Berburu Antibiotik Baru di Jerman dengan Bekal Siput Indonesia | NEGERI ORANG: Kisah unik warga Indonesia di Jerman | DW | 23.10.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Negeri Orang

Berburu Antibiotik Baru di Jerman dengan Bekal Siput Indonesia

Walaupun semua sudah diperhitungkan sebaik mungkin, penelitian tetap bisa mengalami hambatan. Itu salah satu tantangan yang dihadapi Zerlina dalam studi S3 di Universitas Gießen.

Zerlina Wuisan, mahasiswa Indonesia yang studi Bioteknologi di Jerman

Zerlina Wuisan, mahasiswa Indonesia yang studi Bioteknologi di Jerman

Zerlina Gabriela Wuisan lahir di Makassar, tapi merasa sebagai orang Surabaya, karena lama tinggal di sana. Ia juga menyelesaikan kuliah S1 di Surabaya, tepatnya di Universitas Surabaya, jurusan teknobiologi. Untuk mendapat gelar S2 ia berkuliah di Universitas Bonn, jurusan “molecular biology and biotechnology.” Sekarang ia sedang berkuliah S3 di Universitas Gießen, dan topik penelitiannya adalah “natural products”, yaitu senyawa-senyawa yang dihasilkan bakteri secara alamiah. Target penelitiannya adalah mencari antibiotik baru.

Ketika selesai S2 di Universitas Bonn, kebetulan profesor pembimbing Zerlina memulai proyek kerja sama dengan Indonesia, yakni dengan Universitas Sam Ratulangi. Selain itu, jika meneruskan ke S3 di bawah profesor itu, dia bisa mendapat beasiswa dari DAAD, yaitu Dinas Pertukaran Akademis Jerman. Akhirnya karena rasanya “pas semua,” Zerlina memutuskan melanjutkan ke bidang itu.

“Aku ‘excited’ juga karena ada kerja sama dengan Indonesia,” kata Zerlina. Jadi dia mulai bertanya-tanya, apakah yang ada di Indonesia yang bisa ditelusuri mengenai bidang ini. “Seperti kita tahu, di Indonesia juga banyak sumber alam yang belum banyak dipelajari.”

Mau kerja apa dengan bioteknologi?

Waktu mulai berkuliah S1 di bidang bioteknologi, Zerlin belum terpikir akan kerja apa nanti jika sudah selesai kuliah. Dia memilih bidang itu karena tertarik mengetahui ilmunya. “Apa sih ini? Barang baru, kecil, seperti DNA, gak keliatan apa yang dikerjain.” Begitu Zerlina menggambarkan rasa ingin tahunya dulu.

Setelah selesai S1, Zerlina belum melihat kesempatan untuk bekerja di Indonesia. Oleh sebab itu, dia memutuskan melanjutkan kuliah ke Jerman. “Mungkin di Jerman, cabang bioteknologinya lebih maju. Kebetulan dekan fakultasku dulu juga lulusan Jerman. Jadi, ok, ke arah sana,” jelas Zerlina sambal tersenyum. Selain Jerman, dia juga sempat memikikan untuk melanjutkan studi di Australia atau di Singapura, karena dekat. “Tapi Jerman lebih murah.”

Gambar menunjukkan sekelompok orang yang berfoto bersama-sama

Zerlin bersama rekan-rekan di laboratorium

Ketika ditanya apa sekarang sudah tahu nanti akan bekerja dalam profesi apa? Zerlina mengatakan, dia “happy” dengan riset yang sekarang ia kerjakan, “Walaupun ternyata lumayan susah,” demikian ditambahkan Zerlina sambal tertawa. Tapi yang jelas, riset “natural product” masih menarik untuk dia telusuri lebih lanjut.

Tapi ketika ditanya apakah ia ingin bekerja sebagai “scientist”, dia menjawab: “ja und nein”, yang artinya, ya dan tidak. Untuk tahun pertama mungkin dia akan jadi ilmuwan, karena akan menjadi “postdoc” atau peneliti yang baru menyelesaikan studi doktoral. Tapi setelah itu, ia ingin mencoba bekerja di industri. “Memang ‘fundamental research’ bagus. Tapi aku sekarang ingin tahunya, apakah aplikasinya.”

Bahasa Jerman tidak terpakai

"Bahasa Jerman bisa yang untuk kebutuhan sehari-hari. Aku bisanya denger. Kalau ada orang presentasi dalam Bahasa Jerman, aku masih bisa mengerti 70-80%. Tapi kalo disuruh ngomong, karena ga biasa, jadinya ga lancar.” Lingkungan kerjanya, yaitu di laboratorium, sangat internasional. Orang Jerman ada, tapi jumlahnya kurang dibanding rekan yang dari luar Jerman. “Memang di satu sisi bagus, tapi di sisi lain, bahasa Jermannya jadi ga kepake.”

Dia bercerita, pernah seorang “postdoc” yang bekerja bersama mereka menetapkan, hari Selasa harus menggunakan Bahasa Jerman. “Tapi ujung-ujungnya ga jalan, soalnya yang lain ga bisa bahasa Jerman.” Pak profesor juga berusaha beberapa kali berbicara dalam bahasa Jerman. Tapi karena sulit berkomunikasi, akhirnya yang digunakan tetap bahasa Inggris.

Ketika sudah menyelesaikan S2, Zerlina harus pulang terlebih dahulu ke Indonesia, untuk bisa melamar beasiswa DAAD. Sebenarnya DAAD menetapkan, orang-orang yang ingin melamar beasiswa tidak boleh sudah berada di Jerman. Tapi berhubung profesor pembimbing Zerlina bisa ikut memberikan dukungan, akhirnya beasiswa bisa diperoleh, yaitu dengan syarat, Zerlina harus berada di Indonesia ketika melamar.  

Gambar menunjukkan bakteri di wadah khusus

Bakteri-bakteri dari siput yang sedang diteliti Zerlina Wuisan

Bakteri menolak memproduksi senyawa

Tantangan yang ia alami di Jerman selama ini terutama berkaitan dengan riset doktoralnya. Untuk risetnya, dia mengambil sampel dari siput laut di Indonesia. Kemudian ia mempelajari bakteri yang tinggal di siput laut itu, yang memungkinkan siput mempertahankan diri dari predator-predator. Senyawa yang dikandung siput rupanya membuat predator tidak mendekat. Zerlina meneliti apakah senyawa itu bisa digunakan bagi manusia untuk melawan penyakit. Mungkin anti kanker, atau anti virus. Itulah tujuan penelitiannya.

Sebagai anggota tim, yang dia lakukan adalah mengambil bakteri dari siput laut. Kemudian ia analisa, gen-gen apa yang dikandung bakteri, yang bisa digunakan untuk membuat antibiotik. Sedangkan gen-gen apa saja yang bisa digunakan untuk membuat antibiotik sudah ada informasinya dari berbagai studi.

Setelah menemukan gen-gen untuk antibiotik mana saja yang dikandung bakteri, gen-gen itu dia tempatkan ke bakteri lain. Yaitu bakteri, “yang bisa kita atur. Kalau bakteri dari hewan liar susah diatur,” kata Zerlina sambal tertawa, “sedangkan bakteri dari laboratorium sudah kita ‘domesticated’.” Bakteri inilah yang diharapkan akan memproduksi senyawa yang bisa melindungi siput.

Proses memindahkan DNA ke bakteri lain sudah makan banyak waktu. Celakanya lagi, si bakteri yang mendapat DNA, tidak memproduksi senyawa yang diinginkan. Jika itu terjadi, sebagai peneliti, itulah tugasnya untuk mencari tahu, apakah yang jadi penyebabnya? Apakah yang dimiliki bakteri alamiah pembuat senyawa, yang tidak dimiliki bakteri dari laboratorium?

Hidup di Jerman gampang-gampang susah

Dalam hidup sehari-hari di Jerman, Zerlina merasa kurang bisa berbaur dengan orang Jerman. Bisa dibilang, kesempatan untuk berbaur dengan mereka memang kurang pula, karena di tempat kerja hanya ada sedikit orang Jerman. Tapi karena kesibukan kuliah, sehari-hari dia kerap hanya pergi ke laboratorium, kemudian pulang. Di asrama mahasiswa tempat dia tinggal, sebagian besar mahasiswanya lagi-lagi dari luar Jerman. Jika ke gereja, Zerlina biasanya pergi ke gereja Indonesia di Frankfurt. Jadi kesempatan berinteraksi dengan orang Jerman memang kurang.

Tentu dia mengalami juga hal-hal yang rasanya aneh untuk orang Indonesia yang baru datang di Jerman, tapi sudah biasa di Jerman. Misalnya, jika belanja di supermarket di Indonesia, biasanya kasir atau pegawai lain akan memasukkan barang belanjaan kita ke kantung plastik.

Di Jerman, kasir hanya memindai kode harga, dan mengatakan berapa yang harus dibayar orang yang belanja. Sementara barang belanjaan harus kita masukkan sendiri ke dalam tas atau ke troli, dan secepat mungkin! Jika tidak, orang lain yang sedang mengantre, atau si kasir akan merasa kita menghambat.

Hidup tidak bisa berisi studi saja

Di Jerman, Zerlina merasa dapat kesempatan untuk lebih mendewasakan diri, karena tinggal di sini tanpa keluarga. Namun demikian, dia juga sadar, tidak mungkin hidup sendirian, dalam arti, walaupun sendiri, dia butuh komunitas, dan bagi dia komunitas gereja adalah yang paling penting. Tidak mungkin hidup hanya berisi studi saja.

“Ga bisa cuma di kamar doang, dan memikirkan sendiri kegagalan di laboratorium,” katanya. Untungnya, sekarang ada mahasiswa lain yang baru mulai menuis Ph.D, dan bisa jadi teman “ngobrol” tentang masalah-masalah di laboratorium. Jadi di Jerman dia juga sadar pentingnya punya banyak relasi dan teman.

Tapi menurut Zerlina itu tidak hanya bagus untuk orang Indonesia di Jerman. Ia mengambil contoh profesornya, yang sebenarnya masih relatif muda dan belum punya banyak pengalaman. Tapi dia memimpin proyek-proyek bagus. “Lagi-lagi karena faktor ‘networking’. Dia punya ‘social skill’ yang bagus,” kata Zerlina, sambal menambahkan, “Dia punya proyek dengan Indonesia, Thailand, Amerika, dan sekarang lagi berusaha dengan Prancis.“

Saran Zerlina bagi orang yang ingin berkuliah di Jerman adalah persiapan mental. Menurut Zerlina, keminderan orang Indonesia lebih ke arah pola pikirnya. Jika membandingkan dengan orang Jerman dia merasa, “Orang Jerman salah-bener tabrak aja. Waktu presentasi, harus ‘pede’ aja. Kalau orang Indonesia lebih takut salah. Kalau bertanya dianggap bodoh. Padahal bagi orang Jerman, bertanya berarti mengerti, dan ingin lebih mengerti lagi.” (ml/hp)