Bidan Witnowati Raih Penghargaan Hermann-Gmeiner 2006 | Sosial | DW | 04.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Bidan Witnowati Raih Penghargaan Hermann-Gmeiner 2006

Seorang bidan bernama Witnowati yang berasal dari Cipatujah Tasikmalaya tiba-tiba menjadi perbincangan di Jerman dan Austria.

SOS Kinderdorf di Jerman tahun 2005 lalu rayakan 50 tahun keberadaannya

SOS Kinderdorf di Jerman tahun 2005 lalu rayakan 50 tahun keberadaannya

Perempuan yang baru berusia 32 tahun ini memenangkan penghargaan Hermann Gmeiner 2006 dan berhak atas hadiah uang sebesar 15 ribu Euro atau sekitar 180 juta rupiah. Penghargaan ini diberikan setiap dua tahun kepada sosok yang dianggap berprestasi dalam bidang kemanusiaan, pekerjaan, olahraga, pendidikan atau kebudayaan.

Namun penghargaan ini hanya bagi mereka yang dulunya dibesarkan di salah satu dari SOS Kinderdorf yang terbesar di seluruh dunia. SOS Kinderdorf adalah semacam perkampungan yang didirikan oleh Yayasan Hermann Gmeiner di wilayah-wilayah tertentu bagi anak-anak yang berasal dari keluarga miskin dan yatim piatu. Di sana mereka memiliki orang tua asuh yang membimbing mereka dan mereka juga memperoleh pendidikan yang layak. Dulunya, Witnowati juga salah seorang dari anak-anak yang besar di SOS Kinderdorf.

Witnowati berasal dari keluarga yang tidak mampu. Bahkan di daerah asalnya sarana untuk bisa bersekolah pun saat itu masih minim. Witnowati menceritakan, bahwa pemasukan keluarganya bergantung pada hujan. Kalu hujan turun, mereka bisa menanam padi. Kalau tidak, bisa paceklik.

Nasib Witnowati mulai berubah saat ia terpilih untuk menjadi anak asuh SOS Kinderdorf di Lembang. Saat itu, ia baru berusia 8 tahun. Ia tinggal bersama anak-anak lain dan seorang ibu asuh seperti layaknya sebuah keluarga normal. Pada masa liburan sekolah barulah ia bisa kembali ke kampungnya untuk berkumpul kembali bersama keluarganya. Masih menjadi anak SOS Kinderdorf, setelah lulus SMP Witnowati memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Perawat. Ia mengatakan bahwa menjadi perawat memang cita-cita awalnya.

Setelah dapat bekerja sendiri, Witnowati pun lepas dari SOS Kinderdorf. Sebagai bidan, ia sempat melanglang buana ke Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur sebelum akhirnya kembali ke daerah Bandung. Di desa Cibodas, Lembang, Witnowati membuka praktek pertamanya bersama suaminya. Ia menyewa sebuah garasi kosong dan satu kamar. Kamar ia pakai untuk ruang tidur keluarganya dan garasi untuk tempat praktek.

Witnowati dikenal warga Cibodas sebagai Bidan Wiwit. Namun Witnowati tidak hanya berperan sebagai bidan saja. Karena rumah sakit terdekat jauh letaknya dan puskesmas kalau malam tutup, maka Witnowati bisa dibilang adalah P3Knya desa Cibodas. Ia harus siap setiap saat pintu rumahnya diketuk untuk dimintai pertolongon.

Tidak dibutuhkan waktu lama, hingga garasi tempat ia praktek tidak memadai lagi untuk menampung pasien yang terus bertambah jumlahnya. Akhirnya, Witnowati terpaksa mengambil keputusan yang cukup berani. Tiga tahun yang lalu, ia menjual seluruh tabungan ternaknya. 20 ekor sapi ia tukar untuk memperoleh lahan seluas 1.000 meter persegi. Di sanalah ia mendirikan klinik bersalin dan perawatan bagi ibu hamil. Saat ini ia mempekerjakan tiga orang yang membantunya dan seorang bidan lain. Ini adalah klinik bersalin pertama di daerah tersebut.

Witnowati memang lain daripada yang lain. Namun, ia selalu kembali mengatakan bahwa ini adalah berkat dukungan suami dan anak-anaknya. Sang suami meninggalkan pekerjaan lamanya untuk mendukungnya dalam mengelola klinik. Keempat orang anaknya bahkan juga membantunya dengan secara bergantian menjaga klinik. Perempuan muda yang penuh semangat ini sebenarnya orang yang sangat sederhana. Ia tidak langsung percaya, saat ia diberitahu bahwa ia memperoleh penghargaan Hermann Gmeiner.

Dengan hadiah uang dari penghargaan itu, Witnowati menjadi jutawan baru. Namun, ia tidak terpikir untuk menggunakan uang itu selain untuk membenahi kliniknya dengan peralatan-peralatan medis yang masih ia butuhkan. Christian Honold, ketua harian Yayasan Hermann Gmeiner, sempat bertemu langsung dengan Witnowati di kota Innsbruck, Austria saat penyerahan penghargaan tersebut. Honold mengungkapkan kekagumannya akan kegigihan perempuan tersebut.

"Bagi saya ini adalah prestasi luar biasa. Dengan kompetensi sosialnya dan kebaikan hatinya ditambah profesionalitasnya di bidang kedokteran ia berhasil membantu masyarakat setempat yang benar-benar membutuhkannya. Gabungan antusiasme, cara berpikirnya yang selalu positif dalam keadaan sesulit itu serta pengalamannya sebagai bidan bertahun-tahun menunjukkan betapa hebatnya kepribadian perempuan ini.“

  • Tanggal 04.12.2006
  • Penulis Vidi Legowo
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPVo
  • Tanggal 04.12.2006
  • Penulis Vidi Legowo
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPVo