Benjamin Netanyahu Ingin Eropa Bersikap Keras Terhadap Iran | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 04.06.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Jerman-Israel

Benjamin Netanyahu Ingin Eropa Bersikap Keras Terhadap Iran

Perdana Menteri Israel datang ke Berlin dalam rangka lawatan ke Eropa. Benjamin Netanyahu ingin mendorong negara-negara Eropa mengambil sikap lebih tegas terhadap Iran.

Benjamin Netanyahu, yang menjabat Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Israel, akan tampil penuh percaya diri setelah mendapat dukungan penuh dari Presiden AS Donald Trump. Dia selama ini mengecam keras kesepakatan atom dengan Iran yang ditandatangani oleh AS dan Eropa tahun 2015. Setelah Trump menjadi presiden AS, Netanyahu berhasil meyakinkannya untuk membatalkan perjanjian itu secara sepihak.

Sekarang, PM Israel ingin meyakinkan negara-negara yang masih berusaha menyelamatkan kesepakatan atom itu di Eropa. Selain ke Berlin, Benjamin Netanyahu juga akan berkunjung ke Paris dan London. Sebelum meninggalkan Israel, dia menegaskan lagi posisi pemerintahannya:

"Israel tidak akan mengijinkan Iran memiliki senjata atom. Tema lain adalah langkah agresif Iran untuk memperluas pengaruhnya di Timur Tengah, terutama di Suriah. Dalam hal ini, saya tetap akan memegang prinsip utama kami: Israel akan mencegah segala usaha Iran untuk hadir secara militer di Suriah."

USA israelischer Ministerpräsident Benjamin Netanyahu besucht den US-Präsidenten Donald Trump (picture-alliance/dpa/AP Photo/E. Vucci)

PM Israel Benjamin Netanyahu (kanan) kini mendapat dukungan penuh dari Presiden AS Donald Trump (kiri)

Militer Iran Harus Keluar dari Suriah

Israel sudah beberapa kali melakukan serangan udara ke Suriah, juga ke sasaran-sasaran yang diduga menjadi markas militer Iran. Beberapa minggu lalu, Israel menuduh Iran turut menembakkan roket dari Suriah ke wilayahnya dan membalas dengan serangan balik. Militer Israel mengatakan, serangan itu adalah pukulan berat terhadap kehadiran militer Iran di Suriah.

Tapi bekas penasehat militer Israel Eran Etzion tidak yakin, Iran benar-benar akan menarik diri dari Suriah. "Itu tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.. Jika tujuan militernya adalah untuk mengusir semua milisi Iran dari Suriah, itu tidak akan tercapai."

PM Israel Benjamin Netanyahu sekarang ingin mencari dukungan diplomatik bagi langkah kerasnya terhadap Iran. Beberapa hari lalu, Menteri Pertahanan Israel datang ke Moskow untuk melakukan pembicaraan. Hampir bersamaan dengan itu, muncul laporan-laporan dari Damaskus bahwa penasehat militer Iran dan kelompok milisi yang didukungnya menarik dari dari daerah perbatasan Suriah-Israel.

Dalam pertemuan dengan Kanselir Jerman Angela Merkel, Benjamin Netanyahu juga akan mendapat dukungan dari Jerman terkait kehadiran militer Iran dari Suriah. Merkel sendiri sudah berulangkali menegaskan, keamanan Israel adalah sebuah kewajiban yang mengikat bagi Jerman.

Perbedaan pandangan soal Palestina

Dalam konflik antara Israel dan Palestina, Berlin punya posisi yang berbeda dengan pemerintahan Netanyahu. Jerman mendukung solusi dua negara dan menganggap pembangunan pemukiman Yahudi di kawasan yang diduduki Israel adalah hambatan utama proses perdamaian. Beberapa hari lalu, pemerintah Israel kembali mengijinkan pembangunan ribuan rumah.

Di Tepi Barat, Jerman dan negara-negara Uni Eropa lain mendukung banyak proyek infrastruktur dengan menyalurkan dana bantuan. Namun beberapa proyek dihentikan atau dibongkar lagi oleh Israel.

Jerman terutama prihatin dengan eskalasi berdarah dalam minggu-minggu terakhir di Jalur Gaza. Tingginya jumlah korban yang tewas menjadi pertanyaan besar, apakah aparat keamanan Israel terlalu mudah melepaskan tembakan mematikan dan tidak menerapkan langkah yang proporsional menghadapi aksi demonstrasi. Sekalipun Benjamin Netanyahu terutama ingin membahas soal ancaman dari Iran, masalah keamanan di Jalur Gaza tetap akan jadi sorotan para pemimpin Eropa.

hp/vlz (ard, dpa)

 

Laporan Pilihan