Saat Berliner Beternak Lebah di Pekarangan Rumah | JERMAN: Berita dan laporan dari Berlin dan sekitarnya | DW | 18.07.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Peternakan

Saat Berliner Beternak Lebah di Pekarangan Rumah

Tak bisa sembarang membangun rumah lebah dan mengumpulkan madu. Untuk menjadi seorang peternak lebah di Jerman dibutuhkan pelatihan khusus, komitmen, dedikasi waktu dan tenaga sebelum menikmati manisnya panen madu.

Ein berliner Imker (DW/S. Caroline)

Peternak lebah di Berlin, Jerman.

Lebah tak hanya menghasilkan madu, tapi juga punya peranan penting dalam proses polinasi atau penyerbukan tanaman. Proses polinasi yang baik bantu hasilkan kualitas pangan yang bermutu. Sayangnya jumlah serangga terbang Eropa dan Amerika Utara berkurang hingga 75% sejak tahun 1989, berdasar penelitian PLOS ONE di tahun 2017.

Monika Roefke dan putranya, Marc Roefke punya peranan penting sebagai imker (red. peternak lebah) dalam menambah populasi lebah di Berlin. Sejak tahun 1989, Monika menjalankan profesi ini. “Awalnya belajar dari ayah teman saya, Inggrid, yang adalah imker. Lalu ini jadi hobi saya, lebah tinggal di pekarangan dan sekarang kita punya lima rumah lebah.” Jelas Monika.

Satu rumah lebah dapat menampung hingga 80.000 lebah. Bagi Monika melihat lebah beterbangan di musim semi adalah suatu keindahan tersendiri karena lebah tak hanya menghisap nektar dan menghasilkan madu tapi juga turut menyerbuki tanaman dan bunga lainnya.

 

Proses Menjadi seorang Peternak Lebah di Jerman

Untuk mendirikan rumah lebah di pekarangan rumah, pertama-tama kita harus mengecek, apakah ada tanaman atau pohon berbunga di sekitaran tempat dimana rumah lebah ingin didirikan?

Keluarga Roefke punya banyak tanaman berbunga di kebun mereka antara lain Pfingstrose(red. Peony), Daisy, Magnolia, Stiefmütterchen(red. Pansi liar), hingga pohon Linden, pohon yang bunganya jadi favorit para lebah, pohon apel, pohon plum, dan pohon Ceri. Tak jauh dari rumah mereka ada juga pohon Kastania dan ladang tanaman Raps(red. Canola).

Jika tanaman terlalu jauh dari rumah lebah, ini akan membuat madu yang dihasilkan tidak terlalu banyak, karena lebah harus pergi mengumpulkan madu yang jauh dari rumahnya. Lebah madu dapat terbang dengan radius hingga 3 hingga 10 km dari rumah lebah. Sepanjang hidupnya lebah madu hanya dapat terbang sekitar 800 km.

Untuk menjadi peternak lebah di Berlin, seseorang perlu menempuh Fortbildung atau pelatihan khusus yang diselengarakan Deutscher Imker Bund atau Asosiasi Peternak Lebah Jerman. Setiap yang mengambil pelatihan menjadi seorang beekeeper atau peternak lebah harus memiliki komitmen tinggi menjaga lebah-lebah hewan peliharaannya.

Pelatihan ini dibandrol sekitar 150€ atau sekitar Rp. 2.400.000,-. Selama kurang lebih empat bulan para peternak lebah akan belajar dasar-dasar bagaimana mengelola lebah di empat musim berbeda, memberi air gula, memberi obat anti parasit. Setelah kursus selesai mereka dapat membawa sekitar 50.000 lebah pulang dan mulai beternak lebah.

Saat memproduksi madu, para peternak lebah pun dapat membeli label “Echter Deutscher Honig” atau “Madu Asli Jerman”. Ini lebih menarik minat pembeli, karena lebih terpercaya sebagai produk buatan asli lokal. Sekali setahun, pengecekan madu akan dilakukan untuk mengetahui apakah lebah terinfeksi penyakit atau tidak.

Bienenkästen (DW/S. Caroline)

Rumah Lebah keluarga Röfke.

Beberapa Keuntungan Bertani Lebah di Rumah

Beternak lebah di rumah dapat menjaga berlangsungnya proses polinasi tanaman, membuat buah-buahan yang dihasilkan berkualitas baik. Bulan Mei hingga Juli adalah waktu sibuk bagi para peternak lebah, karena panen dimulai. Agustus, lebah-lebah akan mulai beristirahat hingga tahun yang akan datang.

Satu gelas madu (500gr) adalah hasil kerja keras sekitar 200 lebah yang telah mengunjungi sekitar lima juta tanaman – masing masing mengumpulkan 60 mg nektar dan 4 juta serbuk polen sekali terbang. Dari lima rumah lebahnya Keluarga Röfke bisa menghasilkan madu hingga 400 gelas. Madu lokal tentu lebih ramah lingkungan - mengurangi jejak karbon CO2 karena tidak perlu mengimpor madu jauh-jauh dari negara lain.

Selain itu, maggots (red. telur cikal bakal lebah laki-laki) yang dikeluarkan dari sarang dapat menjadi sumber makanan kaya protein burung liar disekitar rumah keluarga Roefke. Bahkan sebagian orang turut memakannya. Telur lebah pria tidak diperlukan dalam rumah lebah karena mereka dapat “menyuburkan” lebah wanita dan membuat ratu baru. Jika ada lebih dari satu ratu, salah satu dari mereka akan mencari tempat tinggal baru dan membawa sebagian besar koloni meninggalkan rumah lebah. Ini berarti akan membuat lebah membangun sarang sembarangan.

Sarang lebah yang telah digiling pada pada mesin diambil madunya dapat dikembalikan ke rumah lebah, para lebah akan memperbaiki sarangnya secara natural. Jika sarang telah rusak, berarti tidak dapat dikembalikan ke dalam rumah lebah. Biasanya para peternak lebah akan mencairkannya sarang menjadi balok lilin dan menukarkannya dengan rangka lilin baru. Rangka baru inilah yang jadi fondasi para lebah membangun sarang tebalnya.

Banyak keuntungan untuk menjadi seorang peternak lebah, namun dibutuhkan komitmen waktu dan tenaga bagi para peternak lebah untuk bekerja dengan para lebah. “Ini sulit terutama di musim semi dan musim panas, dimana cuaca bagus namun kita tidak dapat benar-benar menikmatinya diluar rumah karena sibuk bekerja dengan lebah-lebah dan memproduksi madu. Komitmen yang tidak sedikit meski saya senang punya ribuan hewan peliharaan,” ujar Marc. “Yang sulit saat kotak-kotak rumah lebah berat karena penuh madu. Saya sudah tidak kuat mengangkatnya sendiri…”ujar Monika yang kini menikmati masa pensiunnya dengan beternak lebah dan menjual madu.