Lilli, Jonas, dan Salat: Belajar Toleransi dari Anak-anak Jerman | BLOG: Eropa menurut warga Indonesia dan Indonesia di mata warga Eropa | DW | 17.04.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

BLOG

Lilli, Jonas, dan Salat: Belajar Toleransi dari Anak-anak Jerman

Anak-anak adalah cermin paling bersih, murni, dan jujur. Pada diri anak-anak, kita akan bisa berkaca dan melihat bagaimana diri kita sebenarnya. Oleh Nurlaelan Puji Jagad.

Gambar ilustrasi anak

Gambar ilustrasi anak

Hampir satu tahun saya menjalani hidup sebagai seorang Aupair-Mädchen di sebuah kota kecil di Jerman. Saya, sebagai perempuan muslim berkerudung yang tinggal di sebuah keluarga nonmuslim, tentu dihadapkan dengan banyak sekali perbedaan, baik dari segi agama, budaya, makanan, cara berpakaian, sudut pandang, dll. Sehingga tidak mengherankan anak-anak yang saya asuh terus menghujani dengan banyak pertanyaan sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah mereka.

Dari persoalan mengapa saya berkerudung, mengapa saya tidak makan daging babi, mengapa saya berpuasa, mengapa saya salat, dll. Sepanjang waktu berjalan saya mencoba menjawab pelan-pelan pertanyaan-pertanyaan kritis dari anak berusia 4 dan 6 tahun tersebut.

“Warum betest du?” (Mengapa kamu salat?) Itulah pertanyaan pertama yang meluncur ketika mereka tahu bahwa saya harus salat lima kali sehari. Tentu ini adalah hal yang sangat baru bagi mereka. 
“Was ist das, Ela?” (Itu apa Ela?)
“Mukena. Pakaian untuk salat.”
“Was hast du gemacht?” (Kamu ngapain?)
“Salat.”
“Haste mit Gott besprochen?” (Kamu habis bicara sama Tuhan?)
“Iya.”
“Welche Sprache hast du gesprochen?” (Kamu bicara pakai bahasa apa?)
“Bahasa Arab.”
“Hat Gott verstanden?” (Apakah Tuhan mengerti?)
“Tentu. Tuhan mengerti semua bahasa.”

Penulis blog, Nurlaelan Puji Jagad

Nurlaelan Puji Jagad

Itulah secuplik percakapan dengan anak-anak ketika pertama kali melihat saya salat. Mereka sering sekali mengintip selama saya salat. Tidak sekali juga mereka sengaja memukul apa pun untuk menimbulkan kegaduhan. Berteriak memanggil-manggil nama saya sembari mengajak berbicara apa saja. Bahkan mereka pernah masuk ke dalam mukena yang saya kenakan dan melipat sajadah yang tergelar. Itulah gambaran drama selama mengerjakan salat pada tiga bulan pertama. Saya tidak memarahi atau pun menegur, karena saya mengerti bahwa anak-anak belum mengerti dan membutuhkan proses untuk mencerna hal-hal yang sangat baru dalam hidup mereka. 

Memasuki bulan kesebelas menghabiskan hidup bersama mereka, saya merasakan banyak keajaiban yang membuat hati terasa hangat. Tidak jarang malah mereka mengingatkan saya untuk salat. Pernah suatu hari selepas pulang dari sekolah dan Kindergarten mereka langsung mencari-cari saya dan bertanya, “Ela, haste gebetet?” (Ela, kamu udah salat?) Ketika mendengar telepon genggam saya berbunyi, entah itu alarm shalat, telepon, atau notifikasi whatsapp, mereka akan langsung memanggil, “Elaaaa, waktunya salaaaat.” Hati saya tersenyum.

Pernah suatu hari kami bertiga mengunjungi rumah nenek. Memasuki waktu ashar saya beranjak salat tanpa memberi tahu anak-anak. Ketika nenek mencari saya, anak-anak ternyata menjelaskan dengan sangat baik. 

“Ela betet gerade. Sie muss fünf Mal pro Tage beten und sie braucht einen ruhigen Platz.” (Ela sedang salat. Dia harus salat 5 kali sehari dan butuh tempat yang tenang) Hati saya meleleh. Anak-anak mengamati dan merekam semuanya. Anak-anak telah belajar.

