Belgia Dikejutkan Pembunuhan Rasial | Fokus | DW | 12.05.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Belgia Dikejutkan Pembunuhan Rasial

Dua orang tewas di tangan pemuda berusia 18 tahun, dan seorang lainnya luka parah. Tindakan di tempat terbuka pada siang hari Kamis (11/5) kemarin itu nampaknya bermotifkan rasisme.

Walikota Antwerpen Patrick Janssens terpana bingung dengan peristiwa tembakan maut di kotanya.

"Saya shock, bahwa ada orang yang siang hari bolong dapat ke toko membeli senjata, kemudian keluar dan langsung melepaskan tembakan ke arah orang yang dipilih karena warna kulitnya. Ini sangat mengerikan dan tidak dapat dibiarkan begitu saja."

Banyak warga Belgia juga sama terkejutnya. Sebab proses kejadiannya sulit dibayangkan. Seorang pemuda dengan senjata kaliber besar berjalan di pusat kota yang ramai lalu melepaskan tembakan. Korban pertama, seorang perempuan Turki yang sedang duduk membaca. Dalam keadaan luka parah ia kemudian diangkut ke rumah sakit. Dan pelakunya, seorang 'skinhead' berusia 18 tahun, melanjutkan tindakannya. Ia melihat seorang perempuan berkulit hitam yang sedang menjaga anak kecil berkulit putih. Pemuda itu menembak mati keduanya.

Para saksi mata mengatakan, si pelaku bersikap sangat tenang. Seorang polisi yang kebetulan lewat, kemudian mengakhiri tindakan keji itu. Ia menuntut si penembak agar menyerahkan diri. Ketika si pemuda melakukan gerakan yang mencurigakan, polisi itu menembaknya. Pemuda tersebut luka parah dan sampai sekarang belum dapat diperiksa.

Sekilas tindakan itu menimbulkan tanda tanya. Tetapi menurut pihak kejaksaan, cukuran rambut pemuda itu dan simbol-simbol yang dipakainya menunjukkan adanya kaitan dengan kelompok ekstrem kanan. Jadi bagi PM Guy Verhofstadt yang juga terlihat sangat terpukul, masalahnya sudah jelas. Dikatakannya:

"Tindakan kejam itu adalah satu bentuk rasisme yang ekstrem. Kini tiap orang benar-benar harus menyadari ke mana buah pikiran ekstrem kanan itu mengarah."

Kota pelabuhan Belgia, Antwerpen, adalah kubu dari kelompok ekstrem kanan 'Flams Belang' atau "Kepentingan Flams". Dalam pemilu terakhir di tingkat kotapraja, partai itu meraih sepertiga suara. Dan di kota Antwerpen, yang jumlah warga asingnya cukup besar, sering terjadi bentrokan kekerasan. Pemerintah mengkhawatirkan terjadinya kerusuhan baru. Oleh sebab itu PM Verhofstadt mengimbau agar masyarakat bersikap tenang dan mawas diri.

"Kita harus mencegah bahwa perputaran spiral kekerasan dan kebencian akan bertambah besar. Masyarakat Belgia selama ini selalu toleran, dan itu harus dipertahankan."

Baru seminggu yang lalu, kejahatan rasial di kota Brugge menjadi topik berita hangat di Belgia. Seorang warga Perancis berkulit hitam dan seorang temannya warga Belgia, juga menjadi korban serangan kelompok 'skinheads' dan luka parah. Akhir pekan ini di Brugge akan diselenggarakan demonstrasi menentang rasisme dan kebencian terhadap orang asing.