi negara-negara miskin di Kementerian Keuangan Jerman di BerlinFoto: Christian Mang/REUTERS

Bisakah G7 Meringankan Beban Utang Negara Miskin?

Kristie Pladson
27 Juni 2022

G7 meluncurkan rencana pembangunan infrastruktur untuk membantu negara berkembang dan melawan pengaruh Cina. Tetapi bagi banyak negara miskin, masalahnya adalah beban utang yang makin tinggi.

https://www.dw.com/id/bisakah-g7-meringankan-beban-utang-negara-miskin/a-62276199

"G7 memang forum informal, tetapi mereka sangat kuat, dan mereka dapat melakukan hal-hal yang sangat kuat," kata Max Lawson dari organisasi bantuan OXFAM. Dia menyerukan kepada para pemimpin G7 yang sedang berkumpul di Schloss Elmau di Jerman untuk membuat Prakarsa penghapusan utang bagi negara-negara termiskin.

"Ini benar-benar (situasi) dramatis," kata Stormy-Annika Mildner, direktur eksekutif Lembaga tangka pemikir Aspen-Institut di Jerman kepada DW. "Mereka membayar hampir lebih banyak untuk melunasi utang mereka daripada mendapatkan bantuan baru."

Sayangnya, pembatalan utang tidak ada dalam agenda G7 tahun ini. Pada hari Minggu (26/7) para pemimpin G7 mengumumkan prakarsa "Kemitraan untuk Infrastruktur dan Investasi Global," sebuah komitmen untuk mengumpulkan dana USD 600 miliar selama lima tahun untuk membiayai pembangunan infrastruktur di negara berkembang. Inisiatif ini dimaksudkan untuk melawan pengaruh Cina dan proyek infrastrukturnya Belt and Road Initiative yang bernilai triliunan dolar dan sekarang sedang berlangsung di seluruh Asia dan Afrika.

Aksi protes di Filipina terhadap KTT G7 di Jerman
Aksi protes di Filipina terhadap KTT G7 di JermanFoto: George Buid/ZUMAPRESS/picture alliance

Beban utang yang melumpuhkan

Dunia secara efektif menghadapi tiga krisis – fiskal, energi dan pangan – pada saat yang bersamaan, kata Stormy-Annika Mildner. Dan itu terjadi di tengah krisis iklim dan kesehatan yang sedang berlangsung. "Ini paling banyak menyerang negara-negara yang masih belum pulih dari krisis kesehatan. Negara-negara ini menghabiskan banyak uang dan ruang fiskal mereka menjadi sangat, sangat sempit," katanya.

Ini adalah situasi yang dialami banyak negara Afrika, jelas Edwin Ikhuoria, direktur divisi Afrika dari ONE, sebuah LSM yang berjuang untuk mengakhiri kemiskinan dan penyakit yang dapat dicegah. "Mereka sama sekali tidak memiliki ruang fiskal untuk menanggapi kebutuhan rakyat mereka sendiri," katanya kepada wartawan di ajang KTT G7.

Kesulitan keuangan ini semakin parah ketika dunia terjerumus ke dalam krisis pangan, yang diperburuk oleh perang Rusia di Ukraina. Hampir 193 juta orang mengalami kerawanan pangan akut pada tahun 2021, menurut Program Pangan Dunia WFP, bertambah 40 juta orang dari tahun sebelumnya.

Max Lawson dari OXFAM menunjuk pada kreditur swasta, bersama dengan perusahaan makanan dan energi, yang telah meraup keuntungan terbesar dalam beberapa bulan terakhir ketika konsumen sedang berjuang untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

"[Negara-negara miskin] menghabiskan lebih banyak untuk membayar BlackRock daripada gabungan kesehatan atau pendidikan," katanya kepada wartawan, menyebut nama perusahaan investasi terbesar dunia itu. Selain meminta para pemimpin G7 membatalkan utang negara-negara termiskin, dia meminta G7 untuk memaksa kreditur swasta untuk melakukan hal yang sama.

Mengapa tidak meringankan beban utang?

Bagi Stormy-Annika Mildner, ini adalah masalah geopolitik. "Jika kita serius ingin memastikan bahwa negara-negara yang ragu-ragu tidak mendekat ke Cina dan Rusia, maka perlu ada kontribusi keuangan dan perlu ada keringanan utang," katanya.

Prakarsa pembangunan infrastruktur yang diumumkan G7 adalah langkah yang baik, tambahnya, tetapi dia memperingatkan bahwa G7 pada dasarnya hanya mengulang komitmen yang telah dibuatnya tahun lalu, yang belum mencapai banyak hal.

Edwin Ikhuoria mengatakan kepada DW bahwa dana yang dijanjikan kepada negara-negara miskin oleh negara-negara kaya dan organisasi-organisasi internasional sering menjadi sorotan publik, tetapi banyak dariprogram itu gagal mencapai mereka yang paling membutuhkannya. Ketika ditanya apakah G7 adalah forum yang tepat untuk memerangi kelaparan dan kemiskinan, dia mengatakan G7 akan "tetap berkumpul, dan mereka menghabiskan ratusan juta setiap tahun bersama-sama."

"Jadi mereka juga dapat memutuskan bahwa inilah saatnya untuk memasukkan, bukan hanya visi, tetapi sumber daya dan rencana untuk mengakhiri krisis kelaparan," katanya. "Karena mereka sebenarnya bisa... Setidaknya ratusan juta yang mereka keluarkan tidak boleh sia-sia." (hp/vlz)