Bekerja Sebagai Au Pair di Jerman | Sosial | DW | 08.07.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Sosial

Bekerja Sebagai Au Pair di Jerman

Banyak pemuda Indonesia yang menimba pengalaman sebagai Au Pair di Jerman. Saat ini sekitar 200 warga Indonesia bekerja sebagai Au Pair.

Au Pair juga membantu pekerjaan rumah tangga

Au Pair juga membantu pekerjaan rumah tangga

Au Pair artinya saling membantu. Siapa yang bekerja sebagai Au Pair harus bersedia membantu kegiatan rumah tangga di keluarga Jerman dan mengurus anak-anaknya. Sebagai imbalan para Au Pair ini dapat tinggal dan makan tanpa bayar dan memperoleh uang saku. Jeri Mila dan Lilit sudah beberapa bulan berada di Jerman.

Mila berasal dari Medan. Menjelang ujian akhir S-1 nya, ia melamar sebagai Au Pair di Jerman

“Karena saya kuliah Bahasa Jerman kami sudah dapat informasi dari senior senior sebelumnya – mereka sudah pernah menjadi aupair, maka informasi itu mudah untuk kami dan saya fikir saya juga ingin menjadi aupair karena bisa lebih cepat memperbaiki bahasa. Teman saya dia menghubungi agen di Freiburg terus teman saya yang mengurusnya di agentur yang ada di Freiburg, dan akhirnya saya menunggu sampai mendapatkan keluarga yang menginginkan saya menjadi aupairnya.”

Menurut peraturan yang berlaku di Jerman, syarat bekerja sebagai Au Pair usianya tidak boleh kurang dari 18 tahun dan maksimal berumur 25 tahun. Belum mempunyai anak dan memiliki kesehatan yang baik. Selain itu mereka harus memiliki ijazah penguasaan Bahasa Jerman tingkat dasar. Jika semua syarat ini terpenuhi terbuka kesempatan mengikuti program Au Pair. Meskipun demikian keluarga Jerman yang mencari tenaga Au Pair umumnya mengutamakan pelamar yang memiliki pengalaman di bidang rumah tangga dan mengurus anak.

Setiap Au Pair memiliki waktu kerja 30 jam dalam satu minggu. Sebagai imbalan pihak keluarga Jerman menanggung sejumlah biaya

Mila: “Mereka harus menyediakan tempat tinggal tentunya, terus mereka harus membayar uang saku, perbulanya duaratus enampuluh Euro. Kemudian mereka harus membayar asuransi kesehatan perbulanya, kemudian harus membayar uang kursus sendiri. Kalau ingin kursus mereka harus membayar dengan uangnya sendiri. Karena jumlah uang saku terbatas dan biaya kursus bahasa Jerman sangat mahal, kebanyakan Au Pair mencari kerja sambilan sebagai baby sitter pada keluarga lain.”

Hal yang sebetulnya melanggar peraturan, seperti yang disampaikan Mila

“Kita harus bekerja cuman dengan keluarga . Kalau memang seperti itu berarti kita bekerja gelap, dan itu tidak boleh. Kalau ketahuan oleh pihak imigrasi, yang mengurusi masalah visa kita yang ada di jerman mungkin kita bisa dideportasi.”

Bagaimana dengan ongkos pesawat? Mengingat harga tiket pesawat pulang pergi Indonesia ke Jerman juga cukup mahal, sekitar 850 Euro atau kira-kira 10 juta rupiah. Sejumlah keluarga penerima Au Pair sejak awal sudah menyanggupi membayari separuh harga tiket tersebut dan sisanya dipotong dari uang saku bulanan Au Pair tersebut. Saat ini hampir semua pelamar Au Pair adalah perempuan yang disebut Au Pair Mädchen. Pria Au Pair yang disebut Au Pair Junge sangat jarang. Salah satunya Jeri dari Bukittinggi. Bagi keluarga penerima Jeri, memiliki Au Pair-Junge atau Au Pair pria adalah pengalaman baru

“Mereka ada keraguan apa Au pair-Junge bisa sebagus Au pair- Mädchen. Lalu waktu saya sampai di sini saya dibawa ke sekolah, terus saya bertemu dengan guru-guru anak saya terus mereka bilang “Ini aupair Junge saya dari Indonesia” terus mereka kaget “Oh ya? Ada aupair-Junge?” Terus setelah kita jalan-jalan, keluarga ini bilang sama saya, ternyata Au Pair-Junge ini tidak seperti disangka orang. Ternyata Au Pair-Junge ini justru lebih bagus. Buktinya sekarang mereka mencari Au Pair- Junge lagi.”

Jeri boleh dibilang memiliki pengalaman positif. Tidak semua rekan Au Pairnya beruntung memiliki keluarga yang baik seperti Jeri

“Jujur ya, aku kan punya banyak teman yang aupair di Jerman. Tapi banyak yang disalahgunakan sama keluarga gitu.”

Lilit seorang Au Pair Mädchen dari Malang menceritakan pengalaman buruk seorang teman perempuannya

“Masalahnya banyak sekali karena dia harus bekerja satu minggu dari Senin sampai hari Sabtu waktu dari jam delapan sampai jam lima sore. Bagi saya ini sangat buruk sekali, karena keluarga memberlakukan dia sangat tidak baik. Dia harus bekerja banyak, menyiapkan makan pagi, makan malam, makan siang, membersihkan rumah dengan anak, dan dari itu dia untuk ukuran aupair dia sangat melebihi kontrak.”

Situasi seperti itu sangat sulit terutama bagi Au Pair yang datang ke Jerman tanpa penyaluran sebuah agen. Karena mereka tidak memiliki kesempatan menuntut hak yang tertera dalam kontrak kerja. Terlebih jika bila Au Pair ingin pindah keluarga

Lilit: “Tapi untuk langsung keluar itu tidak bisa karena untuk Aupair kita mempunyai visa, visa aupair jadi kalau misalkan kita ada masalah dengan famili, kita harus mencari keluarga baru. Karena visa kita visa Au Pair. Kalau misalkan langsung pergi tidak bisa.”

Pada dasarnya masalah dengan keluarga penerima tidak perlu terjadi. Demikian dikatakan Jeri. Menurut pria yang bekerja sebagai Au Pair Junge ini, sebagian besar masalah timbul akibat komunikasi yang tidak lancar

“Orang Indonesia itu atau orang asia, mereka itu malu atau takut untuk mengungkapkan apa yang mereka inginkan. Jadi entah apa terjadi miskomunikasi sama keluarga pendukung mereka disini.”

Mila juga membenarkan pendapat tersebut. Keterbukaan dengan keluarga penerima merupakan kunci utama hubungan harmonis selama bekerja sebagai Au Pair

“Tidak ada masalah asal memang kita terbuka satu sama lain sebelumnya. Saya tidak makan makanan yang tidak dibolehkan dalam Islam. Saya sudah jelaskan sama mereka, dan saya juga jelaskan dari awal saya pakai Jilbab. Saya fikir kalau memang mereka ingin menerima saya sebagai aupair mereka harus siap. Dan syukurlah tidak punya masalah, karena saya sudah menjelaskan dari awal itu. Dan ini memang penting menjelaskan dari awal kepada mereka apa yang boleh dimakan, dan apa yang tidak. Dan bahwa kita ingin punya waktu untuk sholat. Itu memang harus dijelaskan sejak awal agar mereka mengerti.”

Siapa yang bekerja sebagai Au Pair boleh tinggal paling lama satu tahun di Jerman. Saat ini Mila sudah pulang ke Indonesia karena masa kerjanya habis, tapi ia akan datang lagi ke Jerman

“Ya karena kebetulan saya sudah menikah, dan suami saya orang jerman. Ya kalau sudah selasai kuliah saya akan balik lagi ke jerman untuk tinggal sama suami saya disini tentunya.”