Pada kali yang lain ketika saya menjemput si bungsu dari sekolah musik, dia tidak ingin langsung pulang dan memutuskan bermain di taman bermain. Saya menemaninya hampir setengah jam dan waktu salat ashar sebentar lagi habis. Saya membujuknya untuk pulang tetapi dia ingin lebih lama lagi. Saya menjelaskan padanya bahwa saya mau salat. Dengan polosnya dia menunjuk lapangan terbuka dan menawarkan saya untuk salat di sana. Saya menolak dan membujuknya sekali lagi dan menjelaskan bahwa saya sudah sangat terlambat untuk salat. Meski dengan bersungut-sungut si bungsu mengikuti keinginan saya untuk pulang, secara tidak sadar dia sudah belajar mengedepankan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri.

Pada saat makan malam bersama-sama tiba-tiba handphone saya berbunyi. 
“Salat?” tanya si bungsu 4 tahun.
“Iya.”
“Sssst….leise! Ela möchte beten" ("Sssst....Jangan berisik. Ela mau salat), si bungsu menegur kakak dan orang tuanya. Orang tuanya tersenyum dan bahagia karena anak-anaknya telah belajar. 

Ilustrasi anak-anak bermain air

Menyertai Lilli dan Jonas bermain di dekat danau

Pada waktu yang lain selepas salat si bungsu yang sedang makan bertanya, “Ela, tadi aku makannya pelan-pelan. Apakah suara sendokku mengganggu salatmu?” Kalimat itu tentu membuat saya berkaca-kaca jika mengingat bagaimana dulu mereka dengan sengaja membuat keributan untuk mengganggu salat saya. Kini anak-anak telah belajar. 

Berinteraksi dengan anak-anak dibutuhkan energi yang besar dan kasih sayang yang luas sepanjang masa. Perbedaan dunia orang dewasa dan anak-anak sering memicu pertikaian. Anak-anak tidak mengerti dunia orang dewasa dan ironisnya orang dewasa pun tidak mengerti dunia anak-anak padahal dulu mereka pernah menjadi anak-anak. Kita, orang dewasa, lupa bahwa kita pernah menjadi anak-anak. Salah satu kesalahan terbesar orang dewasa adalah sering kali kita menggunakan sudut pandang orang dewasa ketika berinteraksi dengan mereka.

Kita menuntut anak-anak untuk memahami konsep kehidupan yang kompleks yang sebenarnya tanpa kita paksa pun mereka akan belajar sendiri secara alamiah. Seperti yang pernah dikatakan Linda dan Richard Eye bahwa memaksa anak mencari sendiri nilai-nilai sama dengan menaruh anak dalam perahu tanpa kayuh dan tali di sungai deras berjeram dalam tempat orang tua pun banyak tenggelam.

Seharusnya orang dewasa harus menunduk lebih rendah lagi dan menyelami kembali dunia anak-anak yang penuh dengan pembelajaran-pembelajaran hidup. Pada diri anak-anak kita akan bisa berkaca dan melihat bagaimana diri kita sebenarnya karena anak-anak adalah cermin paling bersih, murni, dan jujur. Terima kasih Lilli dan Jonas sudah memberikan ruang untuk kita sama-sama belajar. Kelak kita akan mengenang kembali tentang hari ini. (ml)
 

* Ela, begitu sapaan akrabnya, sekarang sedang menjalani program Bundesfreiwilligendienst bei Leben mit Behinderung (bekerja sukarela di lembaga orang-orang berkebutuhan khusus) di Hamburg. Selain bekerja Ela mengisi hari-harinya dengan membaca buku, menulis puisi, dan podcasting. 

**DWNesiaBlog menerima kiriman blog tentang pengalaman unik Anda ketika berada di Jerman atau Eropa. Atau untuk orang Jerman, pengalaman unik di Indonesia. Kirimkan tulisan Anda lewat mail ke: dwnesiablog@dw.com. Sertakan 1 foto profil dan dua atau lebih foto untuk ilustrasi. Foto-foto yang dikirim adalah foto buatan sendiri.