Bergulir, Tanggapan atas Komisi Irak | Fokus | DW | 07.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Bergulir, Tanggapan atas Komisi Irak

Ada yang menyambut hangat, ada yang menolak mentah-mentah, ada yang skeptis, ada pula yang dingin-dingin saja.

default

Itulah ragam reaksi atas laporan Komisi Irak yang diserahkan kepada Presiden Amerika Serikat George W. Bush Rabu (06/12) kemarin.

Menteri Luar Negeri Inggris, Margaret Beckett: "Kami menyambut hangat peluncuran laporan yang sangat berharga itu. Secara umum, pemikiran komisi itu sejalan dengan pandangan kami. Tetapi jelas kita perlu membacanya dengan seksama dan menyimak rekomendasi-rekomendasi resmi mereka. Dan Perdana Menteri Tony Blair berkesempatan membicarakan laporan itu dengan presiden Bush dalam pertemuan di Washington."

Perdana Menteri Inggris Tony Blair memang menjadi pemimpin luar negeri pertama yang bertemu Presiden Bush sesudah peluncuran laporan Komisi itu. Bukan kebetulan, Blair adalah sekutu utama Bush dalam perang Irak. Dan bukan kebetulan pula, beberapa waktu lalu Blair melontarkan pikiran-pikiran barunya yang searah dengan Komisi Irak.

Laporan Komisi yang dipimpin bekas Menteri Luar Negeri James Baker dan bekas anggota Senat Lee Hamilton itu memapar 79 rekomendasi bagi Presiden Bush untuk menangani kekacauan di Irak. Yang sangat disorot adalah perubahan kebijakan besar-besaran, penanganan cepat masalah Palestina, pelibatan Iran dan Suriah dalam berbagai upaya diplomatik Timur Tengah, dan tentu saja penarikan mundur tentara Amerika dari Irak.

Laporan itu, digambarkan oleh Lee Hamilton berintikan tiga hal: "Pertama, suatu perubahan dalam misi utama militer di Irak yang memungkinkan Amerika Serikat memulai penarikan mundur pasukan tempurnya secara bertanggung jawab. Kedua, tindakan cepat dari pemerintah Irak untuk mengambil langkah bersejarah, terutama ihwal rekonsiliasi nasional. Dan ketiga, suatu upaya politik dan diplomatik baru yang mendalam di Irak dan seluruh kawasan."

Sebagian besar warga dunia menyambut hangat. Menteri Luar Negeri Prancis Philippe Douste-Blazy menggambarkannya sebagai laporan yang jernih, yang menggambarkan situasi sebenarnya di Irak. Disebutkan, memang laporan itu tak menentukan jadwal penarikan tentara, namun setidaknya kebutuhan akan hal itu telah dilontarkan. Yang harus dipastikan kemudian adalah proses politik yang melibatkan dan menguntungkan semua rakyat Irak, sekaligus mengucilkan kaum teroris dan ekstrimis.

Sementara Duta Besar Irak di Amerika, Samir al Sumadi, memilih berhati-hati:

" Tidak ada penyelesasian yang gampang. Namun laporan ini sangat berharga untuk jadi bahan pertimbangan. Bukan cuma bagi presiden dan pemerintah Amerika, tetapi juga bagi pemerintah kami. Kami akan mempelajarinya secara sangat seksama, mengkajinya dan memutuskan mana saja gagasan yang bisa dilaksanakan. "

Lain halnya dengan reaksi di Israel. Bisa diduga, kalangan pemerintah Ehud Olmert menolak pandangan Komisi Irak, yang mengaitkan kekerasan di Irak dengan lambannya penyelesaian masalah Israel-Palestina. Para politisi yang berkuasa di Israel juga menolak rekomendasi untuk melibatkan Suriah dan Iran dalam penyelesaian konflik Timur Tengah.

Tetapi sikap ini dikecam oleh para aktivis perdamaian Israel yang tergabung dlam kelompok Damai Sekarang. Kelompok itu mendesak pemerintah Israel untuk menerapkan rekomendasi-rekomendasi yang terkait penyelesaian konflik Israel-Palestina. Menurut kelompok itu, penolakan atas prakarsa politik itu merupakan resep bagi maraknya lagi kekerasan dan meletusnya Intifada yang ketiga.

Sementara itu, pernyataan skeptis muncul dari Daniel Ellsberg. Bekas perwira Amerika pemenang Nobel Perdamaian alternatif tahun ini dengan sinis mengatakan:

"Saya kira malapetaka di Irak, dan berkaitan dengan Irak, akan menjadi malapetaka yang terus bergulir selama bertahun-tahun ke depan. Dan komisi ini, saya kira, tidak bisa berbuat banyak untuk mencegahnya".