Biayai Rekonstruksi Gaza, Presiden al Sisi Gandakan Pengaruh Politik | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 11.06.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Mesir

Biayai Rekonstruksi Gaza, Presiden al Sisi Gandakan Pengaruh Politik

Mesir mengucurkan USD 500 juta untuk pembangunan kembali Jalur Gaza sebagai bagian mediasi gencatan senjata antara Hamas dan Israel. Pengamat menilai langkah Kairo menyimpan ambisi politik Presiden Abdel Fattah al Sisi.

Presiden Mesir, Abdel Fattah al Sisi

Presiden Mesir Abdel Fattah al Sisi

Presiden Abdel Fattah al Sisi menjanjikan kucuran dana hibah untuk membangun kembali Gaza pasca serangan balasan Israel selama 11 hari yang ikut meluluhlantakkan sejumlah infrastruktur inti. 

Sisi banyak dipuji setelah berhasil menegosiasikan gencatan senjata antara Hamas dan Israel 21 Mei silam. Pujian antara lain datang dari Presiden AS, Joe Biden. 

Paket bantuan itu hadir dalam proyek-proyek konstruksi yang nantinya akan dikerjakan perusahaan Mesir. Cara serupa selama ini sukses diterapkan di dalam negeri, seperti pembangunan ibu kota baru atau jalan tol.

"Tidak diragukan, Sisi menganggap bantuan rekonstruksi sebagai sebuah investasi demi pengaruh politik, baik di Gaza atau di dunia internasional,” kata Sarah Smierciak, pakar politik dan ekonomi Timur Tengah, kepada AFP.

Mesir yang menutup erat pintu perbatasan Rafah, satu-satunya akses internasional Jalur Gaza yang tidak dikontrol Israel, bersikap tak lazim saat membuka perbatasan untuk korban luka yang butuh perawatan. 

"Bantuan ini akan menambah bobot Mesir di kalangan tokoh Palestina,” kata Mustapha Kamel al-Sayyid, Guru Besar Ilmu Politik di Universitas Kairo. "Rekonstruksi ini sudah pasti menjadi bagian dari upaya Mesir menambah pengaruhnya di kawasan.”

Palestina sebagai tunggangan politik

Perubahan sikap di Kairo terkait isu Gaza muncul di tengah normalisasi hubungan diplomasi dengan rival politik lain, yakni Turki dan Qatar. Kedua negara sempat menjarak dari lingkar politik Arab Saudi, namun belakangan kembali merajut relasi politik sejak beberapa bulan terakhir.

Selama ini Mesir menganggap Hamas sebagai sekutu Ikhwanul Muslimin. Gerakan pan-Islamisme itu menjadi momok bagi militer Mesir usai kemenangan pemilu pada 2012, yang memicu aksi kudeta. 

Peta perbatasan internasional Jalur Gaza

Peta perbatasan internasional Jalur Gaza

Baru ketika Hamas mencabut dukungan bagi IM pada 2017, Kairo "mengubah sikapnya,” terhadap penguasa Gaza, kata Sayyid. Sejak itu Sisi giat memediasi perpecahan internal Palestina antara Hamas dan Fatah.

"Bantuan rekonstruksi menempatkan Mesir sebagai mitra yang bisa dipercaya bagi Hamas. Tidak lama lagi kita akan menyaksikan Hamas membantu Mesir mengamankan perbatasan Rafah,” imbuhnya merujuk pada tuduhan Kairo terkait penyelundupan senjata oleh Hamas.

Namun Smiercak mengatakan Mesir bisa saja menggunakan kucuran bantuan untuk memarjinalkan Hamas, yang bagaimanapun juga masih "dilihat sebagai ancaman,” terhadap keamanan nasional.

Duit bantuan untuk siapa?

Pekan lalu, Mesir mengirimkan konvoi bantuan ke Gaza, termasuk alat berat dan truk "untuk pembersihan sebelum rekonstruksi,” tulis Kemenlu di Kairo. Sejauh ini belum jelas perusahaan mana yang akan mengerjakan proyek tersebut, "tapi perusahaan militer sudah pasti akan memainkan peranan besar,” kata Smierciak lagi.

Dalam beberapa hari ke depan, Mesir menggelar forum rekonstruksi Gaza yang akan mengundang pihak swasta dan pemerintah.

Meski begitu, Muhammad Samy, Kepala Federasi Konstruksi dan Kontraktor Bangunan Mesir, mengatakan "pekerjaan tidak bisa dimulai sebelum situasi keamanan kembali kondunsif,” ujarnya.

"Gaza punya angkatan kerja yang besar, jadi saya tidak yakin mereka akan berdiam diri dan membiarkan orang asing mengerjakan pekerjaan mereka,” imbuh Samy.

Tapi bagi sebagian warga Mesir yang terbebani pemotongan anggaran sosial, kucuran bantuan bagi Gaza ditanggapi skeptis. "Sebaiknya kita tidak menghibahkan terlalu banyak bantuan,” tulis seorang pengguna Twitter asal Mesir, "kita lebih membutuhkannya mengingat sumber daya yang terbatas dan tingginya angka populasi.”

rzn/vlz (afp,rtr)

Laporan Pilihan