Benarkah PLTA Batang Toru Tidak Mengancam Habitat Orangutan Tapanuli? | IPTEK: Laporan seputar sains dan teknologi dan lingkungan | DW | 18.07.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Konservasi

Benarkah PLTA Batang Toru Tidak Mengancam Habitat Orangutan Tapanuli?

PT. NHSE yang membangun PLTA di ekosistem Batang Toru mengaku memiliki program konservasi orangutan Tapanuli. Namun Walhi menilai perusahaan gagal memahami ancaman pembangunan terhadap keutuhan ruang hidup satwa lokal

Orangutan Tapanuli dengan bayi kembar yang ditemukan di ekosistem Batang Toru

Orangutan Tapanuli dengan bayi kembar yang ditemukan di ekosistem Batang Toru

Apakah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air di lembah Sungai Batang Toru mengancam habitat orangutan Tapanuli? PT. North Sumatera Hydro Energy (NHSE) yang sedang membangun bendungan di kawasan lindung itu mengklaim sebaliknya.

Keberadaan PLTA Batang Toru awalnya sempat menyita perhatian pegiat lingkungan menyusul penemuan spesies orangutan Tapanuli 2017 silam yang langsung dinyatakan terancam punah lantaran jumlah populasinya yang tak lebih dari 800 individu. Namun jika merujuk pada klaim  PT. NHSE, keberadaan PLTA justru akan berdampak positif.

"Kesuksesan pembangkitan listrik PLTA sangat dipengaruhi keberlanjutan ekosistem," tulis Myrna Soeryo dari A+ PR Consultant yang mewakili NHSE. "Kebijakan perusahaan sangat mementingkan kelestarian ekosistem di dalam dan di sekitar lahan proyek PLTA Batang Toru," imbuhnya lagi. Terlebih menurutnya luasan proyek PLTA tidak lebih dari 0,46% dari luas hutan Batang Toru dan akan mengecil sewaktu PLTA dioperasikan.

Lebih lanjut Myrna mengklaim proyek PLTA merupakan bagian dari program kelistrikan nasional. Pihak perusahaan juga "mendukung perumusan dan penetapan kebijakan pemerintah mengenai pengelolaan ekosistem Batangtoru secara terpadu, tentunya dengan memperhatikan habitat Orangutan Tapanuli."

Klaim tersebut merupakan bagian dari hak jawab yang dilayangkan PT. NHSE atas pemberitaan Deutsche Welle, Penemuan Bayi kembar Orangutan Tapanuli soroti Ancaman Pembangunan PLTA. Untuk itu pihak manajemen PT. NHSE mengutus perusahaan marketing asal Jakarta, A+, untuk meluruskan laporan tersebut.

Walhi: PT. NHSE Salah Kaprah

Namun klaim PT. NHSE terkait konsep ramah lingkungan PLTA Batang Toru dibantah Wahana Lingkungan Hidup. Dana Tarigan, Direktur Eksekutif Walhi Sumatera Utara, menilai pihak perusahaan "keliru" jika menganggap proyek tersebut tidak mengancam orangutan Tapanuli. 

"Mereka salah kaprah jika menganggap dengan tidak membuka hutan secara luas, berarti tidak menghancurkan habitat orangutan. Mereka tidak faham bahwa pembangunan jalan membelah habitat orangutan di cagar alam Sibualbuali," ujarnya kepada DW ketika menanggapi surat bantahan PT. NHSE. Tidak hanya jalan, Walhi menilai pembangunan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) juga akan membelah habitat orangutan.

Tonton video 01:03

Orangutan Melawan Buldozer

"Jadi orangutan ini akan binasa karena tidak bisa berinteraksi dengan lainnya. Karena ruang hidupnya semakin sempit dan terisolasi, mereka akan kawin satu marga, akhirnya orangutan ini tidak lagi produktif."

Kekhawatiran pegiat lingkungan bukan tidak dipertimbangkan pihak perusahaan. Dalam surat bantahannya, PT. NHSE mengatakan sedang menjalin kerjasama dengan Institut Pertanian Bogor dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumut untuk mengembangkan proyek penelitian dan konservasi orangutan. Pengelola PLTA juga berniat membangun stasiun informasi konservasi bernama "House of Pongo Tapanuli."

Namun Walhi tetap bergeming. Terutama program relokasi orangutan yang dilakukan PT. NHSE ketika pembukaan lahan dinilai melucuti klaim perusahaan dengan sendirinya. "Kalau mereka bilang tidak mengisolasi, kenapa mereka menjalankan program pengusiran orangutan dari habitatnya, atau relokasi ke habitat yang lebih luas? Mereka mengusir dengan bunyi-bunyian dan suara tembakan. Mereka lupa bahwa orangutan tidak bisa pindah."

Listrik Untuk Siapa?

Pembangunan PLTA Batang Toru dimulai sejak 2017 silam dan baru akan tuntas pada 2022. Secara teknis, pembangkit yang nanti akan memiliki kapasitas produksi sebesar 510 MW/tahun ini didesain sebagai pemikul beban puncak listrik dan hanya akan beroperasi saat terjadi puncak kebutuhan listrik.

Kebutuhan terhadap pembangkit baru dipastikan berdasarkan proyeksi kebutuhan listrik di masa depan. Karena saat ini PLN melaporkan kondisi kelistrikan di Sumatera Utara sedang mengalami surplus dengan cadangan daya hingga 20% dari kondisi beban puncak. Terlebih tahun lalu pemerintah baru meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Sarulla yang berkapasitas total 110 Mega Watt dan diklaim sebagai salah satu PLTPB paling besar di dunia.

PLTPB Sarulla berjarak tidak lebih dari 100 kilometer dari lokasi pembangunan PLTA.

Sebab itu Walhi menilai pembangunan PLTA Batang Toru terkait dengan aktivitas pertambangan emas yang saat ini merupakan salah satu konsumen listrik terbesar di Tapanuli Selatan. Di kawasan tersebut sebuah perusahaan asal Hong Kong, G-Resources, mengoperasikan tambang emas Martebe dan dilaporkan sedang merencanakan ekspansi.

Pasalnya Batang Toru menyimpan cadangan emas dalam jumlah besar. Pengeboran dangkal yang dilakukan G-Resources mengungkap tujuh titik cebakan dengan total cadangan yang ditaksir mencapai 7,86 juta ounce emas dan 73,48 juta ounce perak. Saat ini PT Agincourt Resources yang mengelola tambang Martabe di Batang Toru tercatat sebagai pelanggan premium PLN dengan dengan total kapasitas 30,1 MVA.

Saat dihubungi, Jaringan Advokasi Tambang, JATAM, belum bisa memastikan adanya rencana ekspansi tambang emas di Batang Toru. Namun begitu Walhi tetap meyakini penambahan kapasitas produksi listrik berkaitan dengan potensi pertambangan yang ada di sana. "Dugaan kita saat ini PLTA itu dibangun buat memfasilitasi perusahaan tambang," pungkas Dana.

 

 

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait