Bencana Alam di Indonesia tahun 2019 Diprediksi Terus Terjadi | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 01.01.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

BENCANA ALAM

Bencana Alam di Indonesia tahun 2019 Diprediksi Terus Terjadi

Tahun 2019 bencana alam seperti angin puting beliung, banjir, longsor, gempa, dan tsunami diperkirakan masih akan sering terjadi. Masyarakat diimbau turut serta dalam mitigasi bencana dengan aktif mengakses informasi.

Sepanjang tahun 2018, terjadi lebih dari 2564 bencana alam di Indonesia. Dampaknya lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut laporan yang diliris Badan Nasional Penanggulangan Bencana-BNPB  Senin(31/12), trend bencana 2018 masih didominasi oleh angin puting beliung (799 kasus), banjir (677 kasus), dan longsor (472 kasus).

Ketiga bencana tersebut kerap disebut bencana hidrometeorologi dan menyumbang 97 persen dari total bencana alam keseluruhan. Tiga persen sisanya adalah bencana geologis. Meski begitu, bencana geologis berdampak lebih besar, terutama bencana geologis yang dipicu Tsunami  dan gempa bumi.

Prediksi bencana hidrometeorologi

Diperkirakan pada tahun 2019 ini, bencana hidrometeorogi  masih mendominasi 95 persen dari total bencana keseluruhan. Hal ini disebabkan oleh luasnya kerusakan daerah aliran sungai(DAS), lahan kritis, kerusakan hutan, kerusakan lingkungan, dan perubahan penggunaan lahan. BNPB melaporkan sekitar 110.000 hektar lahan pertanian berubah menjadi lahan non pertanian sedang lahan kritis mencapai 14 juta hektar.

Tidak ada potensi  El Nino dan La Nina yang menguat, musim akan berjalan seperti normal baik musim penghujan juga musim kemarau. Puncak musim penghujan adalah Januari 2019, dengan potensi tinggi banjir besar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Nusa Tenggara.

Prediksi Bencana Geologis di tahun 2019

Gempa juga dipredisksi akan terjadi sepanjang tahun 2019. BNPB memperkirakan sekitar 500 gempa akan terjadi setiap bulannya di Indonesia. Ini berkaitan dengan posisi geologis Indoensia yang beradas di kawasan Cincin Api Pasifik dan pertemuan beberapa lempeng tektonik. Sejauh ini gempa bumi belum dapat diprediksi secara pasti dimana dan kapan akan terjadi. Namun ditekankan, Indonesia bagian timur perlu mewaspadai gempa karena kondisi geologisnya yang tergolong rumit.

Potensi tsunami disebutkan, tergantung pada gempa dan lokasi episentrumnya. Jika terjadi gempa berskala 7 SR atau lebih, dengan episentrum di kawasan laut atau samudra, maka potensi tsunami patut diwaspadai.

Hampir seluruh tsunami diawali atau dipicu gempa kuat. Namun Tsunami Selat Sunda disebabkan oleh longsoran material yang dipicu Erupsi Gunung Anak Krakatau. Erupsi ini tidaklah memicu monitor gempa secara signifikan.

‘'Alat monitoring ombak laut untuk mendeteksi tsunami tidak dipicu atau diaktifkan oleh kejadian non-gempa,'' jelas Muhamad Sadly, kepala Geofisika BMKG. Alhasil, saat tsunami terjadi di Selat Sunda, tidak ada sirine yang berbunyi sebagai peringatan bahaya. 

‘'Riset lebih lanjut diperlukan untuk memahami kejadian yang tidak dapat di prediksi seperti ini,'' ujar Stephen Hicks, pakar seismologi dari University of Southampton.

Selain gempa, bencana geologis disebabkan erupsi Gunung Api pun akan berlanjut. Dari 127 gunung api di Indonesia terdapat satu gunung berstatus awas atau dalam keadaan kritis yang dapat menimbulkan bencana, yaitu Gunung Sinabung dan 4 gunung berstatus siaga, yang secara visual mengalami aktivitas seismik atau nampak dari aktivitas kawahnya, yaitu : gunung Soputan, Gunung Anak Krakatau, Gunung Karangetang, dan Gunung Agung.

Minggu (30/12) lalu terjadi erupsi di gunung Agung, selain abu vulkanik, para warga serta turis diimbau untuk berhati-hati akan lava dingin yang mengalir dari puncak gunung dalam bentuk lumpur atau batuan. Gunung Agung terletak 70 km dari Bandara Ngurah Rai ini. Erupsi terakhir Gunung Agung di Tahun 1963 menewaskan sekitar 1600 jiwa.

Antisipasi Bencana

Mitigasi bencana atau rangkaian pengurangan risiko bencana bisa dilakukan dengan dua hal, yakni dengan pembangunan struktural maupun non struktural. Pembangunan struktural dimulai dengan pembangunan konstruksi tahan gempa, sistem peringatan dini, shelter tsunami, sumur resapan, bendungan, dan lainnya. Sedangkan pembangunan non struktural dimulai melalui lembaga, legislasi, penataan ruang, sosialisasi, diklat, penelitian, dan lainnya.

Terkait dengan Tsunami Selat Sunda, pelampung daris sistem peringatan dini yang terhubung dengan sensor ke dasar laut sudah tidak berfungsi sejak 2012. Penyebabnya karena vandalisme, ditelantarkan, dan kurangnya anggaran publik untuk pemeliharaan. ‘'Kurangnya sistem peringatan dini adalah penyebab tsunami tidak terdeteksi,'' Ujar Sutopo Nugroho, Kepala pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat di BNPB. Dari 1000 sirene Tsunami di seluruh Indonesia, hanya 56 yang masih berada pada tempatnya.

 Jumlah akses masyarakat untuk membuka website peringatan dini dalam satu minggunya masih tergolong rendah. Hasil poling yang dirilis BNPB menunjukkan 70 persen tidak tahu bahkan tidak pernah mengakses informasi bencana. Masyarakat dapat membantu mengantisipasi bencana dengan meningkatkan budaya sadar bencana.

Budaya sadar bencana dibangun dengan meningkatkan pengetahuan akan ancaman dan potensi bencana, rencana tanggap darurat, responsif terhadap peringatan dini, serta meningkatkan mobilisasi. Hal ini dapat dilakukan dengan aktif mengakses informasi terkait bencana pada website seperti magma.vsi.esdm.go.id, bmkg.go.id, dan bnpb.go.id hingga mensosialisasikan informasi kepada warga sekitar tak hanya lewat IPTEK tetapi juga lewat kearifan lokal.

Tonton video 07:50
Live
07:50 menit

Satelit Kembar Monitor Potensi Bencana di Bumi

 

slc/as (BNPB, ESDM, Reuters, AFP)

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait