Belum Ada Solusi Untuk Sudan | Fokus | DW | 09.03.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Belum Ada Solusi Untuk Sudan

Di Brussel, para pemimpin UE kesulitan mencari solusi untuk krisis di Darfur.

Pengungsi di Sudan

Pengungsi di Sudan

Pemerintah Sudan menyangkal adanya milisi Islam yang melakukan pengusiran dan kekerasan terhadap masyarakat sipil di wilayah Darfur. Sementara, menurut data PBB dan negara-negara Barat, dalam tiga tahun terakhir sekitar dua sampai tiga juta orang mengungsi dari sana.

Diperkirakan, ratusan ribu orang terbunuh. Usai pertemuan, Ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Javier Solana menegaskan, bahwa situasi di Darfur tidak bisa didiamkan.

Javier Solana: "Kita tidak bisa membiarkan krisis ini terus berlangsung. Kami telah berjanji untuk memberi dukungan bagi Uni Afrika.“

Saat ini Uni Afrika telah menempatkan 7.000 serdadu yang bertugas mengawasi perdamaian di Darfur. Namun mandat pasukan ini melarang mereka untuk bertindak pro-aktif. Selama ini, pasukan Uni Afrika mendapat bantuan dana dan logistik dari Uni Eropa.

Namun sekarang, Uni Eropa dan Amerika Serikat mendesak agar pasukan Uni Afrika diganti dengan misi perdamaian PBB, yang perlengkapan senjatanya lebih baik. Ketua Komisi Uni Afrika Alpha Omar Konare juga telah mengatakan bahwa dalam masalah Sudan, pada prinsipnya Uni Afrika bersedia untuk membangun hubungan kemitraan dengan PBB.

Alpha Konare: "Di perundingan itu, kami akan mencari jalan untuk mengakhiri Konflik. Saya yakin, bahwa dengan PBB kami akan menemukan jalan, yang bisa diterima oleh Uni Afrika dan juga Sudan.“

Namun bersamaan dengan pertemuan di Brussel ini, di Khartum ribuan warga turun ke jalan menolak kehadiran orang asing di negaranya. Sementara, tentara Sudan juga berkeliling kota, menyerukan perang suci.

Melihat perkembangan di Sudan, Uni Afrika menunjukkan keraguan untuk melibatkan PBB lebuh jauh. Kekhawatiran yang sama diutarakan Jan Pronk, Utusan Khusus PBB untuk Sudan. Walaupun begitu, komisi kemanan Uni Afrika akan berunding Jumat (10/03) di Ethiopia untuk menentukan langkah selanjutnya.

Sementara itu, di pihak PBB tidak ada kejelasan. Dewan Keamanan belum bisa menyepakati sanksi yang dapat dijatuhkan terhadap Sudan. Rusia dan Cina, serta anggota Dewan Keamanan tidak tetap, seperti Qatar, menentang pemberlakuan sanksi.

Juga masih diragukan, apakah Sekjen PBB Kofi Annan bisa mendapat dukungan cukup untuk menempatkan pasukan perdamaian di Sudan. Kalangan diplomat Uni Eropa menilai, masih dibutuhkan beberapa bulan untuk mencapai solusi politik. Di pihak lain, korban berjatuhan setiap hari di Darfur.