Bertinju Sebagai Upaya Mengatasi Kekerasan Remaja | Seri Uni Jerman | DW | 26.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Seri Uni Jerman

Bertinju Sebagai Upaya Mengatasi Kekerasan Remaja

Usia pelaku tindak kekerasan di Jerman semakin muda. Seorang pemilik usaha mebel di Taufkirchen dekat München berusaha mengatasi kekerasan di kalangan remaja dengan olah raga tinju.

default

Setiap tahunnya di kawasan München polisi menemukan 2500 kasus kekerasan yang dilakukan remaja. Jumlah yang selama ini rata-rata tetap, hingga data statistik tahun lalu mengejutkan semua pakar. Jumlah tindakan kriminal yang dilakukan remaja naik dua kali lipat. Trend data statistik yang tidak hanya ditunjukkan kota München tapi juga di seluruh Jerman. Usia pelaku tindak kekerasan semakin muda. Seorang pemilik usaha mebel di Taufkirchen dekat München berusaha mengatasi kekerasan di kalangan remaja dengan „Hand-In“.

Bukan hal yang mudah bagi pengunjung untuk menemukan tempat latihan tinju ini. Karena jalan menuju Hand-In melewati dapur-dapur dan lemari-lemari, seperti layaknya pemandangan yang biasa ditemui di perusahaan mebel. 10 persen pendapatan perusahaan mebel kelas menengah itu digunakan pemiliknya Rupert Voss untuk proyek latihan tinju. Voss sendiri memiliki hobby olah raga tinju dan bersama seorang teman menjalankan proyek Box and Work Company atau Perusahaan Bertinju dan Bekerja atas alasan pribadi

“Kami berkenalan di tahun 2001 dan mengatakan, untuk sasaran kelompok ini, remaja yang terlibat tindak kekerasan ingin berbuat sesuatu. Ini ada hubungannya dengan kematian saudara laki-laki saya, dan dengan kecanduan narkoba saudara laki-laki saya. Itulah titik pangkalnya. Selain itu juga cacat yang diderita saudara saya lainnya.”

Melewati toko mebel ada pintu besi menuju sebuah ruangan, di mana terdapat ruang berlatih tinju. Kota München, badan tenaga kerja dan jawatan instansi lainnya bekerja sama dengan Box and Work Company. Di situ Albert juga berlatih, seorang remaja berusia 17 tahun dari Kosovo Albania. Kata-katanya singkat dan menjawab hanya kalau ditanya

Albert: „Saya dikirim ke sini oleh badan tenaga kerja“

Reporter: „Apa yang tidak mampu dicapai Badan Tenaga Kerja sehingga Anda dikirim ke sini?“

Albert: „Tidak ada tempat pendidikan.“

Reporter: „Kenapa tidak ada?“

Albert: „Saya tidak tahu.”

Reporter: “Apakah masalahnya terletak pada Anda?

Albert: “Tidak, pada mereka!”

Tidak, pada mereka! Orang lain yang salah untuk semuanya, itu adalah pendapat paling khas di kalangan remaja, demikian dikatakan para peneliti remaja. Di sini dengan bertinju, mereka dengan cepat belajar bertanggung jawab untuk dirinya sendiri. Siapa yang tidak berlatih akan merasakan sendiri secara langsung akibatnya dalam bertinju. Werner Makella salah seorang yang ikut meluncurkan gagasan menuturkan

„Dalam seminar pertama, kami di satu sisi merasa heran dimana seorang peserta langsung berhenti dengan kebiasaan merokoknya. Dan pada peserta lainnya, nilai rata-rata sekolahnya menunjukkan perbaikan. Dan disiplin terhadap diri sendiri ini, dimana saya mengambil tanggung jawab lebih besar bagi kehidupan saya menjadi terbina karenanya.“

Jadwal para remaja itu padat Setiap pagi jam setengah delapan latihan dimulai: Pemanasan, lari dan bertinju sampai jam setengah sepuluh. Kemudian para remaja itu harus membantu di pabrik atau di toko mebel. Salah seorang yang sudah berhasil adalah André. Di masa lalu ia sudah memukuli polisi, beberapa kali masuk penjara. Di sini, di kelompok latihan tinju ia tidak hanya belajar mengatasi nafsu melakukan kekerasan, tapi juga melakukan refleksi apa yang terjadi dalam hidupnya. Misalnya apa yang terjadi dengan ibunya

„Ibu, dia pergi dan tidak kembali lagi. Ya, dan ini tentu saja menimbulkan pengaruh. Dan itu kemudian juga terlihat ketika di taman kanak-kanak. Saya memiliki ketakutan besar saat kakek dan nenek membawa saya ke TK. Baru saja mereka menjauh dari Taman Kanak-Kanak, saya langsung lari ke jendela dan berteriak: Dimana kakek dan nenek saya? Kalian meninggalkan saya sendiri! Kalian meninggalkan saya sendiri! Di situ orang sudah dapat melihat apa yang terjadi pada saya. Saya selalu memiliki ketakutan ditinggal sendirian.”

Jika para remaja menunjukkan sikap yang mulai stabil dalam kegiatannya di pabrik, Rupert Voss dan Werner Makella menyalurkan mereka ke perusahaan untuk melakukan praktek kerja. Dituturkan Makella

“Saya tidak mengatakan, hei saya di sini memiliki seseorang yang bermasalah. Ia berumur 16, 17 tahun, yang sudah memukuli dua orang sampai masuk ke rumah sakit. Dan jika Anda bernasib sial, dia juga akan mencuri uang Anda. Tapi saya akan lebih mengatakan, ia bertenaga besar, lebih banyak membutuhkan aktivitas fisik, ia senang melakukan pekerjaan badan. Dan jika Anda memiliki seseorang yang mengurusnya, ia akan setia sekali. Dan jika seorang pengusaha mengatakan Hai, orang seperti itu yang saya cari, maka kami memiliki situasi yang saling menguntungkan.“

Setelah menjalani praktek kerja, para remaja memiliki kemungkinan memasuki kehidupan kerja. Dari 20 remaja pria yang datang ke tempat latihan tinju, hanya beberapa bulan sesudahnya 19 dari mereka mendapat tempat praktek kerja. Bahkan banyak dari mereka ditarik sebagai karyawan. Semakin banyak organisasi dan perusahaan yang mengakui upaya Box-and Work Company. Dari sebuah perusahaan besar dan Gereja, tempat latihan tinju Hand-In telah mendapat penghargaan.